Pukul tiga pagi, di ruang rekam medis lantai dua yang remang, Alga membungkuk di atas mesin fotokopi tua, menyalin lembar demi lembar dengan tangan setenang mungkin. Ia memburu satu nama dari buku kulit—"BS-7", Sulastri—mencari map fisiknya di antara ribuan rekam medis lama yang belum sempat dipindahkan sindikat.
Lampu menyala.
Alga membeku. Di ambang pintu berdiri Sekar, perawat senior IGD, masih berseragam, tangan di saklar. Matanya menyapu mesin fotokopi, tumpukan lembar di tangan Alga, jam dinding yang menunjuk pukul tiga.
Untuk sesaat, tak ada yang bergerak.
Lari? Tidak ada ke mana. Berbohong? Tidak ada dalih untuk dokter internsip menyalin rekam medis pasien lama jam tiga pagi.
"Sekar," kata Alga pelan. "Saya bisa jelaskan—"
"BS-7." Sekar tidak melihat ke wajah Alga. Ia melihat ke map di tangannya, ke kode di pojok lembar. Suaranya datar, hampir berbisik. "Sulastri. Yang dipulangkan jadi maag, lalu dijemput Dokter Renjana diam-diam minggu lalu."
Alga menahan napas. "Kau tahu."
"Saya perawat IGD sebelas tahun, Dok." Sekar menutup pintu di belakangnya, pelan. Lalu, alih-alih mengangkat ponsel untuk melapor, ia berjalan ke meja dan duduk, dan untuk pertama kali Alga melihat lelahnya bukan lelah satu malam, tapi lelah bertahun-tahun. "Saya lihat semuanya, dari dekat. Bertahun-tahun. Pasien masuk sesak, EKG-nya jelek, semua perawat tahu itu serangan jantung. Lalu Dokter Wirya datang, lima menit di balik tirai, dan tiba-tiba diagnosisnya 'kecemasan'. Pasien dipulangkan. Naik angkot. Tiga hari kemudian keluarganya datang lagi—mengurus surat kematian."
"Berapa banyak?" tanya Alga.
"Saya berhenti menghitung." Mata Sekar berkilau. "Saya pikir saya satu-satunya yang melihat. Saya pikir saya gila. Saya pernah lapor ke kepala perawat. Besoknya saya dimutasi tiga bulan ke laundry. Diingatkan saya punya dua anak, suami tidak kerja." Ia menelan. "Sejak itu saya diam. Saya benci diri saya karena diam. Tapi saya diam."
Alga meletakkan lembar fotokopinya di meja. "Kenapa sekarang tidak?"
Sekar menatapnya lama. "Karena malam itu di tangga servis, saya membuka pintu untuk kalian. Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, saya melakukan sesuatu yang benar. Dan saya tidak bisa kembali tidur seperti dulu." Ia mengusap wajah. "Dokter Larasati pernah membuat saya percaya rumah sakit ini bisa jujur. Lalu dia 'kecelakaan'. Saya kira itu akhirnya." Ia menatap Alga. "Lalu datang dokter internsip yang bodoh dan keras kepala yang menolak menandatangani kebohongan."
Alga merasa tenggorokannya tercekat. "Saya butuh bantuan, Sekar. Saya tidak bisa sendiri."
"Saya tahu jalan rumah sakit ini lebih baik dari Wirya." Sekar berdiri, dan ada sesuatu yang lurus di punggungnya sekarang. "Saya punya akses ke sistem perawat. Saya tahu kapan kamera mati untuk dibersihkan. Saya tahu perawat mana yang muak seperti saya dan perawat mana yang jadi mata Wirya." Ia mengambil setumpuk lembar fotokopi dari tangan Alga, merapikannya. "Dan saya tahu cara menyalin tanpa ketahuan. Bukan jam tiga pagi di ruang ini, Dok—ada kamera di sudut sana. Kamu hampir tertangkap."
Alga tertawa kecil, separuh ngeri, separuh lega. "Aku tidak tahu itu."
"Karena itu kamu butuh saya." Sekar mematikan mesin fotokopi. "Mulai sekarang, kita lakukan dengan cara saya. Pelan. Hati-hati. Tidak ada gunanya mati sebagai pahlawan kalau buktinya ikut mati bersamamu."
Untuk pertama kalinya sejak malam alarm, Alga tidak lagi berdua melawan rumah sakit. Mereka bertiga. Lalu, ia tahu, akan lebih banyak lagi.