Dinding ruang belakang RS Harapan Kita berubah jadi peta perang.
Anindita memberi pinjam ruang gudang lama. Di sana, selama tiga malam, Alga, Renjana, dan Sekar—yang kini sering menyelinap usai shift—menempel kertas demi kertas. Catatan Larasati. Berkas dari loker. Map rujukan Anindita. Foto-foto buram dari malam di B2. Buku catatan kulit yang berhasil diselamatkan.
"Kita susun seperti epidemiologi," kata Renjana, spidol di tangan. "Setiap kasus, tiga titik. Tanggal masuk Bumi Sentosa. Diagnosis asli dan diagnosis yang dicoret. Tanggal dan tempat kematian."
Mereka mulai. Garis demi garis. Nama demi nama.
Pak Sudirja—STEMI anterior, dicoret jadi dispepsia, mati di rumah dua hari kemudian.
Bu Komariah—stroke perdarahan, dicoret jadi vertigo, mati dalam perjalanan ke Harapan Kita.
Pak Solihin—dulu hampir, tapi diselamatkan Alga. Garis hidup di tengah laut garis mati.
Satu per satu, titik-titik itu terhubung. Dan saat malam ketiga, dinding itu penuh.
Empat belas kasus. Dua lebih dari yang Renjana minta.
Alga mundur, menatap dinding itu secara keseluruhan. Empat belas garis. Empat belas orang yang masuk hidup dengan penyakit berat, distempel ungu, dipulangkan "sehat", lalu mati di luar tembok rumah sakit. Empat belas keluarga yang menyalahkan takdir.
"Lihat ini," kata Renjana, menarik kertas lain—grafik yang ia minta Sekar salin dari data internal IGD. "Angka kematian resmi IGD Bumi Sentosa. Dua tahun terakhir, turun terus. Dari 4,2 persen jadi 1,8 persen. Direksi membanggakannya. Spanduk dipasang. 'Rumah Sakit dengan Mortalitas Terendah Se-Provinsi'."
"Tapi—" Alga menunjuk grafik lain.
"Tapi jumlah pasien gawat darurat berat justru naik." Renjana menyelesaikan kalimatnya. "Lebih banyak kasus berat masuk, tapi lebih sedikit yang mati di dalam. Secara medis, itu mustahil tanpa lonjakan teknologi atau tenaga. Dan Bumi Sentosa tidak menambah apa pun. Justru memangkas."
Sekar menatap dinding itu, wajahnya pucat. "Jadi angka turun bukan karena lebih banyak yang selamat. Tapi karena yang mati... dibuang dulu sebelum mati."
"Mereka memindahkan kematian ke luar gerbang," kata Alga, suaranya berat. "Statistik bersih. Karena mayat-mayatnya jatuh di rumah, di jalan, di rumah sakit lain. Bukan di kolom mereka."
Keheningan menyelimuti gudang itu. Empat belas nama menatap balik dari dinding.
"Ini cukup?" tanya Sekar pelan.
Renjana menatap dinding lama. Lalu menggeleng. "Cukup untuk meyakinkan kita. Belum cukup untuk pengadilan."
Alga berbalik. "Apa lagi yang kurang? Empat belas kasus, pola jelas, grafik anomali—"
"Yang kurang adalah orang yang bisa berkata, di bawah sumpah, di depan pengadilan, bahwa angka-angka ini bukan kebetulan statistik—melainkan rekayasa yang dirancang." Renjana menatapnya. "Kita dokter, Alga. Kita bisa baca EKG, bukan tabel probabilitas. Pengacara mereka akan menyewa ahli statistik yang bilang 'ini variasi acak'. Kita butuh ahli yang lebih kuat. Forensik medis. Epidemiolog independen. Seseorang yang gelarnya cukup besar untuk tak bisa ditertawakan."
"Di mana kita cari orang seperti itu?"
Anindita, yang sejak tadi diam di pintu, bersuara. "Kontak Larasati di Kemenkes. dr. Sutardjo. Kalau dia masih bisa dipercaya, dia bisa menghubungkan kita ke ahli yang independen. Jalur resmi punya akses ke orang-orang yang tak bisa kita jangkau."
Renjana menatap kertas kecil berisi nama itu. Dua tahun lamanya kertas ini menunggu.
"Ada satu masalah," katanya pelan. Ia menunjuk kalender di dinding, tanggal yang dilingkari merah—lingkaran yang Sekar bawa dari papan pengumuman Bumi Sentosa.
"Apa itu?" tanya Alga.
"Tim akreditasi internasional. Mereka datang enam minggu lagi. Itu tujuan dari semua ini—angka mortalitas sempurna untuk lulus akreditasi, dan dana hibah ratusan miliar cair." Renjana menatap lingkaran merah itu. "Yang berarti, enam minggu ini adalah waktu paling berbahaya. Karena Damar akan ingin angkanya sesempurna mungkin saat auditor datang."
Alga merasakan dinginnya turun ke perut. "Dia akan 'membersihkan' lebih banyak pasien. Lebih agresif. Lebih cepat."
"Setiap pasien berat yang masuk dalam enam minggu ke depan," kata Renjana, "ada di garis bahaya tertinggi. Bukan lagi satu-satu. Mereka akan memoles seluruh laporan." Ia menatap empat belas nama di dinding. "Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa membuktikan yang sudah mati. Tapi apakah kita bisa mencegah yang berikutnya."
Hitungan mundur dimulai. Di dinding gudang itu, di samping empat belas nama, Renjana menulis satu angka besar dengan spidol merah.
42.
Empat puluh dua hari.