Tiga hari kemudian Alga kembali bertugas resmi di IGD. Ia harus. Menghilang berarti mengaku bersalah, mengaku takut, mengaku bersembunyi—dan memberi Damar alasan mencabut internsipnya, memutus akses Alga ke dalam rumah sakit. Renjana sudah jelas soal itu: "Kita harus tetap di dalam. Mata di dalam lebih berharga dari teriakan di luar."
Maka pukul tujuh pagi Alga berdiri di nurse station IGD, dan Wirya datang membawa dua gelas kopi.
"Damai, Dokter Alga?" Wirya menyodorkan satu gelas, senyumnya hangat seperti kawan lama. "Kita mulai dari awal. Lupakan kesalahpahaman malam itu."
Alga menerima gelasnya. Ia tidak meminumnya. "Kesalahpahaman," ulangnya.
"Anak muda kadang terlalu bersemangat. Saya juga begitu dulu." Wirya bersandar ke meja, dekat sekali, suaranya merendah agar perawat tak dengar. "Pak Damar orang baik, Alga. Dia menyelamatkan rumah sakit ini dari kebangkrutan. Kamu pikir dana hibah itu masuk kantong dia? Tidak. Itu untuk gedung baru, untuk alat, untuk pasien miskin yang berobat gratis. Kadang demi banyak orang, beberapa angka harus... dikelola."
"Dikelola," kata Alga.
"Kamu pintar. Suatu hari kamu akan mengerti bahwa dunia tidak hitam-putih seperti di buku kuliah." Wirya menepuk bahu Alga. "Oh ya. Ada perubahan jadwal. Mulai besok kamu pindah ke shift malam. Permanen, sementara waktu. Tenaga muda dibutuhkan di jam-jam sepi."
Di situ. Itu hukumannya yang sebenarnya. Shift malam—saat IGD lengang, saat saksi sedikit, saat Renjana jaga di shift berbeda agar mereka tak pernah bersamaan. Mengisolasi. Memisahkan.
"Baik, Dok," kata Alga, dan ia tersenyum seperti orang yang menyerah. "Sebenarnya saya lebih suka malam. Lebih tenang."
Sesuatu berkelebat di mata Wirya—curiga, atau kecewa karena pukulannya tak terasa. "Bagus," katanya akhirnya. "Bagus sekali."
Ia berlalu. Pantofelnya mengilap melintasi lantai IGD.
Alga menuang kopi itu ke wastafel. Lalu, sambil berpura-pura mencatat, ia mulai bekerja: bukan pada pasien, tapi pada rumah sakit itu sendiri. Ia menghafal. Pukul berapa satpam berkeliling lantai dua. Kapan kamera di koridor arsip menghadap ke arah lain saat petugas mengelap—Sekar menyelipkan info itu lewat secarik kertas di saku jasnya. Kapan Wirya pulang, kapan ia datang, gelas kopi mana yang ia beli, jam berapa ia menengok ICU.
Kucing dan tikus, pikir Alga. Tapi tikus yang sabar bisa belajar setiap retak di dinding.
Malam pertama shift malamnya, IGD sepi. Hanya satu pasien demam, satu luka jahit. Pukul dua, saat seluruh lantai senyap, Alga melintas ke depan ruang ICU dengan alasan mengantar sampel lab. Lewat kaca, ia melihat ranjang tujuh. Gunawan masih di sana, ventilator masih memompa. Syringe pump midazolam masih menyala, angka dosis itu masih tinggi.
Waktu Gunawan terus berjalan. Lima menit demi lima menit.
Alga mencatat di kepalanya: besok, mulai cari cara memindahkan. Lalu ia berbalik ke IGD yang sunyi, dan untuk pertama kalinya sejak malam alarm, ia merasa bukan ketakutan yang mengisi dadanya, melainkan sesuatu yang lebih dingin dan lebih kuat. Rencana.