Alga berdiri di pintu kaca otomatis Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Bumi Sentosa pukul 06.42 pagi, dan untuk sepersekian detik ia berpikir untuk berbalik pulang.
Pintu itu mendesis terbuka. Bau khas langsung menampar wajahnya—campuran alkohol, darah kering, dan sesuatu yang manis menjijikkan yang belakangan ia kenali sebagai bau luka yang membusuk. Suara monitor berdenting di mana-mana. Seseorang merintih panjang di balik tirai. Seorang perempuan menangis sambil memegangi anaknya yang lemas.
"Magang baru?" Seorang perawat berbadan tegap menyodorkan name tag plastik tanpa menoleh. "Pakai. Jangan ilang. Kalau ilang bayar sendiri."
Alga membaca tulisan di name tag itu: dr. Alga Mahendra — Dokter Internsip. Tinta hitamnya masih basah, seakan baru dicetak lima menit lalu. Tangannya gemetar sedikit saat menyematkannya di dada.
"Saya cari dr. Renjana," kata Alga. "Katanya beliau yang—"
"Konsulen jaga? Di sana." Perawat itu menunjuk dengan dagu ke ujung ruangan, ke arah seorang dokter berjas putih yang sedang menekan dada seorang pasien dengan kedua tangan, berirama, keras, tanpa ampun. "Tapi saya saranin jangan ke sana dulu kalau kamu sayang nyawa."
Alga menelan ludah. Ia menatap dr. Renjana dari kejauhan. Perempuan itu mungkin berusia akhir tiga puluhan, rambut diikat ketat ke belakang, wajahnya datar seperti tembok—bukan datar karena tidak peduli, melainkan datar karena sudah terlalu sering melihat kematian sampai wajahnya berhenti bereaksi.
"Henti jantung," gumam seorang perawat di samping ranjang. "Sudah dua siklus, Dok."
"Lanjut," kata Renjana pendek. "Epinefrin satu lagi. Cek irama."
Layar monitor menunjukkan garis bergerigi kacau. Alga tahu itu—ventrikel fibrilasi. Ia pernah menghafalnya ratusan kali untuk ujian. Tapi melihatnya hidup, di tubuh manusia sungguhan yang sebentar lagi mungkin mati, rasanya sama sekali berbeda dengan diagram di buku.
"Defib, dua ratus joule. Semua menjauh." Renjana mengambil paddle. "Clear."
Tubuh pasien tersentak. Garis di monitor berhenti sejenak, lalu—denting teratur. Irama kembali.
"Nadi ada," kata perawat itu. "ROSC."
Renjana tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, melepas sarung tangan, lalu matanya bergerak ke arah Alga yang masih mematung di dekat pintu. Tatapan itu menusuk.
"Kamu," kata Renjana. Suaranya tidak keras, tapi seluruh isi IGD seakan tahu ia sedang bicara dengan siapa. "Internsip baru?"
"I-iya, Dok. Alga Mahendra."
"Sudah berapa menit kamu berdiri di situ?"
Alga mengerjap. "Eh... mungkin lima menit?"
"Lima menit." Renjana mendekat, langkahnya tenang tapi tegas. "Lima menit kamu lihat orang sekarat dan kamu cuma berdiri. Di sini, lima menit itu selisih antara orang pulang ke rumah atau pulang ke liang lahat. Kamu paham?"
Alga membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
"Saya tidak butuh patung di IGD saya," lanjut Renjana. "Saya butuh tangan. Sekarang, di ranjang tiga, ada laki-laki tujuh belas tahun jatuh dari motor. Pasang infus, dua jalur, abocath nomor enam belas. Kamu bisa?"
"Bisa, Dok." Suara Alga nyaris tak terdengar.
"Bagus. Kalau gagal tiga kali, panggil perawat. Jangan sok jago. Pasien bukan bahan latihan kamu." Renjana berbalik. "Selamat datang di IGD, Dokter. Mudah-mudahan kamu kuat sampai siang."
Alga bergerak ke ranjang tiga dengan lutut yang terasa seperti agar-agar. Pasien itu—remaja, wajahnya penuh lecet, ada darah mengering di pelipis—menatapnya dengan mata ketakutan.
"Dok, kaki saya... saya nggak ngerasain kaki saya."
Jantung Alga berdebar. Ia tahu apa artinya itu. Tapi sekarang bukan waktunya panik. Ia menarik napas, mengikat tourniquet di lengan remaja itu, mencari vena.
"Tenang ya," kata Alga, suaranya akhirnya stabil. "Saya Alga. Saya bantu kamu sekarang. Namanya siapa?"
"B-Bima."
"Oke, Bima. Bakal kerasa nyusuk sedikit. Tahan, ya."
Jarum masuk. Darah balik mengalir ke selang. Berhasil. Jalur pertama.
Untuk pertama kalinya sejak pintu kaca itu terbuka, Alga merasa tangannya tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu bahwa hari ini, di rumah sakit ini, ia akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada vena yang sulit dicari.
Di kejauhan, ambulans mulai meraung. Satu. Dua. Tiga sirine bersahutan.
"Kecelakaan beruntun di Tol Lingkar Timur," teriak seseorang dari pos triase. "Korban banyak! Siapkan semua ranjang!"
Renjana menoleh ke seluruh ruangan, suaranya membelah kebisingan.
"Semua bersiap. Pagi ini panjang."