Renjana membawa kotak itu ke kos sementara Alga—tempat baru, dua minggu sewa, dibayar tunai, tanpa nama asli. Aturan keamanan nomor entah berapa.
Kotak kayu sederhana, ukuran sepatu. Di tutupnya, tulisan tangan yang sudah pudar: L.
"Aku menyimpannya dua tahun," kata Renjana. "Tak pernah berani membukanya. Setelah pemakaman, sahabatnya yang lain memberikannya padaku—barang dari lokernya yang sempat diselamatkan sebelum diambil pihak rumah sakit."
Mereka membukanya bersama di bawah lampu meja.
Di dalam, barang-barang biasa. Stetoskop tua. Foto Larasati dan Renjana di acara wisuda, dua perempuan muda yang tertawa, belum tahu apa yang menunggu mereka. Sebuah pulpen. Buku saku kedokteran darurat dengan halaman-halaman terlipat.
Dan di dasar, sebuah flashdisk dan secarik kertas.
Alga mengambil kertas itu. Tulisan tangan Larasati, terburu-buru.
"Pola jelas. BS-3, BS-7, BS-11 bukan kode penyakit. Itu kode tempat. Map ungu = kuota. Bukan kelalaian—ini desain. Sudah kuhubungi—" lalu coretan, tinta habis atau tangan yang terganggu, "—jangan percaya siapa pun yang menyuruhmu diam."
Renjana menutup matanya sejenak. "Dia sudah tahu. Dua tahun lalu dia sudah memetakan semuanya."
"BS-3, BS-7, BS-11." Alga mengulang. "Kode-kode di buku kulit. Larasati yang pertama menemukan artinya."
"Dan mereka membunuhnya sebelum dia bisa membuktikan."
Alga menancapkan flashdisk ke laptop pinjaman. Sebuah jendela terbuka, meminta sandi.
"Terenkripsi," kata Alga. "Dia mengunci datanya."
Renjana mendekat. "Tentu saja. Dia hati-hati di akhir. Terlambat untuk menyelamatkan diri, tapi tidak untuk menyelamatkan bukti."
Mereka mencoba beberapa sandi. Tanggal lahir Larasati. Tanggal wisuda. Nomor induk pegawai. Semua ditolak. Setelah percobaan kelima, muncul peringatan: dua percobaan tersisa sebelum data dihapus permanen.
Alga menarik tangannya dari keyboard seolah tersengat. "Hampir saja."
"Berhenti." Renjana menutup laptop. "Kita tak boleh menebak buta. Dua kesempatan tersisa berarti hanya boleh memasukkan sandi yang kita yakin."
"Tapi kita tidak tahu sandinya."
"Belum." Renjana memandang kertas Larasati lagi. "Dia akan menaruh petunjuk. Larasati tak pernah meninggalkan apa pun tanpa peta. Dia membenci kekacauan. Lihat catatan ini—rapi bahkan saat panik."
Alga membaca ulang baris terakhir. Jangan percaya siapa pun yang menyuruhmu diam.
"Renjana," katanya pelan, "kalau dia sudah punya semua bukti ini, kenapa tidak ia simpan di flashdisk ini saja? Kenapa harus dipisah?"
Renjana terdiam. Pertanyaan itu menggantung.
"Karena," katanya akhirnya, "flashdisk ini bukan yang utama. Ini petunjuk. Lihat—isinya pasti terlalu kecil untuk ratusan kasus. Dia menyembunyikan bukti lengkap di tempat lain, dan flashdisk ini cuma peta ke sana."
Alga merasakan jantungnya berpacu. "Jadi ada bukti lengkap. Di suatu tempat. Yang sindikat sampai sekarang tidak temukan."
"Mungkin." Renjana mengangkat foto wisuda itu, menatap wajah sahabatnya yang tertawa. "Dia menyembunyikannya begitu rapi sampai pembunuhnya pun tak bisa menemukan. Dua tahun, dan map ungu masih ada karena mereka tak pernah tahu apa yang Larasati simpan."
"Lalu di mana?"
Renjana membalik buku saku Larasati. Di sampul dalam, tertulis dengan tinta yang sama: Lihat tempat di mana kita menyimpan masa lalu. Loker 13.
Alga dan Renjana saling pandang.
"Lokernya," kata Renjana. "Ruang ganti dokter. Loker 13. Dua tahun, dan rumah sakit tak pernah mengosongkannya—orang takut menyentuh barang orang mati."
"Masih di dalam Bumi Sentosa," kata Alga, mulutnya kering. "Di sarang mereka sendiri."
Renjana menatap flashdisk yang terkunci itu, lalu kertas terakhir Larasati.
"Dia menyembunyikan kebenaran di tempat paling berbahaya," gumamnya, "karena tahu itu tempat terakhir yang akan mereka cari."
Di luar, hujan mulai turun, jarum-jarum tipis menabuh kaca. Suara yang sama dengan malam Larasati mati di tikungan dua tahun lalu—begitu Renjana pernah berkata. Hujan yang tak pernah benar-benar berhenti.