Alga tak pernah bertanya ke mana Renjana pergi setiap selesai shift. Pagi itu ia tahu—tanpa sengaja.
Ia mengantar salinan bukti ke alamat yang Renjana berikan, sebuah rumah petak sederhana di pinggir kota. Pintu dibuka oleh Renjana yang tak berjas, mengenakan kaus oblong, terlihat sepuluh tahun lebih muda dan sekaligus lebih lelah.
"Masuk dulu," kata Renjana, ragu sesaat. "Tapi pelan."
Di dalam, kamar paling belakang. Seorang lelaki muda terbaring, mungkin awal dua puluhan, kurus, kulit pucat kekuningan. Selang oksigen di hidungnya. Di sampingnya, tiang infus dan tumpukan kotak obat yang Alga kenali sekali pandang—imunosupresan, obat mahal, obat yang harus diminum seumur hidup.
"Kavi," kata Renjana. "Adik saya."
Lelaki muda itu membuka mata, tersenyum lemah. "Mbak bawa teman?"
"Teman kerja." Renjana mengusap dahi adiknya. "Dia dokter juga."
Kavi menatap Alga. "Jaga mbak saya, ya, Dok. Dia keras kepala tapi gampang capek."
Alga tertawa kecil, tenggorokannya terasa penuh. "Siap."
Di dapur, sambil menuang teh, Renjana bercerita dengan suara yang ia tahan agar tak terdengar ke kamar belakang.
"Gagal ginjal kronik sejak dua tahun lalu. Lupus. Dia butuh cuci darah dua kali seminggu, obat penekan imun tiap hari, dan suatu hari nanti—transplantasi." Renjana menaruh ceret. "Semua itu lewat BPJS dan akses rumah sakit. Aksesku."
Alga mulai mengerti. Pelan, dan pahit.
"Kamu bertahan di Bumi Sentosa," katanya, "bukan cuma karena pekerjaan."
"Bukan." Renjana menyandar ke meja. "Kalau aku dipecat, aku kehilangan jejaring rujukan, antrean cuci darah yang sudah susah payah kudapat, kontak dokter yang mau menolong di luar prosedur. Kavi bisa menunggu enam bulan untuk satu slot yang seharusnya kudapat dalam seminggu. Enam bulan, Alga, untuk orang dengan ginjal yang tinggal sepuluh persen."
"Itu sebabnya kamu tidak pernah melawan terang-terangan."
"Itu sebabnya aku menyelamatkan pasien satu per satu, diam-diam, di bawah radar." Renjana menatap teh yang mengepul. "Aku tak bisa membakar rumah saat adikku masih di dalamnya."
Alga terdiam lama. Ia teringat tulisan merah di cermin kosnya. Mereka tahu titik lemahnya—orang tua di kampung. Berarti, pikirnya dengan ngeri, mereka pasti juga tahu titik lemah Renjana.
"Renjana." Suaranya turun. "Kalau mereka tahu soal Kavi..."
"Mereka tahu." Renjana mengatakannya tanpa drama, seperti menyebut hasil lab. "Wirya pernah menyebutnya, sekali. Setahun lalu. 'Apa kabar adik Anda, dr. Renjana? Semoga rujukannya lancar.' Senyum manis. Aku tahu persis apa artinya itu."
Bulu kuduk Alga meremang. "Dan kamu tetap melawan."
"Aku tetap menjaga gerbang." Renjana mengoreksi. "Melawan terbuka itu kemewahan, Alga. Untuk orang yang tak punya siapa-siapa yang bisa disandera. Larasati punya kemewahan itu. Aku tidak."
Alga teringat dr. Larasati—nama yang selalu muncul seperti luka yang tak mau menutup.
"Dia sahabatmu, bukan cuma pendahulu."
Renjana menatapnya. Untuk pertama kali, mata datar itu berkaca.
"Kami satu angkatan koas. Dia yang lebih berani. Aku yang lebih hati-hati. Dia bilang aku terlalu banyak menghitung." Renjana tersenyum, kecil dan getir. "Lalu dia mati di tikungan, dan aku—yang terlalu banyak menghitung—masih hidup, menjaga gerbang yang dia tinggalkan. Setiap pasien stempel ungu yang kuselamatkan, aku merasa membayar utang pada perempuan yang mati karena tak menghitung."
Dari kamar belakang, terdengar batuk Kavi, lalu suaranya, "Mbak? Tehnya keburu dingin!"
Renjana menyeka matanya cepat, kembali datar. "Iya, sebentar."
Ia mengangkat cangkir. Sebelum keluar dapur, ia berhenti di samping Alga.
"Sekarang kamu tahu kenapa aku hati-hati. Dan sekarang kamu tahu, kalau aku tiba-tiba mundur suatu hari—bukan karena aku pengecut. Tapi karena ada nyawa di kamar belakang yang lebih dekat denganku daripada nyawa di IGD."
Alga mengangguk. Sesuatu di dadanya bergeser—ikatan yang baru, lebih dalam dari mentor dan murid.
"Tapi kamu belum mundur," katanya pelan.
Renjana menatap pintu kamar adiknya. "Belum," katanya. "Belum."