Kode biru.
Alga sudah membaca protokolnya. Sudah menghafal algoritma resusitasi jantung paru sampai ke dosis obat. Tapi tidak ada buku yang menyiapkannya untuk suara alarm datar yang nyata, untuk tubuh manusia yang sungguh-sungguh berhenti hidup di depan matanya.
"Alga, kompresi! Sekarang!" Renjana mendorongnya ke samping ranjang dua. "Tunggu apa lagi?"
Alga menumpukan kedua tangannya di tengah dada bapak itu—bapak yang sepuluh menit lalu masih bicara, masih mengeluh kepalanya pusing. Ia mulai menekan. Tiga puluh kompresi. Cepat, dalam, keras. Ia merasakan tulang dada berderak di bawah telapaknya dan hampir berhenti.
"Jangan berhenti!" bentak Renjana. "Tulang patah itu wajar. Kamu pompa jantungnya, bukan tulangnya. Lanjut!"
Alga menggertakkan gigi dan terus menekan. Keringat menetes ke matanya. Lengannya mulai terbakar. Sekar memompa ambu bag di kepala pasien, memberi napas buatan. Layar monitor masih datar.
"Epinefrin satu miligram, masuk," kata perawat lain.
"Ganti kompresi." Renjana menyentuh bahu Alga. "Dua menit cukup. Mundur, biar perawat lanjut. Kamu cek irama."
Alga mundur, terengah, tangannya gemetar. Ia menatap monitor. Garis lurus. Asistol.
"Asistol, Dok," lapornya.
Renjana mengangguk. "Lanjut kompresi. Epinefrin tiap tiga sampai lima menit. Cari penyebab." Ia mulai menyebut daftar yang Alga kenal—penyebab henti jantung yang bisa dibalik. "Tadi dia trauma kepala. Bisa jadi perdarahan otak. Tapi cek juga yang lain. Hipoksia? Sudah kita beri oksigen. Tamponade? Perdarahan?"
Mereka bekerja. Dua menit. Lalu dua menit lagi. Lalu lagi. Setiap kali Alga berharap melihat denting di monitor, garis itu tetap datar, keras kepala, dingin.
"Dok," kata Sekar pelan setelah siklus kelima. "Sudah dua puluh menit."
Renjana terdiam. Tangannya berhenti di udara. Alga melihat sesuatu yang tidak ia duga di wajah konsulen yang dingin itu—keletihan yang dalam, semacam duka yang sudah dipendam terlalu lama.
"Ada keluarganya di luar?" tanya Renjana.
"Belum datang, Dok. Masih dalam perjalanan dari rumah."
Renjana menatap monitor sekali lagi. Lalu jam dinding. Lalu wajah pasien yang sudah kehilangan warnanya.
"Hentikan resusitasi," katanya akhirnya. Suaranya pelan tapi final. "Waktu kematian, pukul tujuh lewat tiga puluh delapan."
Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi, meski kebisingan IGD di sekelilingnya tidak berkurang. Alga menatap tubuh yang tak bergerak itu. Sepuluh menit lalu bapak ini hidup. Sekarang tidak. Dan ia, Alga, ada di sana, menekan dadanya, dan tetap saja gagal.
"Kenapa?" suara Alga keluar lebih lirih dari yang ia mau. "Lukanya cuma robek kulit kepala. Dia masih sadar tadi. Dia ngobrol—"
"Lucid interval," kata Renjana datar. "Perdarahan epidural. Cedera di kepala yang awalnya sadar, lalu memburuk cepat. Tekanan di otak naik, batang otak tertekan, jantung berhenti." Ia melepas sarung tangan. "Bukan luka di luar yang membunuh. Yang di dalam."
"Apa kita... apa saya bisa lakukan sesuatu yang beda?"
Renjana menatapnya lama. "Mungkin. Mungkin tidak. Kalau CT scan-nya lebih cepat, kalau bedah saraf standby, kalau kita curiga lebih awal." Ia menghela napas. "Itu pertanyaan yang akan kamu tanyakan ke diri sendiri seumur hidup, Alga. Dan kamu harus belajar hidup dengan pertanyaan itu tanpa hancur. Karena besok, ada pasien lain. Dan dia butuh kamu utuh, bukan kamu yang masih menangisi yang kemarin."
Alga menunduk. Untuk pertama kalinya sejak pagi, matanya panas.
"Catat di status," kata Renjana sambil berlalu. "Dan tarik napas. Sebentar. Lalu kembali kerja. Ranjang lima sudah manggil dari tadi."
Alga mengangguk. Ia mengusap matanya cepat, menarik napas dalam, dan—saat ia hendak menutup lembar status bapak itu—matanya menangkap sesuatu yang aneh. Di pojok lembar, ada stempel kecil berwarna ungu dengan kode: BS-7. Ia tidak tahu apa artinya. Tapi ada satu hal yang membuatnya berhenti sejenak.
Stempel yang sama persis ada di status pasien limpa tadi. Dan di status bapak yang baru saja meninggal.
Dua pasien. Tidak saling kenal. Tapi kode yang sama.
Alga mengerutkan kening. Lalu Sekar memanggilnya, dan ia melupakannya—untuk sementara.