AKP Bayu Saputra membalas tiga hari kemudian, dengan satu baris dingin: "Datang sendiri. Warung kopi seberang terminal lama. Jam 9 malam. Jangan bawa siapa-siapa."
Alga datang lebih awal. Warung itu remang, hanya diterangi lampu neon yang berdengung. Bayu sudah duduk di pojok, jaket lusuh, secangkir kopi hitam, dan tatapan yang menelanjangi. Usianya mungkin awal tiga puluh, tapi matanya tua—mata orang yang sudah terlalu sering melihat berkas ditutup tanpa alasan.
"Duduk." Bayu tidak menjabat tangan. "Saya sudah baca pesanmu. Sekali. Lalu saya hapus. Kamu juga sebaiknya hapus nomor saya setelah ini, kalau tidak jadi apa-apa."
Alga duduk. Ia mengeluarkan map dari tasnya, tapi Bayu menahannya dengan satu gerakan tangan.
"Jangan dulu. Saya mau dengar dari mulutmu. Kalau gugup, kalau bohong, saya lihat." Bayu menyandar. "Cerita."
Maka Alga bercerita. Tentang hari pertama, banjir korban kecelakaan, stempel ungu yang ia temukan. Tentang Bu Sulastri yang STEMI dipulangkan jadi maag. Tentang buku catatan kulit di ruang B2 dengan kolom STATUS. Tentang tiga nama berstatus DIJADWALKAN. Tentang Gunawan yang kini koma. Tentang dr. Larasati, pendahulu Renjana, yang mati dalam "kecelakaan tunggal".
Bayu mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali matanya menyipit. Ketika Alga selesai, lelaki itu diam lama, memutar cangkir kopinya.
"Kamu tahu kenapa kasus seperti ini hampir tidak pernah menang di pengadilan?" tanya Bayu akhirnya.
Alga menggeleng.
"Karena ini medis. Dan medis itu abu-abu." Bayu mencondongkan tubuh. "Dokter bisa bilang: itu salah diagnosis. Manusiawi. Bisa bilang: pasien menolak rawat inap. Bisa bilang: kondisi memburuk di luar dugaan, di luar tanggung jawab kami. Setiap kematian yang kamu sebut, mereka punya seribu alasan kenapa itu kelalaian biasa—bukan kejahatan."
"Tapi polanya—"
"Pola bisa dibilang kebetulan oleh pengacara yang bagus. Dan Damar punya pengacara yang sangat bagus." Bayu mengetuk meja. "Yang kamu punya ini namanya actus reus—perbuatan. Orang mati, diagnosis dicoret. Itu saja tidak cukup buat saya tahan siapa pun. Saya butuh mens rea. Niat. Saya butuh bukti bahwa mereka tahu pasien itu akan mati, dan sengaja membiarkannya, dengan tujuan. Saya butuh seseorang dari dalam mengakui skemanya. Dengan kata-kata. Sengaja. Terdokumentasi."
Alga menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk warung, ia merasa angin berubah. "Anda percaya saya."
Bayu mendengus pelan. "Saya tidak bilang percaya. Saya bilang—ini menarik." Ia meneguk kopinya. "Saya sudah delapan bulan di kota ini, ngurusin kasus penyelundupan yang ujungnya buntu karena ada yang main. Saya tahu rasanya kota di mana orang berkuasa bisa membeli apa saja. Termasuk berkas. Termasuk nyawa." Matanya menggelap. "Atasan saya di sini main tenis sama orang Damar. Kalau saya bawa ini ke dia, besok pagi kamu yang ditahan, bukan Damar."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
Bayu menatapnya lurus, lama. "Kalau kamu serius—dan saya belum yakin kamu cukup gila untuk serius—kamu harus pancing salah satu dari mereka bicara. Yang paling lemah. Yang paling takut jadi tumbal. Buat dia jelaskan skemanya sendiri, sukarela, sambil direkam. Kalau kamu bawa itu ke saya, saya punya pintu. Saya bisa bawa ini ke Propam, ke Tipikor lintas wilayah, ke orang yang tidak bisa disentuh Damar."
Alga menelan ludah. Di kepalanya, satu wajah muncul. Jas yang selalu bersih tanpa noda darah. Pantofel mengilap. Ramah palsu. Penakut di bawah tekanan.
"Wirya," gumam Alga.
Bayu berdiri, melempar uang ke meja. "Saya tidak dengar nama apa pun. Saya tidak pernah ketemu kamu." Ia memakai jaketnya. "Tapi kalau kamu dapat rekaman itu, dokter—" ia berhenti di pintu, menoleh, "—hubungi saya. Dan jangan mati dulu sebelum itu."
Lalu ia hilang ditelan malam, meninggalkan Alga sendirian dengan map yang belum sempat dibuka, dan sebuah rencana yang bisa membunuhnya.