Rumah kontrakan Bu Sulastri di gang sempit itu tak pernah seramai malam ini. Bukan ramai pesta. Ramai cemas. Tujuh orang duduk berdesakan di ruang tamu yang hanya muat empat, kipas angin tua berputar payah, dan di tengah mereka tergelar peta kertas yang dibuat Alga—garis-garis menghubungkan nama, tanggal masuk, tanggal mati.
Alga menatap wajah-wajah itu satu per satu. Ada Pak Hasan, yang bapaknya dipulangkan dengan diagnosis "vertigo" lalu mati di angkot tiga jam kemudian. Ada Mbak Yuni, suaminya "pulang sehat" dari Bumi Sentosa dan tak pernah bangun keesokan paginya. Ada Nayla, putri Bu Sulastri, lima belas tahun, duduk paling depan dengan rahang terkatup keras.
"Saya tidak akan menjual harapan kosong ke kalian," kata Alga. Ia ingat kalimat Renjana di lorong bawah tanah: jangan janjikan yang tak bisa kau jaga. "Kalau kalian jadi pelapor, namanya akan dicatat. Mereka punya polisi, punya pengacara, punya uang. Mereka akan menekan. Pekerjaan, utang, anak sekolah—semua bisa mereka pakai."
Ruangan hening. Kipas berdetak.
"Lalu kenapa kami harus maju?" Pak Hasan bertanya, suaranya serak. "Kalau cuma rugi?"
Alga membuka map. Ia keluarkan satu lembar—salinan status bapak Pak Hasan. Di pojok kanan, stempel ungu "BS" itu menyala seperti memar. Diagnosis asli, perdarahan otak, dicoret dua garis. Di bawahnya ditulis tangan rapi: vertigo perifer.
"Karena selama ini kalian mengubur orang yang kalian cinta sambil percaya itu takdir," kata Alga pelan. "Itu bukan takdir, Pak. Itu keputusan. Ada orang yang memutuskan bapak Bapak lebih murah mati di luar daripada hidup di dalam."
Mbak Yuni menutup mulut dengan punggung tangan. Pak Hasan menunduk lama, bahunya bergetar. Alga membiarkan keheningan itu bekerja. Renjana mengajarinya itu juga—kebenaran tidak butuh dipaksakan, ia butuh ruang untuk meresap.
"Saya ikut," kata Pak Hasan akhirnya, mengangkat wajah yang basah. "Bapak saya pekerja keras seumur hidup. Tidak pantas dia jadi angka di laporan."
Tapi yang lain belum bersuara. Mbak Yuni menggeleng pelan, "Saya punya tiga anak, Dok. Suami saya sudah tidak ada. Kalau saya kena apa-apa, anak saya makan apa?" Air matanya jatuh, tapi pilihannya jelas. Alga mengangguk. Ia tidak boleh marah. Tidak semua orang punya kemewahan untuk berani.
"Tidak apa-apa, Mbak," kata Alga. "Bukti Mbak tetap kami simpan. Mbak tidak perlu maju ke depan."
Nayla berdiri tiba-tiba. "Saya mau bicara." Suara remaja itu menggetar tapi tidak goyah. "Ibu saya hidup. Tapi banyak ibu yang lain tidak. Kalau kita semua diam karena takut, mereka menang gratis. Saya tidak mau ibu saya hampir mati untuk apa-apa."
Bu Sulastri, dari kursi rodanya di sudut, menatap putrinya dengan mata berkaca. Tangannya yang masih lemah—jantungnya baru saja dipasang stent di Harapan Kita—terangkat pelan, mengusap rambut Nayla.
Malam itu, satu pelapor resmi lahir: Pak Hasan. Dan satu suara muda yang tak bisa dibungkam: Nayla.
Alga pulang ke kos lewat tengah malam dengan map terselip di balik jaket, hati hangat untuk pertama kalinya dalam berhari-hari. Ia merasa, akhirnya, ada lilin yang menyala di kegelapan.
Tapi di seberang jalan, di balik kaca gelap sebuah mobil yang diparkir, sepasang mata mengawasi gang itu. Sebatang rokok menyala-padam. Sebuah ponsel terangkat, memotret. Dan pagi harinya, di meja kerja dr. Wirya yang selalu bersih, sebuah foto tercetak: Alga keluar dari rumah Bu Sulastri, dikelilingi keluarga-keluarga yang seharusnya sudah lupa.
Wirya menatap foto itu lama. Lalu ia tersenyum tipis, mengangkat telepon.
"Pak Damar. Mereka mulai bergerak."