Pukul 20.14, pasar Kliwon meledak.
Tabung gas restoran tua menyambar deretan kios kayu, dan dalam hitungan menit, api melahap satu blok. Sirene ambulans meraung dari segala arah. Dan IGD Bumi Sentosa—rumah sakit terbesar dan terdekat—menjadi muara semua korban.
Alga merasakan déjà vu yang mencekam. Ini persis hari pertamanya. Banjir korban. Brankar berderet. Darah di lantai. Jeritan. Tapi kali ini ia bukan anak baru yang gemetar di pintu kaca. Kali ini tangannya mantap.
"Triase!" Renjana berteriak dari tengah kekacauan, jas sudah berlumur darah orang lain. "Merah ke resusitasi, kuning ke bay dua, hijau ke aula! Alga, pegang resusitasi satu!"
Alga melompat ke kerja. Luka bakar derajat tiga. Trauma tumpul dada. Patah tulang terbuka. Tangannya bergerak otomatis—jalur napas, infus, oksigen, tekan perdarahan. Denting monitor, alarm, bau daging terbakar dan antiseptik bercampur jadi satu. Golden hour. Setiap menit nyawa.
Tapi di tengah neraka itu, Alga melihatnya. Tangan Wirya.
Di antara korban yang membanjir, Wirya bergerak tenang dari brankar ke brankar dengan stempel di tangan. Dan Alga tahu persis apa yang dilakukannya. Di tengah kekacauan, ketika tak ada yang sempat memeriksa, sindikat menyisipkan stempel ungu ke pasien-pasien berat. Membuang mereka ke jalur kematian luar statistik, tertutupi oleh kekacauan bencana.
Alga melirik sekilas—dua brankar di bay merah sudah ditandai. Pak Rusdi, 58 tahun, trauma dada dengan kemungkinan tamponade jantung. Dan seorang perempuan muda, sesak berat dengan luka bakar inhalasi. Keduanya berstempel ungu. Keduanya, kalau dipulangkan malam ini, akan mati sebelum subuh.
"Sekar," desis Alga, menarik perawat itu di sela kesibukan. "Dua pasien di bay merah, yang ada stempelnya. Jangan biarkan mereka dipindahkan ke jalur pulang. Apa pun yang terjadi. Kasih saya waktu."
Sekar mengangguk dan menghilang.
Maka malam itu, Alga berperang di dua medan sekaligus. Di satu tangan, ia menyelamatkan nyawa—mengintubasi perempuan dengan luka bakar inhalasi, mengamankan jalan napasnya yang membengkak, melawan waktu sebelum saluran napasnya tertutup total. Di tangan lain, ia melawan sistem—menulis ulang catatan, mempertahankan diagnosis asli, menolak setiap upaya halus Wirya memindahkan pasien ke "rawat jalan".
"Pak Rusdi tamponade," Alga melapor lantang pada Renjana, sengaja keras agar didengar banyak orang—saksi. "Saya pungsi perikardium sekarang. Dia tidak bisa pulang, Dok. Dia kritis."
Wirya muncul di sisinya, suara ramah tapi mata membunuh. "Alga, kondisinya buruk sekali. Prognosis—"
"Prognosisnya membaik kalau kita kerjakan sekarang," potong Alga, sudah menyiapkan jarum pungsi. "Atau Dok Wirya mau bertanggung jawab kalau dia mati karena kita tunda?"
Di sekeliling mereka, perawat-perawat menoleh. Wirya menyadari terlalu banyak mata. Ia mundur, senyumnya membeku.
Alga menusukkan jarum, menarik darah dari kantung perikardium, dan di monitor, tekanan darah Pak Rusdi yang nyaris terjun bebas mulai naik. Hidup. Satu nyawa direbut kembali dari daftar.
Tapi bencana belum selesai. Ambulans terus berdatangan. Brankar terus berderet. Dan di tengah kekacauan yang makin liar, Alga kehilangan jejak satu pasien—seorang lelaki tua dengan stempel ungu yang sempat ia lihat di sudut bay tiga, menunggu giliran.
Pukul 23.40, ketika gelombang korban akhirnya mereda, Alga berlari ke bay tiga untuk memeriksanya.
Brankar itu kosong. Hanya seprai kusut dan satu monitor yang sudah dimatikan.
"Sekar!" Alga berteriak. "Pasien di bay tiga, lelaki tua, mana?"
Sekar berlari, wajahnya berubah ketika ia membuka papan catatan. Tangannya gemetar.
"Pak Sutejo," bisik Sekar. "Tujuh puluh tiga tahun. Sesak napas berat." Ia mengangkat wajah, dan di matanya ada horor. "Dok... statusnya. Tertulis sudah meninggal. Dua puluh menit lalu. Di ranjang ini. Saat kita semua sibuk."
Alga merebut catatan itu. Di pojok kanan—stempel ungu. Dan di kolom diagnosis: gagal napas, ekspirasi. Mati. Di dalam tembok rumah sakit. Di bawah pengawasan mereka. Sementara dua tangannya sibuk menyelamatkan yang lain.