dr. Hartono mengirim isyarat lewat amplop tak bernama yang diselipkan di loker Alga—loker miliknya sendiri, bukan loker 13. Di dalamnya, satu lembar: salinan jadwal audit akreditasi, dan sebaris tulisan tangan.
"Mereka mempersiapkan 'pasien contoh'. Hati-hati 6 minggu ke depan. —seorang yang dulu diam."
Alga membawanya ke Renjana. Mereka membacanya di ruang istirahat IGD yang sepi, suara denting monitor dari ruang sebelah menjadi latar.
"Pasien contoh," ulang Renjana. "Aku tahu apa artinya."
"Apa?"
"Saat auditor datang, mereka tak bisa menyembunyikan seluruh IGD. Auditor akan keliling, melihat pasien nyata, membaca status acak. Jadi mereka menyiapkan—" Renjana mencari kata yang tepat, "—pertunjukan. IGD yang dipoles. Pasien-pasien 'aman' yang ditata rapi. Status yang sempurna. Sementara pasien berat yang berisiko merusak angka—"
"—disingkirkan sebelum auditor datang," sambung Alga.
"Atau distempel ungu lebih cepat dari biasanya. Diburu-buru pulang, mati di luar, hilang dari papan." Renjana menatap jadwal itu. "Enam minggu, Alga. Selama enam minggu ini, Bumi Sentosa akan jadi panggung sandiwara. Dan setiap pasien yang tak cocok dengan naskah, akan dicoret. Bukan dari status. Dari hidup."
Alga merasakan amarah yang dingin. "Berapa pasien yang akan mereka bunuh demi enam minggu ini?"
"Tergantung berapa banyak yang masuk dengan penyakit yang bisa mati." Renjana melipat kertas itu. "Edema paru. Infark. Stroke. Sepsis. Semua yang bisa meninggal dalam hitungan jam—itu yang paling berisiko merusak angka, jadi paling diburu untuk 'diselesaikan di luar'."
Mereka duduk dalam diam. Di ruang sebelah, monitor berdetak teratur—seseorang masih hidup, untuk sekarang.
"Kita tak bisa menunggu enam minggu untuk membangun kasus," kata Alga akhirnya. "Selama enam minggu itu, orang mati."
"Tapi kalau kita bertindak terlalu cepat dengan bukti setengah matang, kita kalah, dan mereka menang permanen. Akreditasi lulus, dana cair, dan mereka jadi 'rumah sakit teladan nasional'. Setelah itu mustahil disentuh." Renjana menatapnya. "Ini bukan pilihan antara cepat dan lambat, Alga. Ini pilihan antara dua jenis kalah, kecuali kita sangat, sangat presisi."
Pintu ruang istirahat terbuka. Wirya menyembul, jas seputih biasa, pantofel mengilap.
"Wah, dua dokter favorit saya." Senyumnya licin. "Rapat apa, nih? Pagi-pagi sudah serius."
"Membahas jadwal jaga," kata Renjana datar, menyelipkan kertas ke kantongnya tanpa terburu.
"Bagus, bagus." Wirya melangkah masuk, melihat ke sekeliling, lalu menatap Alga dengan senyum yang tak sampai ke mata. "dr. Alga, ada kabar baik. Sebentar lagi rumah sakit kita akan kedatangan tim akreditasi internasional. Momen bersejarah. Saya harap semua dokter, terutama yang muda dan idealis, bisa menjaga... ketenangan. Tidak membuat keributan yang tidak perlu. Demi nama baik kita semua."
"Tentu, dr. Wirya," kata Alga, suaranya rata. "Saya cuma mau pasien selamat. Itu nama baik yang paling saya pedulikan."
Senyum Wirya membeku sedetik. "Pasien selamat. Ya. Tentu saja." Ia berbalik ke pintu. "Asal kita semua paham, dr. Alga, bahwa 'selamat' itu kadang lebih rumit dari yang dipikirkan dokter baru. Ada hitungan yang lebih besar dari satu pasien."
Pintu menutup di belakangnya.
Alga menatap pintu itu lama. "Dia baru saja mengancam dan memberi tahu kita jadwalnya sekaligus."
"Itu yang dia kira." Renjana berdiri. "Tapi dia juga baru memberi tahu kita kapan mereka paling rentan. Orang yang sedang menyiapkan pertunjukan, Alga, paling takut pada penonton yang tahu naskahnya."
Renjana menatap kalender di dinding ruang istirahat. Tanggal audit. Lingkaran merah yang sama.
"Empat puluh dua hari," katanya pelan. "Mereka pikir ini hitungan mundur menuju kemenangan mereka." Ia mengambil jasnya. "Kita ubah jadi hitungan mundur menuju kejatuhan mereka."