Bukti bocor lagi. Itu yang pertama membuat Alga sadar ada yang salah.
Salinan EKG Pak Solihin—pasien emboli paru yang dulu mereka selamatkan—yang seharusnya hanya diketahui empat orang, tiba-tiba "hilang" dari tempat penyimpanan Sekar. Dan dua hari kemudian, Wirya menyebutkannya, samar tapi jelas, di sela percakapan biasa: "Bukti yang kalian kumpulkan itu rapi sekali, Alga. Sayang kalau salah satu kalian ceroboh."
Mereka berkumpul rahasia di rumah Anindita, RS Harapan Kita—Alga, Renjana, Sekar. Renjana menggelar daftar: siapa yang tahu apa.
"Kita harus jujur," kata Renjana, suaranya datar tapi berat. "Ada yang membocorkan. Bukan kebetulan. Wirya tahu hal-hal yang hanya kita berempat tahu."
Sekar menegang. "Anda mencurigai saya?"
"Saya mencurigai semua orang. Termasuk diri saya." Renjana menatapnya. "Itu satu-satunya cara kita selamat. Jangan tersinggung. Berpikir."
Alga menyusun ulang di kepalanya. EKG Pak Solihin disimpan Sekar. Tapi yang menyalin aslinya... ada perawat lain yang membantu di IGD malam itu. Perawat muda bernama Dian, yang Sekar rekrut karena katanya bisa dipercaya, yang membantu menyembunyikan rekam jejak pasien stempel ungu.
"Dian," gumam Alga.
Sekar memucat. "Tidak mungkin. Dian baik. Dia... dia anak yang lurus."
"Anak yang lurus bisa ditekan," kata Renjana pelan.
Mereka menyelidiki diam-diam. Dan apa yang Alga temukan membuat dadanya sesak. Suami Dian terlilit utang judi online. Rentenir sudah datang ke rumah, mengancam. Dan tiga minggu lalu, utang itu mendadak "diambil alih" oleh seseorang—seseorang yang lalu meminta Dian melaporkan setiap gerakan Alga dan Sekar. Sebagai gantinya, utang itu tidak ditagih. Anaknya bisa tetap sekolah.
Alga mendatangi Dian di kos perawat yang sempit. Perempuan muda itu membuka pintu, dan begitu melihat wajah Alga, ia langsung tahu. Ia ambruk di lantai, menangis.
"Maaf, Dok. Maaf. Saya tidak punya pilihan." Air matanya tumpah. "Mereka bilang kalau saya tidak lapor, suami saya dipenjara, anak saya tidak bisa sekolah. Mereka tunjukkan foto anak saya, Dok. Foto dia pulang sekolah. Mereka tahu jalannya."
Alga berlutut di depannya. Di kepalanya, ada amarah—Dian membahayakan semua orang, membahayakan keluarga korban, membahayakan Gunawan yang koma. Tapi di bawah amarah itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Pemahaman.
"Berapa utangnya?" tanya Alga pelan.
Dian mengangkat wajah, bingung. "Dok?"
"Saya tidak akan menghukum kamu, Dian." Suara Alga lembut. Ia ingat kalimat Renjana, dingin tapi benar: tidak semua orang punya kemewahan jadi pahlawan. "Kamu ditekan persis seperti kami. Bedanya kamu punya anak yang nyawanya di ujung. Saya tidak akan menyalahkan ibu yang melindungi anaknya."
Dian terisak lebih keras, dan ada lega yang menyakitkan di tangisnya—lega karena akhirnya ketahuan, akhirnya tidak harus berbohong lagi.
"Tapi saya butuh bantuanmu," lanjut Alga. "Mulai sekarang, kamu tetap lapor ke mereka. Tapi kamu lapor apa yang saya suruh. Kamu jadi mata kami di dalam mata mereka. Kita balik panahnya." Ia menatap Dian. "Dan saya cari cara melindungi anakmu. Sungguh. Kamu tidak sendirian lagi."
Dian mengangguk, masih menangis, tapi kali ini menggenggam tangan Alga seperti orang tenggelam menggenggam papan.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Renjana berkata, "Kamu bisa saja membongkar dia ke yang lain. Mengusirnya. Lebih aman."
"Lebih aman buat siapa?" balas Alga. "Dia korban, sama seperti kita. Kalau saya menghukum dia, saya tidak beda dari Damar—mengorbankan orang lemah demi target saya sendiri."
Renjana terdiam lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam ingatan Alga, sesuatu yang nyaris seperti senyum melintas di wajah datar konsulen itu.
"Larasati pasti suka kamu," gumamnya.