Heparin. Antikoagulan. Pengencer darah yang akan melawan sumbatan di paru Pak Solihin—dan satu-satunya hal yang bisa menahannya hidup sampai pagi.
Tapi memberinya berarti menyalahi perintah Wirya secara terbuka. Hitam di atas putih. Internsip menentang dokter senior. Cukup bagi Damar mencabut izinnya hari itu juga.
Alga menulis di lembar terapi, tangannya tegas: Heparin, bolus sesuai berat badan, lalu drip. Konsul jantung cito. Aktifkan jalur emboli paru.
"Dok." Salah satu perawat—mata Wirya—mendekat gugup. "Dokter Wirya bilang anxiety. Kalau saya kasih heparin tanpa seizin beliau—"
"Saya yang menulis. Saya yang bertanggung jawab. Nama saya, paraf saya." Alga menatapnya lurus. "Kalau bapak ini meninggal karena emboli paru yang tidak kita obati, itu yang akan tertulis di otopsi. Bukan anxiety."
Perawat itu ragu, lalu mundur—lalu, Alga tahu, akan langsung memanggil Wirya. Tak apa. Biar.
Sekar sudah menyiapkan heparin. Alga memberikannya. Lalu oksigen dimaksimalkan, posisi pasien disetel, dan Alga berdiri di samping Pak Solihin, memegang pergelangannya, menghitung, menunggu. Saturasi merangkak. 82. 83. Pelan. 85.
Pintu ruang dokter terbanting.
"APA INI?" Wirya datang, kali ini suaranya keras, wajahnya merah. Ia merebut lembar terapi. "Kau memberi heparin? Pada pasien anxiety? Kau bisa membunuhnya kalau ternyata dia perdarahan! Kau internsip baru kemarin sore—berani melawan diagnosis saya di depan perawat?"
Seluruh IGD diam. Perawat-perawat berhenti bergerak. Ini bukan lagi kucing-tikus diam-diam. Ini terbuka.
Alga berdiri tegak. Suaranya tidak gemetar.
"EKG-nya S1Q3T3, Dok," katanya. "Strain jantung kanan. Saturasi delapan puluh satu di udara, naik cuma sampai delapan puluh lima dengan oksigen sepuluh liter. Riwayat imobilisasi belasan jam. Nyeri dada pleuritik. Itu emboli paru sampai terbukti sebaliknya—skor Wells tinggi. Anxiety tidak menurunkan saturasi sampai delapan puluh satu. Dok tahu itu. Setiap dokter tahu itu."
Wirya membuka mulut. Tak ada argumen medis yang keluar. Karena tak ada. Karena Alga benar, dan setiap perawat di ruangan itu tahu Alga benar.
Maka Wirya beralih ke satu-satunya senjata yang ia punya. Kuasa.
"Kau pikir kau pintar." Suaranya merendah, dingin, hanya untuk Alga. "Besok pagi laporan ke Komite Medik. Indisipliner. Membahayakan pasien. Melawan dokter penanggung jawab. Internsipmu, anak muda, selesai. Kau tidak akan pernah jadi dokter di kota ini."
"Mungkin." Alga menatap monitor. Saturasi 88 sekarang. 89. Pak Solihin bernapas lebih lega, warna kembali ke bibirnya. Hidup. "Tapi malam ini bapak ini tidak mati di rumahnya jadi angka di laporan Bapak."
Wirya menatapnya lama, dan untuk pertama kali Alga melihatnya: di balik kemarahan, ada ketakutan. Bukan takut pada Alga. Takut pada apa yang akan Damar katakan karena ia kehilangan kendali di depan selusin saksi.
Wirya berbalik dan pergi. Pantofelnya tidak berdecit anggun kali ini. Ia menyeret langkah.
Konsul jantung datang setengah jam kemudian, mengonfirmasi emboli paru lewat CT, melanjutkan terapi Alga. Pak Solihin hidup.
Saat fajar, Sekar berdiri di samping Alga di nurse station yang sepi. Di tangannya ada amplop kecil: kertas EKG asli, foto status berstempel ungu sebelum dicoret, salinan lembar Wirya bertuliskan "anxiety".
"Bukti pertama yang utuh," kata Sekar pelan. "Kecurangan, real-time, dengan saksi. Tapi Dok—" ia menatap Alga, "—sekarang kamu bukan tikus di dinding lagi. Kamu sudah keluar ke tengah ruangan. Mereka semua melihatmu."
Alga memandang Pak Solihin yang tidur tenang di ranjang, dada naik-turun dengan irama hidup.
"Saya tahu," katanya. "Saya target sekarang."