Pintu ruang obat tertutup dengan klik halus. Dinding-dinding rak penuh ampul dan vial, lampu putih dingin, bau alkohol dan plastik steril. Di sudut atas, lampu merah CCTV menyala. Alga tahu Sekar sedang menatap monitor itu di ruang perawat, jari di tombol, menghitung mundur dua puluh menit.
Wirya menyandar santai ke meja konter, melipat tangan. Jasnya bersih sempurna, seperti biasa. "Jadi," katanya, "kamu capek juga akhirnya."
Alga menunduk, memainkan ujung stetoskopnya. Pakai kebenaran. "Keluarga korban mundur, Dok. Pak Hasan dipecat. Kos saya dibobol. Saya... saya cuma dokter internsip. Saya tidak punya apa-apa untuk melawan kalian." Suaranya pecah di kata terakhir, dan itu tidak sepenuhnya akting. "Saya cuma mau selamat. Mau lanjut internsip. Mau pulang ke orang tua saya dengan utuh."
Wirya mengangguk-angguk, menikmati setiap kata. "Itu yang dari dulu saya bilang. Kamu pintar, Alga. Tapi idealismemu bodoh. Larasati juga pintar. Tahu apa yang terjadi pada orang pintar yang bodoh?" Ia mengangkat alis.
"Saya tahu," gumam Alga. "Saya tidak mau seperti dia."
"Bagus." Wirya tersenyum lebar. "Bagus sekali. Lihat, ini sebenarnya tidak rumit. Kamu pikir kami pembunuh. Kami bukan. Kami akuntan."
Alga mengangkat wajah, pura-pura bingung. Di dalam, ia berdoa baterai perekam itu kuat.
"Begini cara kerjanya," Wirya mulai, dan suaranya berubah—berubah jadi suara guru yang bangga pada pelajarannya. "Akreditasi internasional itu menilai mortalitas. Angka kematian di IGD dan rawat inap. Kalau angka kita tinggi, akreditasi gagal, dana hibah tiga ratus miliar batal, dan rumah sakit ini tutup. Ribuan orang kehilangan kerja. Jadi pertanyaannya, Alga—apa lebih baik? Membiarkan beberapa pasien yang memang sudah mau mati itu... mati di tempat lain, di luar statistik kita? Atau membiarkan seluruh rumah sakit runtuh?"
"Pasien yang sudah mau mati," ulang Alga pelan. "Maksudnya?"
"Yang prognosisnya buruk. Tua, komplikasi banyak, kemungkinan hidup kecil." Wirya melambaikan tangan seakan menjelaskan cuaca. "Kalau kita prediksi pasien ini akan mati dalam beberapa hari, untuk apa dia mati di sini dan merusak angka kita? Kita catat diagnosis ringan, kita pulangkan. Dia mati di rumah, tercatat sebagai kematian komunitas, bukan kematian rumah sakit. Statistik kita bersih. Akreditasi lolos. Semua menang."
"Bu Sulastri tidak akan mati," kata Alga, dan untuk sesaat ia lupa berpura-pura. "Dia STEMI. Kalau dipasang stent, dia hidup tiga puluh tahun lagi."
Wirya berkedip, lalu tertawa kecil. "Nah, itu kadang khilaf. Tidak semua prediksi tepat. Tapi itu kerugian yang bisa diterima. Yang penting kuotanya tercapai. Tiap bulan ada target—berapa kematian yang boleh masuk catatan resmi. Sisanya," ia mengangkat bahu, "dialihkan."
Kuota. Target. Bonus. Alga menelan rasa mual. Perekam itu menangkap semuanya.
"Dan kamu yang mengatur ini semua?" tanya Alga.
Sesaat, sesaat saja, mata Wirya menyipit. Kehati-hatian merayap kembali. "Saya pelaksana. Saya jalankan instruksi atasan. Stempel ungu, pencoretan, semua teknis lapangan saya. Tapi keputusan kuota—" ia berhenti, dan senyumnya kembali, lebih dingin, "—itu di atas saya. Kamu tidak perlu tahu siapa. Cukup tahu bahwa orang itu jauh lebih besar daripada bisa kamu lawan."
Bukan Damar. Wirya tidak menyebut nama. Hanya "atasan". Di kepalanya, Alga merasakan separuh kemenangan berubah jadi separuh kekecewaan. Bukti niat ada—kuota, kesengajaan, pengalihan kematian. Tapi rantainya berhenti di Wirya. Tidak sampai Damar.
"Jadi," Wirya menepuk bahu Alga, "kalau kamu mau bergabung, gampang. Kamu cukup ikut alur. Stempel ungu masuk, kamu jangan tanya. Kamu dapat amplop tiap bulan, dapat surat rekomendasi spesialis. Hidupmu enak. Bagaimana?"
Alga menatap wajah yang tersenyum itu. Wajah yang baru saja, dengan sukarela dan bangga, mengakui pembunuhan sistematis ratusan orang. Ia ingin muntah. Ia ingin meninju. Tapi ia hanya mengangguk pelan, lemah.
"Saya... saya pikirkan, Dok."
Di luar pintu, di ruang perawat, monitor CCTV menunjukkan dua dokter mengobrol di ruang obat. Sekar menatap angka di pojok layar: tujuh belas menit telah berlalu. Tiga menit lagi sebelum penjaga shift berikutnya datang.
Dan di ujung koridor, langkah kaki mulai terdengar—lebih cepat dari jadwal.