Tiga hari. Hanya butuh tiga hari bagi sindikat untuk menunjukkan bahwa mereka mendengar.
Pak Hasan menelepon Alga pukul enam pagi, suaranya pecah. "Dok, saya dipecat. Pabrik bilang efisiensi. Tapi cuma saya yang dikeluarkan, Dok. Cuma saya."
Alga mengepalkan tangan di telinga ponselnya. Di luar jendela kos, langit masih kelabu.
"Terus tadi malam," Pak Hasan melanjutkan, "ada orang datang ke rumah. Bawa map. Katanya utang koperasi saya jatuh tempo. Padahal masih tiga bulan lagi, Dok. Mereka minta lunas sekarang. Lima belas juta. Dari mana saya—" suaranya hilang ditelan isak.
Alga menutup mata. Ia tahu ini akan datang. Renjana sudah memperingatkannya. Tapi mengetahui dan merasakannya adalah dua hal berbeda.
Siang itu di kantin rumah sakit yang sepi, Renjana mendengarkan tanpa ekspresi, mengaduk kopinya yang sudah dingin. "Mereka tidak menyakiti tubuh dulu," kata Renjana akhirnya. "Mereka menyakiti hidup. Pekerjaan, utang, nama baik. Karena itu yang membuat orang menyerah lebih cepat daripada ancaman pukulan."
"Dua keluarga sudah mundur tadi pagi," Alga berkata getir. "Mbak Yuni sudah tidak mau diajak bicara. Pak Hasan—saya tidak tahu sampai kapan dia bertahan."
Renjana meletakkan sendoknya. "Kamu marah."
"Tentu saja saya marah." Suara Alga naik, lalu ia menahannya, menyadari dua perawat lewat. "Kita kasih mereka harapan, lalu sindikat menginjaknya. Saya yang menyeret mereka maju, Dok."
"Kamu memberi mereka kebenaran. Itu hak mereka." Renjana menatapnya lurus. "Tapi kamu benar soal satu hal. Kebenaran tidak cukup. Kita kasih keluarga itu keberanian, tapi tidak kasih perlindungan. Itu kesalahan. Dan kesalahan—"
"—itu peti mati," Alga menyelesaikan. Kalimat lama. Kalimat yang menghantuinya sejak hari pertama.
Renjana mengangguk. "Kita butuh sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Aparat yang tidak bisa dibeli Damar. Selama ini kita lari karena tidak ada yang melindungi. Sekarang waktunya berhenti lari sendirian."
"Polisi?" Alga mendengus. "Setengah polisi di kota ini main golf sama Damar."
"Setengah. Bukan semua." Renjana mengeluarkan ponselnya, menggeser layar. "Anindita kenal seseorang. Bukan dari kesatuan sini. Penyidik muda, dititipkan dari satuan luar wilayah untuk kasus lain. Namanya AKP Bayu Saputra. Kata Anindita, orang ini—" Renjana mencari kata yang tepat, "—keras kepala dengan cara yang benar."
Alga menatap nama itu di layar. Sebuah pintu, mungkin. Atau jebakan lain.
Sore harinya, Alga menjenguk Pak Hasan di rumahnya. Lelaki itu duduk di teras, menatap kosong. Di mejanya, surat tagihan dan surat pemutusan kerja tergeletak berdampingan seperti dua vonis.
"Saya masih mau maju, Dok," kata Pak Hasan, suaranya rapuh tapi ada baja di dalamnya. "Tapi tolong. Tolong jangan biarkan ini sia-sia."
Alga memegang bahu lelaki itu. "Saya janji satu hal, Pak. Saya tidak akan diam." Ia ingat sumpahnya, ingat wajah-wajah yang gagal ia selamatkan. "Tapi mulai sekarang, Bapak tidak sendirian. Saya cari orang yang bisa melindungi kita. Beneran melindungi."
Malam itu, di kamar kos yang baru saja ia pasangi gembok tambahan, Alga mengetik pesan ke nomor yang diberikan Renjana. Jarinya, yang dulu gemetar memegang skalpel di hari pertama, kini mantap di atas layar.
"Selamat malam, AKP Bayu. Saya dr. Alga Mahendra. Saya punya bukti bahwa pasien sengaja dibiarkan mati. Banyak. Saya butuh bantuan Anda."
Tanda terkirim. Lalu—centang biru.
Lalu, untuk waktu yang lama, tidak ada balasan sama sekali.