Alga berdiri di samping jenazah Pak Sutejo, dan untuk waktu yang lama, ia tidak bisa bergerak.
Lelaki tua itu terbaring tenang, wajahnya kelabu, mulutnya sedikit terbuka. Tangannya keriput, penuh bercak usia, tangan yang mungkin pernah menggendong cucu, pernah bekerja keras seumur hidup. Dan ia mati sendirian, di sudut bay yang terlupakan, sementara Alga sibuk di ujung lain ruangan menyelamatkan orang lain.
"Saya bisa menyelamatkannya," gumam Alga. Suaranya hampa. "Kalau saya ke sini lebih awal. Kalau saya tidak—"
"Berhenti." Renjana sudah berdiri di sisinya, wajah lelah berlumur darah orang lain. "Jangan kamu lakukan ini pada dirimu."
"Saya lihat dia tadi, Dok. Saya lihat. Saya pikir nanti, setelah Pak Rusdi—" Alga menutup wajah dengan tangan yang masih berbau lateks dan darah. "Bukan kita yang berhak memilih siapa hidup. Itu yang Dokter ajarkan ke saya. Tapi malam ini saya memilih. Saya pilih Pak Rusdi. Saya tinggalkan Pak Sutejo. Dan dia mati."
Renjana mencengkeram bahu Alga, keras, memutarnya agar menatap mata. "Dengar saya. Ada dua tangan di tubuhmu. Dua. Malam ini ada empat puluh korban dan enam dokter. Kamu tidak meninggalkan dia. Kamu menyelamatkan yang bisa kamu jangkau. Itu yang dilakukan dokter. Itu yang harus kamu terima, atau kamu tidak akan bertahan setahun di pekerjaan ini."
Tapi Alga tidak bisa menerima. Sepanjang sisa malam, wajah Pak Sutejo menghantuinya. Ia menulis laporan dengan tangan kaku, hatinya seperti dipenuhi timah. Satu lagi nama untuk daftar pasien yang gagal ia selamatkan. Satu lagi hantu.
Pagi harinya, Sekar mendatanginya dengan wajah aneh. Ia membawa papan catatan pemberian obat malam itu—catatan infus dan injeksi semua pasien bay tiga.
"Dok," kata Sekar pelan, "saya semalaman tidak bisa tidur. Saya cek ulang ini. Pak Sutejo. Sesak napas, ya, tapi kalau cuma sesak biasa pada lansia, harusnya stabil beberapa jam dengan oksigen. Dia tidak harusnya mati secepat itu." Sekar membuka halaman. "Lihat. Ada injeksi yang dicatat masuk pukul 23.15. Lima belas menit sebelum dia dinyatakan meninggal."
Alga menatap baris itu. Tulisan tangan yang asing. Obat yang tertulis: "diazepam 10 mg IV". Sedatif. Penekan napas.
Darahnya membeku. "Siapa yang menulis ini? Pasien sesak napas tidak diberi sedatif dosis tinggi. Itu... itu membunuhnya. Itu menekan napasnya sampai berhenti."
"Tidak ada nama dokter yang resepkan," kata Sekar. "Cuma paraf. Dan parafnya—" ia menunjuk, "—bukan punya saya, bukan punya Dok Renjana. Saya tidak kenal paraf ini."
Alga berdiri perlahan, dan rasa bersalah di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam.
Pak Sutejo tidak mati karena Alga terlambat. Pak Sutejo dibunuh. Disuntik sedatif di tengah kekacauan, ketika tak ada yang sempat memperhatikan, sehingga kematiannya terlihat seperti perburukan alami. Stempel ungu, lalu satu suntikan, dan masalah selesai.
"Dok?" Sekar menatapnya cemas. "Dok, Anda kenapa?"
Alga mengangkat wajah, dan di matanya tidak ada lagi keraguan. Hanya tekad yang dingin dan tajam seperti pisau.
"Selama ini," katanya pelan, "kita pikir mereka cuma memulangkan pasien untuk mati di luar. Pasif. Membiarkan." Ia menatap catatan injeksi itu. "Tapi malam ini berbeda, Sekar. Pak Sutejo mati di dalam tembok rumah sakit. Disuntik. Itu bukan lagi membiarkan. Itu pembunuhan langsung. Dan untuk pertama kalinya, mereka melakukannya di tempat yang bisa kita buktikan."
Ia menggenggam papan catatan itu erat-erat. "Sekar, jangan biarkan jenazah Pak Sutejo dikirim ke kamar jenazah dulu. Kita butuh otopsi. Kalau sedatif itu masih ada di darahnya—"
"—itu bukti pembunuhan," Sekar menyelesaikan, wajahnya pucat. "Bukti pertama yang terjadi di sini, di dalam, hitam di atas putih."