Surat itu datang dua hari kemudian, dijepit ke loker Alga. Kop resmi: KOMITE MEDIK RS BUMI SENTOSA. Undangan klarifikasi atas dugaan tindakan indisipliner dan pelanggaran etik.
Ruang rapat Komite Medik di lantai tiga dingin dan resmi. Meja panjang, tujuh kursi, tujuh wajah dokter senior. Alga duduk sendiri di ujung, mahasiswa yang dipanggil ke ruang guru. Di kepala meja, ketua komite membaca laporan Wirya dengan suara monoton: melawan dokter penanggung jawab, memberi antikoagulan tanpa otorisasi, membahayakan pasien.
"Pasien selamat," kata Alga, saat diberi kesempatan bicara. "CT scan mengonfirmasi emboli paru masif. Diagnosis 'anxiety' yang ditulis Dokter Wirya akan membunuhnya dalam hitungan jam. Saya bisa tunjukkan EKG aslinya."
Ia meletakkan salinan di meja. Tujuh pasang mata melihatnya. Lalu ketua komite menggesernya ke samping tanpa membaca.
"Dokter Alga," kata ketua, ramah dan mematikan, "soal benar atau salahnya diagnosis bukan urusan kita hari ini. Urusan kita adalah tata krama. Hirarki. Seorang internsip tidak boleh mempermalukan seniornya di depan perawat. Itu merusak kepercayaan pada institusi."
Institusi, pikir Alga. Mereka melindungi institusi, bukan pasien.
Tapi di antara tujuh wajah itu, satu berbeda. Seorang dokter senior, rambut beruban, kacamata tebal—Alga membaca papan namanya: dr. Hartono. Sepanjang rapat ia tidak bicara. Tapi saat Alga meletakkan EKG, dr. Hartono adalah satu-satunya yang menariknya mendekat dan membacanya. Lama. Dan saat mata mereka bertemu sekejap, Hartono memberikan sesuatu yang nyaris tak terlihat: anggukan kecil. Bukan persetujuan resmi. Lebih seperti pengakuan. Aku melihat. Aku tahu.
Lalu Hartono menunduk lagi ke kertasnya, dan diam, dan Alga mengerti: dokter tua itu takut. Sama seperti Sekar dulu. Sama seperti yang lain. Satu lagi orang yang tahu, dan diam karena punya terlalu banyak yang bisa hilang.
Rapat berakhir dengan "peringatan tertulis pertama". Bukan pencabutan—belum. Hanya garis di pasir.
Di lorong setelah keluar, Alga belajar struktur kekuasaan tempat ia berperang. Di puncak: Yayasan, pemilik rumah sakit, pemburu dana hibah, nama yang belum berwajah. Di bawahnya: Direksi—Pak Damar. Di bawahnya lagi: Komite Medik, yang seharusnya menjaga etik, tapi diisi orang-orang yang ditunjuk Direksi. Lingkaran yang menjaga lingkaran. Setiap pintu dikunci dari dalam.
"Dokter Alga."
Suara itu lembut. Pak Damar berdiri di ujung lorong, sendirian, tangan di saku, senyum kakek yang sama. Tak ada Wirya. Tak ada saksi.
"Saya dengar soal Pak Solihin," kata Damar, mendekat pelan. "Kamu menyelamatkannya. Bagus. Itu yang membuat saya yakin kamu dokter yang baik. Terlalu baik, mungkin." Ia berhenti satu langkah dari Alga. "Saya cuma ingin bilang—jaga dirimu, Nak. Kota ini keras. Saya dengar orang tuamu di kampung. Petani, ya? Bapakmu sakit jantung, kalau tidak salah. Berobat di Puskesmas. Jauh sekali dari sini."
Setiap kata diucapkan dengan kelembutan seorang kakek yang prihatin. Dan setiap kata adalah pisau yang diletakkan pelan-pelan di leher.
Alga tidak menjawab. Ia menatap mata Damar—mata yang memandang nyawa sebagai angka—dan untuk pertama kalinya ia merasakan bukan hanya marah, tapi takut yang nyata, takut yang punya nama dan alamat di kampung.
"Hati-hati di jalan, Dokter," kata Damar. Lalu ia tersenyum, menepuk lengan Alga sekali, dan berlalu, langkahnya tenang, ramah, melewati poster besar di dinding lorong: wajahnya sendiri, tersenyum hangat, dan tulisan emas di bawahnya.
PELAYANAN DARI HATI.
Alga berdiri sendirian di lorong itu lama sekali, surat peringatan di tangan, dan suara bapaknya di kepala—lelaki yang menjual sepetak sawah agar anaknya bisa jadi dokter. Lalu ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku, dan berjalan kembali ke IGD.
Mereka tahu di mana bapaknya. Itu berarti perang ini sudah sampai ke rumah.