Pukul tiga pagi, ponsel Alga bergetar di atas meja kos. Bukan panggilan. Foto. Pintu kamarnya sendiri, dipotret dari dalam, lampu menyala.
Ia bangkit terlalu cepat sampai kepalanya berputar. Pintu kos di ujung gang. Lima menit berkendara. Lima menit selisih hidup dan mati—kalimat itu menyusup lagi, seperti selalu.
Sampai di sana, gembok kamarnya menggantung patah. Di dalam, laci-laci terbalik. Pakaian berhamburan. Kasur dirobek di tengah. Laptopnya hilang.
Alga berdiri di ambang, napasnya pendek. Mereka mencari bukti. Mereka mengaduk-aduk hidupnya untuk mencari buku catatan kulit dan foto-foto map ungu yang—syukurlah—sudah ia dan Renjana pindahkan dua hari lalu.
Di cermin retak, ada tulisan dengan spidol merah.
KAMPUNG GIRIMULYO INDAH BUKAN, PAK MAHENDRA? TITIP SALAM BUAT BAPAK IBU.
Tangan Alga mengepal. Girimulyo. Desa orang tuanya. Mereka tahu di mana ibunya menanak nasi setiap pagi, di mana bapaknya menjaga sawah dengan lutut yang sudah tak kuat.
Ia menelepon Renjana dengan jari gemetar.
Renjana datang setengah jam kemudian, masih berjas. Ia melihat kekacauan itu dengan wajah datar yang justru lebih menakutkan dari panik.
"Jangan sentuh apa-apa," kata Renjana. "Foto semuanya. Sudut lebar, lalu tulisan itu close-up."
"Renjana, mereka menulis nama orang tua saya."
"Saya tahu." Renjana menarik napas. "Itu memang tujuannya. Mereka mau kamu takut, lalu ceroboh. Ketakutan bikin orang menyimpan semua telur di satu keranjang—lalu mereka pecahkan satu keranjang itu."
Alga menatapnya. "Laptop saya diambil."
"Ada bukti di situ?"
"Tidak. Cuma jurnal kuliah. Foto-foto sudah saya hapus dari sana minggu lalu."
Untuk pertama kali malam itu, sesuatu seperti persetujuan muncul di mata Renjana. "Bagus. Kamu mulai belajar."
Mereka duduk di anak tangga depan kos. Renjana mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi yang Alga tak kenal.
"Mulai sekarang, aturannya begini." Suara Renjana pelan, terlatih, seperti membacakan resep. "Satu, jangan pernah menyimpan bukti di benda fisik yang bisa dicuri. Foto, scan, lalu unggah ke penyimpanan awan terenkripsi—dua layanan berbeda, dua sandi berbeda."
"Dua?"
"Kalau satu jatuh, satu masih berdiri. Itu prinsip yang sama dengan kenapa kita pasang dua jalur infus pada pasien syok. Redundansi. Kamu sudah tahu itu, cuma belum sadar berlaku di luar tubuh."
Alga mengangguk perlahan.
"Dua," lanjut Renjana, "salinan ketiga di luar kota. Titipkan ke orang yang tak ada hubungan dengan rumah sakit. Tiga, jangan pernah bicara soal kasus di ruangan yang tak kamu kontrol. Anggap setiap dinding punya telinga. Karena di Bumi Sentosa, memang begitu."
"Dan orang tua saya?"
Renjana diam sejenak. Lampu jalan berkedip di atas mereka.
"Telepon mereka pagi ini. Jangan ceritakan yang sebenarnya—jangan buat mereka takut, takut bikin orang tua bertindak bodoh. Bilang ada perampokan di kos, minta mereka menginap di rumah saudara untuk sementara. Wajar. Tidak mencurigakan."
"Itu bohong."
"Itu melindungi." Renjana menatapnya lurus. "Alga, ada bedanya antara jujur dan ceroboh. Larasati jujur. Larasati ceroboh. Larasati mati di tikungan yang remnya tak pernah blong."
Nama itu menggantung di udara dingin.
Alga menelan ludah. "Saya minta maaf."
"Jangan minta maaf. Belajar." Renjana berdiri, menepuk debu di celananya. "Sekarang kita pindahkan semua salinan malam ini juga. Sebelum subuh. Karena setelah ini mereka tahu, perampokan gagal—dan orang yang gagal mengambil sesuatu akan datang lagi."
Alga menatap tulisan merah di cermin retak. Wajahnya sendiri terbelah di dalamnya, satu mata di kiri, satu di kanan, seperti dua orang yang berbeda. Dokter lugu yang dulu, dan orang yang harus ia jadi sekarang.
Ia memotret tulisan itu sekali lagi. Lalu mengunggahnya. Dua kali. Dua tempat. Dua sandi.
Di langit timur, garis pertama subuh mulai menyala—biru pucat, warna yang sama dengan layar monitor saat jantung berhenti berdetak.