Renjana menentang rencana itu selama satu jam penuh.
"Kamu tidak mengerti apa yang kamu pertaruhkan," desisnya di ruang ganti dokter yang kosong. "Kalau Wirya curiga satu detik saja kamu memancingnya, kamu masuk daftar itu. DIJADWALKAN. Bukan ancaman lagi, Alga. Mereka sudah membunuh Larasati. Mereka tidak akan ragu padamu."
"Saya tahu." Alga menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti—wajah pucat, lingkaran hitam di mata. "Tapi Bayu benar. Tanpa pengakuan, semua bukti kita cuma kertas yang bisa disangkal. Wirya pelaksananya. Dia tahu cara kerja stempel ungu sampai ke detail. Kalau dia bicara—"
"Kalau dia bicara, kamu butuh dia merasa menang." Renjana menyelanya, dan Alga tahu—dari nada itu—mentornya sudah menyerah melarang dan mulai membantu. Itu cara Renjana. Ia tak pernah benar-benar menolak; ia hanya memastikan kau sadar risikonya sebelum melompat. "Wirya itu sombong. Haus pengakuan. Selama ini kamu melawan dia. Dia tidak akan buka mulut ke musuh. Tapi kalau musuhnya tiba-tiba menyerah, mengaku kalah, minta bergabung—"
"—egonya yang bicara," kata Alga.
"Tepat. Dia akan menikmati menjelaskan betapa pintar skema ini. Karena dia ingin kamu mengaguminya." Renjana menyilangkan tangan. "Tapi kamu harus sempurna. Tidak boleh kelihatan kamu memancing. Harus kelihatan kamu hancur. Putus asa. Capek melawan. Mau cari aman."
Alga menarik napas. "Saya bisa."
"Kamu tidak bisa." Renjana menatapnya tajam. "Kamu jujur, Alga. Itu kelemahan terbesarmu. Kamu tidak pandai berbohong. Wajahmu selalu mengkhianatimu." Ia berhenti. "Jadi jangan berbohong total. Pakai kebenaran. Kamu memang capek. Kamu memang takut. Keluarga korban memang mundur. Pak Hasan memang dipecat. Pakai itu. Biar dia mencium ketakutan asli di dirimu, lalu salah menyimpulkan kamu menyerah."
Itu nasihat yang dingin dan cerdas, dan Alga merasa merinding mendengarnya. Renjana benar-benar pernah hidup di dalam sistem ini, bertahun-tahun, bermain peran tanpa pernah ketahuan. Sampai sekarang.
Sekar—perawat senior yang sudah memihak mereka—menyiapkan teknisnya. "Perekam ini," ia menunjukkan perangkat sebesar korek api, "saya jahit di balik saku jas. Aktif suara, baterai enam jam. Tapi Dok—satu masalah. Ruang obat punya CCTV. Kalau pembicaraan terjadi di sana, saya harus jaga monitornya supaya tidak ada yang lihat kalian berdua menyendiri terlalu lama. Itu mencurigakan."
"Bisa?" tanya Alga.
Sekar tersenyum tipis, lelah. "Saya pegang shift monitor lusa malam. Saya atur. Tapi cuma punya jendela sekitar dua puluh menit sebelum penjaga shift berikutnya datang. Lewat dari itu, saya tidak bisa lindungi kalian."
Dua puluh menit. Untuk membuat seorang pembunuh berbicara.
Malam berikutnya, Alga mendekati Wirya di koridor IGD, persis seperti yang direncanakan. Bahunya turun. Suaranya pelan, lelah, kalah.
"Dok Wirya. Saya... saya mau bicara. Empat mata. Soal masa depan saya."
Wirya menoleh, dan di matanya berkilat sesuatu—kemenangan, kepuasan, kesombongan seorang predator yang melihat mangsanya akhirnya menyerah. Senyumnya melebar, ramah dan beracun.
"Akhirnya," kata Wirya lembut, merangkul bahu Alga seakan mereka kawan lama. "Saya sudah menunggu kamu sadar, Dik. Ayo. Kita ngobrol di ruang obat. Lebih tenang di sana."
Alga merasa perekam kecil itu menempel dingin di kulitnya. Jantungnya menggebrak. Di kepalanya, suara Bayu: jangan mati dulu sebelum itu.
Ia memaksa senyum getir, dan melangkah masuk ke ruang obat bersama orang yang ingin membunuhnya.