Pukul sebelas malam, ambulans masuk dengan sirene meraung. Sekar yang pertama menyambut brankar.
"Laki-laki, lima puluh empat tahun, sesak napas mendadak satu jam lalu, nyeri dada kanan, baru pulang dari perjalanan jauh naik bus belasan jam!" Petugas ambulans berteriak menyerahkan pasien. "Saturasi turun terus!"
Alga sudah di samping brankar. Pak Solihin—begitu nama di gelang—pucat, bibir kebiruan, napas tersengal cepat dan dangkal. Saturasi oksigen di oximeter: 86. Turun. 84.
Otak Alga berputar. Sesak mendadak. Nyeri dada satu sisi. Habis duduk diam belasan jam di bus—imobilisasi panjang. Saturasi anjlok tanpa suara napas mengi. Bukan asma. Bukan serangan panik.
"Emboli paru," kata Alga cepat. "Sumbatan darah di paru. Sekar, oksigen non-rebreathing sepuluh liter, pasang infus, EKG dua belas sadapan sekarang, ambil D-dimer dan analisa gas darah. Siapkan—"
"Tunggu dulu."
Wirya. Dari arah ruang dokter, jas putih bersih, melangkah cepat. Ia melirik monitor, melirik pasien, lalu—yang membuat darah Alga membeku—ia mengeluarkan stempel kecil dari saku jasnya dan menorehkannya di pojok status pasien. Ungu. "BS".
"Saya yang pegang pasien ini, Dokter Alga." Wirya tersenyum tipis pada perawat-perawat di sekitar. "Bapak ini cuma serangan panik. Habis perjalanan jauh, kelelahan, cemas. Hiperventilasi. Kasih saja oksigen, tenangkan, nanti subuh bisa pulang."
"Dok." Alga menjaga suaranya, tapi tangannya menunjuk oximeter. "Saturasi delapan puluh tiga persen dengan oksigen. Serangan panik tidak menurunkan saturasi. Ini—"
"Saya senior di sini." Wirya tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu. "Diagnosis saya: gangguan kecemasan dengan hiperventilasi. Tulis di status. Observasi ringan."
Ia menulis sendiri di lembar: "Anxiety disorder. Hiperventilasi." Diagnosis ringan. Lalu ia berbalik, pantofelnya berdecit, dan berkata pada perawat mata-matanya, "Pasien ini stabil. Tidak usah dipanik-panikkan."
Wirya pergi ke ruang dokter.
Alga berdiri di samping Pak Solihin yang napasnya makin payah, saturasi 82, dan untuk sepersekian detik ia merasakan lagi tangan yang gemetar di hari pertama. Lalu tangan itu berhenti gemetar.
Ia menoleh ke Sekar. Sekar sudah memasang EKG diam-diam—dan di layar, irama jantung berpacu cepat dengan pola yang khas: strain jantung kanan. S1Q3T3. Tanda klasik emboli paru. Sekar mencabut kertas EKG itu, menatap Alga, dan dengan satu gerakan kecil menyelipkannya ke dalam map—lalu, dengan gerakan kedua yang lebih kecil lagi, memfotonya dengan ponsel di balik tirai.
Bukti asli. Diabadikan sebelum bisa dicoret.
"Saturasi delapan puluh satu," bisik Sekar. "Dok. Kalau kita ikut Wirya, bapak ini mati subuh nanti di rumah."
Alga menatap dada Pak Solihin yang naik-turun terlampau cepat, lalu ke arah ruang dokter tempat Wirya duduk tenang, lalu ke EKG di tangan Sekar.
Dua hal harus terjadi sekaligus malam ini, sadar Alga. Pak Solihin harus hidup. Dan kecurangan yang baru saja terjadi di depan matanya harus terekam—lengkap, asli, tak terbantah.
Ia mengambil lembar terapi.
"Sekar," katanya pelan, "siapkan heparin."