Sekar mendengarnya sebelum melihatnya. Pantofel. Dua orang. Datang dari arah lift, bukan dari arah pos jaga biasa.
Ia melirik jam. Penjaga shift monitor berikutnya seharusnya datang tiga menit lagi. Ini lebih cepat. Dan ini bukan satu orang—ini dua. Jantungnya melonjak.
Lewat kaca ruang perawat, ia melihat siapa: kepala satpam, dan di belakangnya, seorang perempuan berseragam teknisi—bagian CCTV. Mereka menuju ruang perawat. Menuju monitor.
Sekar bertindak dalam dua detik. Ia menutup tab monitor yang menampilkan ruang obat, menggantinya dengan tampilan lobi depan. Lalu ia mengeluarkan termometer dari saku, menempelkannya ke dahinya sendiri, dan ketika pintu terbuka, ia sudah duduk dengan wajah pucat, satu tangan memegang perut.
"Sus Sekar?" Kepala satpam mengernyit. "Bu Ratih dari teknisi mau ngecek rekaman CCTV koridor obat. Katanya ada laporan—"
"Aduh, syukur kalian datang," Sekar memotong, suaranya lemah. "Saya dari tadi mau ke toilet tapi tidak boleh tinggalin monitor. Tolong gantiin sebentar, Mas. Perut saya mules sekali dari tadi sore, kayaknya kena makanan basi di kantin." Ia berdiri terhuyung, satu tangan di perut. "Bu Ratih, monitornya saya tinggal ya, tolong dijaga."
Teknisi itu, Bu Ratih, mengernyit ragu. "Tadi... tadi koridor obat ada aktivitas tidak, Sus?"
"Sepi kok dari tadi," Sekar menjawab cepat, sudah setengah jalan ke pintu. "Cuma Dok Wirya tadi ngambil obat sebentar. Sudah keluar." Ia menatap kepala satpam dengan mata memelas. "Mas, tolong ya. Bener-bener nggak nahan."
Kepala satpam, tidak nyaman dengan urusan perut perempuan, melambai cepat. "Iya iya, sana, Sus."
Sekar nyaris berlari ke koridor. Begitu lepas dari pandangan, ia merogoh ponselnya dan mengetik dengan jari gemetar ke nomor Alga: KELUAR SEKARANG. CCTV DICEK.
Di dalam ruang obat, ponsel Alga bergetar di saku. Ia melirik layar diam-diam. Darahnya membeku.
"Maaf, Dok," kata Alga, memaksa suaranya tetap tenang. "Saya dipanggil. Ada pasien." Ia mundur ke pintu. "Saya pikirkan tawarannya. Beneran."
Wirya menatapnya, dan untuk sekejap senyum itu menghilang sepenuhnya. Sesuatu di mata Wirya menajam—naluri predator yang merasakan ada yang ganjil. "Kamu tergesa-gesa, Alga."
"Pasien sesak, Dok. Maaf." Alga sudah di ambang pintu.
Wirya melangkah mendekat, terlalu dekat, matanya menyusur tubuh Alga dari atas ke bawah. Sesaat, pandangannya berhenti di saku jas Alga—saku tempat perekam itu dijahit. "Saku jasmu menggembung," kata Wirya pelan.
Waktu seakan berhenti. Alga merasakan keringat dingin menetes di punggungnya.
Lalu ia mengeluarkan benda dari saku itu—bukan perekam, tapi ampul dan spuit yang sengaja ia selipkan tadi, untuk berjaga-jaga. Renjana yang mengajarinya: selalu siapkan penjelasan polos untuk setiap saku. "Adrenalin sama spuit, Dok. Buat pasien sesak tadi. Saya selalu bawa." Ia mengangkatnya, tangan mantap, tidak gemetar sedikit pun.
Wirya menatap ampul itu. Lalu menatap mata Alga. Lama. Sangat lama.
"Hati-hati di jalan, Alga," kata Wirya akhirnya, suaranya sehalus pisau. "Kota ini berbahaya untuk dokter muda yang ceroboh."
Alga keluar, dan tidak menoleh ke belakang sampai ia berbelok dua koridor jauhnya. Di sudut tangga, Sekar menunggunya, wajah masih pucat tapi kali ini pucat sungguhan. Mereka tidak berbicara. Hanya saling menatap, lalu Alga mengangguk pelan—berhasil—dan menepuk saku jasnya tempat enam jam rekaman tersimpan.
Tapi malam itu, di ruangannya, Wirya duduk lama dalam gelap. Ia memutar kembali setiap detik percakapan di kepalanya. Saku yang menggembung. Sekar yang tiba-tiba sakit perut. Penjaga monitor yang minta diganti tepat saat mereka bicara. Alga yang menyerah terlalu cepat, terlalu rapi.
Ia mengangkat telepon.
"Pasang orang di IGD," katanya pelan. "Saya mau tahu ke mana saja anak itu pergi. Siapa saja teman bicaranya. Terutama perawat itu—Sekar."
Lingkaran mulai menyempit. Dan kali ini, ada mata baru di antara mereka.