Kabar itu datang dari Sekar saat tengah malam: kondisi Pak Gunawan di ICU memburuk.
Gunawan—lelaki tua yang memberi kartu akses, yang sejak malam di B2 koma karena "jatuh dari tangga servis". Dirawat di ICU Bumi Sentosa, di bawah pengawasan Wirya. Di sarang serigala.
Alga datang dengan dalih konsul. Renjana sudah di sana, berdiri di samping ranjang tujuh, membaca monitor dengan dahi berkerut.
"Saturasi turun. Tekanan darah anjlok. Kesadaran makin dalam." Renjana menunjuk grafik. "Tadi sore masih stabil. Lalu mendadak jatuh dalam tiga jam."
Alga memeriksa lembar observasi. Lalu lembar pemberian obat. Lalu—ia berhenti.
"Renjana. Lihat ini."
Di lembar obat, midazolam—sedatif—diberikan dengan dosis yang... salah. Bukan salah ketik. Laju infus dinaikkan tiga kali lipat dari yang seharusnya, ditulis dengan tinta berbeda, tanpa instruksi dokter yang jelas.
"Mereka membuatnya tertidur terlalu dalam," kata Alga, suaranya turun jadi bisikan. "Overdosis sedatif. Pelan-pelan. Sampai pernapasannya berhenti sendiri, dan di status tertulis 'perburukan kondisi koma'. Tak ada yang curiga. Tak ada luka. Tak ada bekas."
Renjana mengepalkan tangan. "Mereka menjadwalkannya. Di ranjangnya sendiri."
"Berapa lama lagi?"
Renjana melihat saturasi: 86 persen dan terus turun. Napas Gunawan dangkal, jarang. "Kalau ini terus, satu jam. Mungkin kurang."
Golden hour. Tapi kali ini bukan untuk pasien kecelakaan. Untuk lelaki tua yang memulai semuanya.
"Sekar." Alga menoleh ke perawat yang berjaga. "Stop midazolam. Sekarang. Ganti dengan cairan rumatan biasa."
"Tanpa instruksi dokter penanggung jawab, saya—"
"Saya dokter. Ini instruksi. Catat atas nama saya." Alga menatapnya. "Kalau ada yang mempermasalahkan, biar saya yang tanggung."
Sekar menelan ludah, lalu bertindak. Selang midazolam ditutup.
Renjana sudah menyiapkan flumazenil—penawar sedatif. "Dosis kecil dulu. Titrasi. Kita bangunkan dia pelan-pelan, jangan sampai kejang."
Mereka bekerja cepat dan tenang, dua dokter di atas satu tubuh tua, melawan racun yang disuntikkan teman sejawat mereka sendiri. Monitor berbunyi. Saturasi 86. 87. 89.
"Ayo, Pak Gunawan," gumam Alga. "Bertahan. Lima menit lagi."
92. Napas Gunawan mulai dalam. Kelopak matanya bergerak.
95.
Lelaki tua itu membuka mata, kabur, bingung. Bibirnya bergerak. Alga mencondongkan telinga.
"...Dokter Larasati...?"
Mata Alga panas. "Bukan, Pak. Saya Alga. Dokter Larasati... beliau yang mengirim saya. Bapak aman sekarang."
Tapi aman di sini adalah dusta, dan mereka berdua tahu itu.
"Kita harus memindahkannya," kata Renjana. "Malam ini juga. Selama dia di ranjang ini, mereka akan coba lagi—besok, lusa, sampai berhasil. Di sini, Gunawan adalah mayat yang menunggu jadwal."
"Pindah ke mana? Mereka mengawasi setiap rujukan keluar."
Renjana sudah memikirkannya. "Harapan Kita. dr. Anindita sudah menyiapkan ranjang. Tapi rujukan resmi pasti diblokir Wirya. Jadi kita keluarkan dia bukan sebagai rujukan."
"Sebagai apa?"
Renjana menatap Gunawan—lelaki tua, kurus, hampir tak ada bobotnya. Lalu menatap jam dinding. Pukul tiga pagi. Pergantian shift jaga malam. Lengah.
"Sebagai pasien yang 'meninggal dan dijemput keluarga'." Suara Renjana datar dan dingin. "Kita pakai senjata mereka sendiri. Mereka pandai membuat orang hidup menghilang dari statistik. Sekarang kita buat orang yang dijadwalkan mati—menghilang sebelum mereka sempat membunuhnya."
Alga menatapnya, lalu menatap dada Gunawan yang naik-turun, hidup, di tepi jurang.
"Kita curi nyawa dari dalam catatan mereka," kata Alga pelan.
"Tepat," kata Renjana. Ia mulai melepas monitor satu per satu. "Sekarang. Sebelum shift baru masuk dan menghitung ranjang."