dr. Hartono memilih warung kopi tua di pinggir kota—tempat yang tak akan pernah dikunjungi orang Bumi Sentosa. Ia datang dengan topi dan jaket, seperti orang yang ingin tidak terlihat. Untuk seorang dokter senior anggota Komite Medik, ia tampak sangat kecil malam itu.
Alga datang sendiri. Renjana mengawasi dari mobil di seberang—aturan keamanan, jangan pernah semua telur di satu ruangan.
"Saya tidak punya banyak waktu," kata Hartono, tangannya melingkari gelas kopi yang tak ia minum. "Dan saya tidak bangga dengan apa yang akan saya katakan."
"Saya dengarkan, Dok," kata Alga.
Hartono menarik napas panjang, seperti orang yang membuka jahitan luka lama.
"Tujuh tahun saya di Komite Medik. Dulu, dr. Larasati datang ke saya. Dengan bukti, sama seperti kamu. Dia minta saya membela. Saya..." Suaranya pecah sedikit. "Saya menyuruhnya diam. Saya bilang dia akan menghancurkan rumah sakit, karier, semuanya. Saya bilang dia naif."
Alga diam. Membiarkan lelaki tua itu mengeluarkannya.
"Dua minggu kemudian dia mati di tikungan. Dan saya—" Hartono menutup matanya. "Saya menandatangani kesimpulan 'kecelakaan tunggal'. Saya tahu itu tidak benar. Saya tahu remnya tidak mungkin blong di mobil baru. Tapi saya tanda tangan. Karena saya takut. Karena saya punya anak yang masih sekolah, cicilan rumah, dan seorang Direktur yang tersenyum seperti kakek baik tapi matanya seperti es."
Alga merasakan campuran kemarahan dan iba yang sulit dipisahkan. "Kenapa Bapak menemui saya sekarang?"
Hartono mengeluarkan amplop dari dalam jaketnya, meletakkannya di meja seolah benda itu membakar tangannya.
"Karena saya sudah cukup tua untuk tahu bahwa saya akan mati membawa rasa bersalah ini kalau saya terus diam. Larasati datang ke saya, dan saya menyuruhnya mati sendirian. Saya tidak akan melakukan itu dua kali."
Alga membuka amplop. Notulen rapat direksi. Stempel resmi. Tanggal-tanggal. Dan di tengah halaman, kalimat yang membuat darahnya berdesir.
"Ditetapkan: ambang mortalitas IGD maksimal 2,0% untuk kelayakan akreditasi dan pencairan hibah tahap I. Direktur Utama menginstruksikan 'manajemen risiko statistik' melalui mekanisme triase lanjutan dan rujukan dini. Pelaksanaan teknis didelegasikan kepada dr. W."
"Manajemen risiko statistik," baca Alga, mulutnya kering. "Mekanisme triase lanjutan. Mereka menulisnya. Dalam notulen resmi."
"Dengan bahasa yang sopan," kata Hartono pahit. "Tak ada kata 'bunuh'. Tak ada 'pulangkan untuk mati'. Tapi semua yang duduk di ruangan itu tahu persis apa artinya. 'Rujukan dini' berarti membuang pasien sebelum mereka mati di kolom kita. 'Triase lanjutan' adalah stempel ungu."
"Ini menyebut Damar." Alga menunjuk. "'Direktur Utama menginstruksikan'. Ini mengikat Damar langsung."
"Itu sebabnya saya membawanya. Bukti administratif. Bukan kesaksian yang bisa dibantah—dokumen, dengan stempel, dengan tanda tangan kehadiran." Hartono menatapnya. "Saya menandatangani notulen ini dulu. Saya hadir di ruangan itu. Tanda tangan saya ada di lembar absen. Yang berarti, dengan menyerahkan ini, saya juga menyerahkan diri saya sendiri."
Alga menatap lelaki tua itu. "Bapak tahu apa yang mereka lakukan pada orang yang melawan."
"Saya tahu lebih baik dari siapa pun." Hartono tersenyum lelah. "Saya yang menandatangani surat kematian Larasati. Sekarang, mungkin, saya menandatangani surat kematian saya sendiri. Tapi setidaknya, kali ini, dengan tinta yang benar."
Ia berdiri, menarik topinya rendah.
"Jaga dokumen itu, Alga. Salin ke banyak tempat. Jangan biarkan saya menjadi Larasati yang kedua—mati membawa bukti yang tak pernah sampai."
Sebelum melangkah pergi, ia berhenti.
"Satu hal lagi. Notulen itu menyebut 'hibah tahap I'. Itu artinya ada tahap-tahap berikutnya. Dan keputusan sebesar itu—ratusan miliar—tidak diputuskan oleh seorang direktur rumah sakit sendirian. Cari ke atas Damar, Nak. Ada tangan yang lebih besar yang menulis naskah ini."
Lalu ia menghilang ke dalam gelap, seorang lelaki tua yang akhirnya memilih—terlambat dua tahun, tapi memilih.
Alga menggenggam amplop itu erat. Di seberang jalan, lampu mobil Renjana berkedip sekali. Aman. Pulang.
Tapi Alga tahu, mulai malam ini, kata "aman" punya umur yang makin pendek bagi mereka semua.