Ruang ganti dokter Bumi Sentosa terletak di lantai dua, ujung lorong yang selalu remang. Pukul setengah dua siang, sebagian besar dokter sedang visit atau di poli. Sepi—tapi sepi yang menipu.
Alga masuk dengan jas dan tanda pengenal, wajar saja, ia memang dokter di sini. Yang tak wajar adalah Sekar yang berdiri di pintu, pura-pura mengecek troli linen, menjadi matanya.
"Lima menit," bisik Sekar lewat alat komunikasi kecil di telinga mereka. "Satpam ronde tiap dua puluh menit. Dia baru lewat. Kamu punya jendela."
Alga menelusuri deret loker logam. Nomor-nomor pudar. 10. 11. 12.
13.
Lokernya masih bergembok—gembok lama, berkarat. Di pintunya, masih tertempel selotip dengan tulisan tangan yang sudah menguning: dr. Larasati. Dua tahun. Tak seorang pun berani melepasnya.
Alga mengeluarkan kunci yang ada di kotak Renjana—satu-satunya kunci yang tersisa, yang dulu Larasati titipkan tanpa pernah dijelaskan untuk apa. Tangannya gemetar. Dulu tangan ini gemetar saat menusuk vena pertama. Sekarang gemetar untuk alasan yang lebih besar.
Tarik napas. Tangan yang dulu gemetar, kini harus mantap.
Kunci masuk. Berputar. Klik.
Gembok terbuka.
Di dalam loker, jas putih tergantung, masih ada noda kopi di sakunya. Sepasang sepatu. Tumpukan jurnal. Dan di rak atas, sebuah amplop cokelat tebal, dilakban rapat.
Alga meraihnya—
"Ada orang." Suara Sekar mendesis di telinga. "Satpam balik lebih cepat. Tiga puluh detik."
Jantung Alga berhenti sedetik. Ia memasukkan amplop ke dalam jasnya, menutup loker, memasang kembali gembok yang tak terkunci agar tampak utuh, lalu—
Pintu ruang ganti terbuka.
Satpam itu menyembul, lampu senter di tangan. "Siapa di situ?"
Alga berbalik, menarik kemeja gantinya dari loker terdekat seolah baru selesai berganti. "Saya, Pak. dr. Alga. Habis ganti, mau lanjut shift."
Mata satpam menyapu ruangan. Berhenti di loker 13. Detak jantung Alga menggila.
"Loker itu," kata satpam. "Loker almarhumah. Jangan disentuh, Dok. Katanya angker."
Alga memaksakan senyum. "Iya, Pak. Saya juga ngeri. Loker saya yang sebelah."
Satpam mengangguk, masih menatap, lalu—pelan—mundur. "Ya sudah. Hati-hati, Dok. Ruangan ini dingin." Pintu menutup.
Alga bersandar ke loker, napasnya tertahan sejak tadi baru ia lepas. Lima menit. Lima menit antara ketahuan dan lolos.
Di kafe kecil seberang rumah sakit, ia dan Sekar membuka amplop itu bersama Renjana, tangan-tangan mereka berkerumun di atas meja seperti dokter mengelilingi luka.
Di dalam: satu berkas kasus lengkap. Nama pasien—almarhum Pak Sudirja, 58 tahun. Status IGD asli dengan diagnosis "STEMI anterior luas". Lalu salinan kedua status yang sama, diagnosis dicoret, diganti "dispepsia", lengkap dengan stempel ungu BS-7. Surat pemulangan. Dan—surat kematian, tertanggal dua hari kemudian, di rumah, "sebab: tidak diketahui".
Satu kasus. Utuh. Bukti yang tak bisa disangkal sebagai salah baca.
Dan di bawahnya, secarik kertas dengan satu nama dan satu nomor telepon.
"dr. Sutardjo, Direktorat Mutu Pelayanan, Kementerian Kesehatan," baca Renjana pelan. "Larasati sudah menyiapkan jalur resmi."
Alga menatap nama itu. Untuk pertama kali dalam berminggu-minggu, sesuatu yang menyerupai harapan menyala di dadanya.
"Jalur resmi," katanya. "Akhirnya ada pintu yang sah."
Renjana tak ikut tersenyum. Ia menatap nomor itu lama.
"Dua tahun yang lalu," katanya pelan. "Nomor ini ditulis dua tahun yang lalu, sebelum Larasati mati. Pertanyaannya, Alga—setelah dua tahun, pintu ini masih terbuka, atau sudah ditutup oleh tangan yang sama yang menutup mulut Larasati?"
Harapan itu meredup sedikit. Tapi tidak padam. Belum.