Malam itu mereka membentangkan semuanya di meja kos Renjana: foto-foto teremas, buku kulit, dan secarik kertas tempat Alga mencatat dari ingatan.
"Lihat ini." Renjana mengangkat sebuah foto ke lampu. Sudut sebuah map ungu, stempel "BS" samar, dan di bawahnya tulisan tangan—setengah terpotong bingkai. "Buru-buru. Goyang. Kita memotret lari-lari semalam. Setengah dari ini tidak bisa dipakai."
Alga membalik foto demi foto. Renjana benar. Dari belasan lembar, hanya empat yang jelas. Sisanya buram oleh getaran tangan, atau terpotong, atau silau lampu strobo merah.
"Buku kulitnya bagaimana?" Alga membuka halaman demi halaman. Daftar panjang. Kolom-kolom rapi. Inisial. Tanggal. Kode. "BS-3. BS-7. BS-11. Status: SELESAI. Status: DIJADWALKAN."
"Itu masalahnya." Renjana menyandarkan punggung, memijat pangkal hidung. "Buku itu pakai inisial dan kode lokasi. 'S.L., perempuan, 52, BS-7, SELESAI.' Kita tahu itu Sulastri. Tapi pengadilan tidak. Pengacara mereka akan bilang: itu cuma catatan administratif. 'BS' artinya Bumi Sentosa, bukan stempel rahasia. 'SELESAI' artinya pasien sudah pulang, beres. Kau bisa membuktikan sebaliknya?"
Alga terdiam. "Tidak. Tidak tanpa map aslinya. Map fisik yang berstempel ungu, dengan diagnosis lama dicoret dan diganti diagnosis ringan, di lembar yang sama, tinta yang sama."
"Itu bukti yang tidak bisa dibantah." Renjana mengetuk meja. "Diagnosis 'STEMI inferior' dicoret, ditimpa 'gastritis', tanda tangan dokter, stempel ungu di pojok. Itu menunjukkan niat. Mens rea. Bukan kelalaian—kesengajaan."
"Dan map-map itu ada ribuan di B2."
"Ada di B2." Renjana menatapnya. "Sampai semalam. Setelah alarm, setelah mereka tahu kita masuk, menurutmu mereka membiarkan ribuan map itu di tempat yang sama? Sekar bilang ada truk masuk pagi tadi ke pintu belakang. Kardus-kardus dipindahkan."
Alga merasa harapannya merosot. "Jadi buku ini—"
"Buku ini adalah peta tanpa harta," kata Renjana. "Berharga, tapi tidak cukup. Buku ini memberitahu kita kasus mana yang harus dicari. Tapi kita harus menemukan map fisiknya, satu per satu, dari arsip rekam medis resmi yang tidak bisa mereka hapus seluruhnya—karena rekam medis pasien wajib disimpan bertahun-tahun, undang-undang. Mereka tidak bisa membakar semuanya tanpa menimbulkan pertanyaan."
Alga membuka halaman buku kulit, jarinya berhenti di satu baris yang ditulis dengan tinta lebih lama, lebih pudar.
"L.S.W., perempuan, 41, dokter. BS-0. KECELAKAAN."
Ia menatapnya lama. "Renjana. L.S.W."
Renjana menunduk ke baris itu, dan rahangnya mengeras. "Larasati Sekar Wening," katanya pelan. "BS-0. Korban pertama. Kode nol. Dia bukan pasien yang mereka pulangkan." Suaranya hampir tak terdengar. "Dia ditulis di buku yang sama dengan korban-korban yang dia coba selamatkan."
Untuk sesaat tak satu pun bicara. Hanya bunyi gerimis di luar jendela.
"Kalau buku ini cukup untuk membuktikan satu hal," kata Alga akhirnya, "buktikan ini: mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mereka mencatatnya. Termasuk membunuh dokter mereka sendiri."
"Tapi tetap bisa dibantah." Renjana menutup buku itu pelan, seolah menutup peti. "Kita butuh map fisik, Alga. Bukti yang setengah tidak akan menjatuhkan mereka. Hanya membuat mereka tahu kita punya separuh—dan menghabisi sisanya. Dan kita."