Buku catatan kulit itu bukan sekadar daftar. Setiap baris adalah seseorang.
Alga dan Nayla duduk di meja kayu RS Harapan Kita, menyandingkan tiga sumber: buku kulit dari B2, catatan rujukan Anindita, dan map kasus dari loker Larasati. Pelan, mereka mengubah kode dan inisial menjadi nama. Nama menjadi alamat. Alamat menjadi keluarga.
"BS-7, inisial S.D., tanggal masuk dua tahun lalu." Alga menelusuri. "Pak Sudirja. Kita sudah punya berkas lengkapnya. Keluarganya tinggal di Kelurahan Mekarsari."
Nayla menulis dengan tangan yang serius melebihi usianya. Sejak penjemputan di gang malam itu, gadis ini berubah—dari remaja yang ketakutan menjadi seseorang dengan tujuan. Ibunya hampir mati di status palsu "maag". Ia tahu persis rasanya.
"Berarti kita datangi keluarganya," kata Nayla. "Kita beri tahu yang sebenarnya."
Alga ragu. "Nayla, ini berat. Selama ini mereka mengira orang yang mereka cintai mati karena takdir, karena sakit yang tak tertolong. Kita akan datang dan bilang—orang mereka sebenarnya bisa selamat, tapi sengaja dibuang. Itu bukan kabar yang mudah dibawa."
"Ibu saya hidup karena seseorang berani datang dan bilang yang sebenarnya." Nayla menatapnya lurus. "Dok Alga datang ke gang malam itu. Kalau Dokter diam, Ibu saya sudah jadi salah satu nama di buku itu. Sekarang giliran kita jadi orang yang datang."
Alga tak bisa membantah itu.
Rumah pertama yang mereka datangi milik keluarga Pak Sudirja. Seorang perempuan paruh baya, jandanya, membuka pintu dengan curiga. Di ruang tamu sederhana, di atas lemari, terpajang foto Sudirja—lelaki gemuk yang tersenyum, mengenakan peci.
Alga menjelaskan dengan hati-hati. Ia menunjukkan status asli—STEMI anterior, serangan jantung luas. Lalu status palsu—dispepsia, sakit maag. Lalu surat pemulangan, bertanggal hari yang sama dengan saat seharusnya suaminya dirawat di ruang jantung.
Perempuan itu menatap kertas-kertas itu lama. Tangannya gemetar.
"Dokter di sana bilang," suaranya pecah, "bilang suami saya cuma masuk angin. Disuruh pulang, istirahat, makan teratur. Saya bawa pulang. Dua hari kemudian dia... dia mengeluh dadanya sakit, lalu jatuh di kamar mandi. Saya pikir..." Ia menutup mulutnya. "Saya pikir memang sudah waktunya. Takdir. Saya pikir saya kurang menjaga dia."
"Bu," kata Alga pelan, "Bapak tidak mati karena maag. Dan Ibu tidak kurang menjaga. Bapak masuk ke rumah sakit dengan serangan jantung yang masih bisa diselamatkan. Ada tindakan yang bisa membuka pembuluh darahnya. Tapi—" suaranya nyaris tak keluar, "—mereka memilih memulangkannya. Supaya dia mati di rumah, bukan di rumah sakit."
Keheningan di ruangan itu terasa seperti tekanan di telinga.
Lalu perempuan itu menangis. Bukan tangis lembut—tangis yang lahir dari dua tahun menyalahkan diri sendiri yang ternyata salah alamat. Dua tahun rasa bersalah yang sebenarnya milik orang lain.
"Kenapa?" ia terisak. "Kenapa mereka tega? Suami saya orang baik. Dia cuma... dia cuma sakit. Kenapa dia harus jadi angka?"
Alga tak punya jawaban yang cukup. Tak ada jawaban yang cukup.
"Saya tidak bisa mengembalikan suami Ibu," katanya akhirnya. "Tapi saya bisa pastikan dia bukan cuma angka yang dibuang. Saya bisa pastikan namanya dibersihkan, dan orang yang melakukan ini—dibawa ke pengadilan. Tapi saya butuh Ibu. Saya butuh keberanian Ibu untuk bicara."
Perempuan itu mengusap air matanya. Menatap foto suaminya yang tersenyum di atas lemari.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Di samping Alga, Nayla mengeluarkan buku catatannya, membuka halaman baru.
"Ceritakan saja, Bu," kata Nayla, suaranya lembut tapi mantap. "Dari awal. Kami catat semuanya. Ibu tidak sendirian. Ada Ibu saya juga. Dan akan ada keluarga-keluarga lain."
Malam itu, di rumah-rumah lain di seluruh kota, daftar nama di buku kulit perlahan berubah wujud. Bukan lagi inisial dan kode. Melainkan janda, anak yatim, orang tua yang kehilangan, yang selama ini menyimpan duka di alamat yang salah.
Satu per satu, mereka mulai tahu kebenaran. Dan satu per satu, rasa bersalah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya bagi orang-orang yang merasa aman di balik tembok Bumi Sentosa.
Kemarahan. Dan tekad.
Saat Alga dan Nayla berkendara pulang melewati jalanan kota yang sepi, Nayla menatap daftar di pangkuannya—nama-nama yang kini punya wajah.
"Dok," katanya pelan. "Mereka kira sudah mengubur orang-orang ini. Padahal mereka cuma menanamnya. Dan sekarang kita yang menyiram."
Alga menatap jalanan di depan. Lampu-lampu kota berpendar samar, biru kelabu, warna fajar yang belum datang.
"Ya," katanya. "Sekarang mereka akan tumbuh."