Pintu IGD terbuka dan tidak berhenti terbuka selama empat puluh menit berikutnya.
Tandu demi tandu masuk. Petugas ambulans mendorongnya cepat, berteriak menyebutkan kondisi—"laki-laki, sesak, dada terbentur setir"; "perempuan, pingsan, kemungkinan cedera kepala"; "anak-anak, patah tulang terbuka femur kanan, perdarahan aktif". Alga merasa otaknya hampir tak sanggup memproses semuanya.
"Triase!" Renjana berdiri di tengah ruangan seperti dirigen di tengah badai. "Merah ke zona resusitasi. Kuning ke ranjang tengah. Hijau suruh duduk dulu, jangan ada yang nyelak. Alga!"
"Iya, Dok!"
"Kamu pegang yang kuning. Periksa cepat, lapor ke saya kalau ada yang memburuk. Jangan tinggalkan yang merah ke saya sendirian, saya nggak punya sepuluh tangan."
Alga berlari ke ranjang tengah. Seorang ibu paruh baya memegangi lengannya yang bengkok tidak wajar.
"Bu, saya periksa ya." Alga meraba pergelangan. "Bisa gerakin jari?"
Si ibu menggeleng sambil meringis. "Sakit, Dok. Sakit banget."
"Patah radius distal, kemungkinan. Nanti kita rontgen." Alga mencatat di lembar status. "Saya kasih obat nyeri dulu ya, Bu."
Ia berpindah ke ranjang berikutnya. Lalu berikutnya. Seorang bapak dengan luka robek di kepala yang masih mengucur. Seorang remaja perempuan yang gemetar karena syok tapi tidak terluka parah. Setiap pasien butuh keputusan. Setiap detik terasa seperti ujian yang tidak pernah ia pelajari benar.
"Dok!" Seorang perawat memanggilnya. Name tag-nya bertuliskan Sekar. "Yang ranjang sembilan, tekanan darahnya turun. Tadi sembilan puluh, sekarang tujuh puluh per palpasi."
Alga bergegas. Ranjang sembilan—seorang laki-laki muda, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahinya. Perutnya tegang saat Alga menekan.
"Perut kaku," gumam Alga. Otaknya bekerja cepat, mencocokkan gejala. Tekanan turun, nadi cepat, perut tegang setelah trauma tumpul. "Ini... perdarahan dalam. Mungkin limpa."
"Lapor konsulen?" tanya Sekar.
"Iya. Sekarang." Alga menoleh mencari Renjana, tapi konsulen itu sedang menunduk di atas pasien lain, tangannya berlumur darah, melakukan intubasi. Alga ragu sesaat. Mengganggu? Atau menunggu?
Ia teringat kata-kata Renjana. Lima menit itu selisih antara hidup dan mati.
"Dok Renjana!" Alga memberanikan diri berteriak. "Ranjang sembilan, suspek ruptur limpa, tensi tujuh per palpasi, perut akut!"
Renjana tidak menoleh, tapi suaranya menyahut tegas. "Pasang dua jalur infus besar, guyur kristaloid, panggil bedah cito, siapkan darah golongan O. Sudah saya dengar. Jalankan."
Alga bergerak. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti benar-benar dokter, bukan mahasiswa yang tersesat. Ia memasang jalur kedua, meneriakkan instruksi ke perawat, menelepon kamar operasi. Tangannya bergerak lebih cepat dari ketakutannya.
Sepuluh menit kemudian, tim bedah datang dan membawa pasien itu ke kamar operasi. Saat tandu menghilang di balik pintu lift, Alga berdiri sejenak, terengah.
"Kamu benar soal limpanya," kata Renjana yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, melepas sarung tangan berdarah. "Lumayan. Untuk anak baru."
Itu bukan pujian hangat. Tapi dari Renjana, Alga merasa itu sudah seperti medali.
"Terima kasih, Dok."
"Jangan keburu senang." Renjana menyeka dahi dengan lengan. "Hari ini baru mulai. Dan kamu akan salah. Banyak. Yang penting kamu jangan sampai salah yang membunuh orang." Ia menatap Alga lurus. "Di IGD, kesalahan itu bukan nilai jelek di rapor. Kesalahan itu peti mati."
Alga mengangguk pelan. Di belakangnya, monitor ranjang dua tiba-tiba berbunyi panjang—alarm datar yang ia harap tidak akan pernah ia dengar.
"Itu pasien siapa?" Renjana langsung berbalik.
Sekar memeriksa. "Bapak yang luka kepala tadi, Dok. Tadi sadar—"
"Kode biru!" Renjana berteriak. "Ranjang dua, kode biru!"
Dan untuk pertama kalinya, Alga mendengar dua kata yang akan menghantui sisa hari pertamanya, dan mungkin seluruh kariernya.