Hong Lian tidak perlu menunggu lama.
Sore itu juga, ketika bayangan pohon plum sudah memanjang di halaman, seorang dayang kecil yang selama ini bertugas menyapu jalan setapak di dekat taman belakang datang berlari ke Paviliun Fengyi. Gadis itu salah satu dari tiga dayang yang pagi kemarin mengembalikan jatah sup ayam ginseng, dan sejak itu ia berusaha keras menunjukkan kesetiaannya.
“Niang-niang,” bisiknya sambil berlutut, “hamba melihat Selir Pertama berjalan ke arah taman belakang dengan satu dayang saja. Wajahnya tidak bagus. Dan tadi, sebelum itu, hamba melihat tandu Menteri Wei berhenti di gerbang samping istana dalam. Kata kasim di sana, Menteri Wei datang untuk mengantar laporan ke Departemen Rumah Tangga.”
Hong Lian memberinya sepotong perak dan menyuruhnya kembali bekerja seperti biasa.
Jin Xin menatapnya. “Xiaojie, kamu mau ke sana?”
“Kau tetap di sini. Kalau ada yang mencariku, bilang aku sedang tidur siang dan tidak boleh diganggu.”
“Tapi ...”
“Wo de meimei, kau jauh lebih menakutkan daripada empat belas prajurit kalau sedang menjaga pintu.” Hong Lian menepuk kepalanya. “Aku hanya akan mendengar. Tidak akan ada pedang hari ini.”
***
Taman belakang istana dalam adalah taman tua yang jarang dikunjungi. Pohon-pohon pinusnya terlalu rimbun, kolam batunya berlumut, dan paviliun kecil di tengahnya sudah lama tidak dicat. Para selir lebih suka taman depan yang penuh peony. Itulah sebabnya, batin Hong Lian, tempat ini cocok untuk orang yang tidak ingin didengar.
Ia tidak berjalan lewat jalan setapak. Ia melompat ringan dari atap gudang ke dahan pinus tertua di sudut taman, lalu naik ke dahan yang lebih tinggi. Qigong membuat tubuhnya seringan bulu. Daun-daun pinus yang rapat menyembunyikan gaun putihnya, dan dari sana ia bisa melihat paviliun kecil di tengah taman, kira-kira tiga puluh langkah jauhnya.
Ia memusatkan tenaga dalam ke telinga. Suara-suara di sekitarnya menjadi tajam. Angin di daun pinus. Katak di kolam. Dan dua suara di paviliun.
Baili Yuyan berdiri membelakangi kolam. Dayangnya berjaga di ujung jalan setapak, terlalu jauh untuk mendengar. Di depan Yuyan berdiri seorang laki-laki tua berjanggut putih dengan jubah resmi berwarna biru tua dan topi pejabat. Tubuhnya kurus dan punggungnya agak bungkuk, tetapi matanya tajam seperti mata elang tua.
Menteri Wei Cheng.
“Niang-niang tidak seharusnya memanggil hamba ke sini di siang hari,” ucapnya. Suaranya tenang dan halus, suara orang yang terbiasa berbicara di depan Kaisar. “Kalau ada yang melihat ...”
“Tidak ada yang datang ke taman ini.” Suara Yuyan bergetar. Tanpa bedak tipis dan senyum lembutnya, wajahnya tampak tegang dan lebih tua. “Paman Wei, dia tahu.”
“Siapa yang tahu apa?”
“Hong Lian! Tadi siang aku menjenguknya. Dia menceritakan penyergapan itu kepadaku. Jam ular. Batu kepala kerbau. Pohon yang digergaji. Sebelas orang. Dia bahkan tahu dari mana panah pertama datang!” Yuyan meremas saputangannya sampai kusut. “Bagaimana dia bisa tahu sebanyak itu? Semua orang di rombongan itu sudah mati!”
Wei Cheng diam sejenak.
“Mungkin dia melihatnya sendiri sebelum terkena panah.”
“Dia terkena panah tepat di jantung! Orang-orangmu sendiri yang bilang begitu! Tidak ada orang yang bisa kena panah di jantung lalu pulang dua bulan kemudian dengan wajah segar dan mulut setajam itu!” Yuyan menurunkan suaranya, tetapi Hong Lian masih mendengar setiap kata. “Dan dia berubah, Paman. Dia tidak lagi memanggilku Jiějiě dengan mata berbinar. Dia tidak lagi memegang tanganku. Dia menatapku seolah ... seolah dia tahu.”
“Tenanglah, Niang-niang.”
“Bagaimana aku bisa tenang?! Kalau dia tahu, Kaisar akan tahu. Kalau Kaisar tahu ...”
“Kaisar tidak tahu apa-apa.” Suara Wei Cheng tetap halus, tetapi ada sesuatu yang dingin di baliknya. “Pengurus Fang sudah memeriksa hutan itu kemarin malam, setelah mendengar Permaisuri pulang lewat jalan selatan. Lima orang yang kita tempatkan di sana tidak membalas tanda. Fang menemukan empat mayat di dekat jalan setapak, tertutup daun.”
Yuyan membeku. “Empat?”
“Empat.” Wei Cheng mengelus janggutnya. “Kita menempatkan lima orang di sana. Satu tidak ditemukan.”
Di atas pohon pinus, Hong Lian tersenyum tipis.
Rupanya ular tua ini juga bisa menghitung, batinnya.
“Apa artinya?” bisik Yuyan.
“Artinya ada dua kemungkinan. Orang kelima melarikan diri karena takut, dan itu bagus. Atau orang kelima tertangkap hidup-hidup.” Wei Cheng menatap Yuyan. “Dan kalau dia tertangkap, dia ada di tangan seseorang. Bukan di tangan Kaisar. Kalau Kaisar memegangnya, Yu Hao sudah datang ke kediamanku dengan prajurit sejak kemarin.”
“Hong Lian.” Suara Yuyan nyaris tidak terdengar. “Peti itu. Semua orang di istana membicarakan peti yang dibawa pelayannya. Peti yang tidak boleh dibuka siapa pun.”
Hening sejenak. Seekor katak melompat ke kolam dengan bunyi plung yang kecil.
“Kalau begitu,” ucap Wei Cheng perlahan, “kita harus memastikan orang kelima itu tidak sempat bicara di depan Kaisar. Dan kita harus memastikan, kalau dia bicara, tidak ada yang mempercayainya.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu urusan hamba. Niang-niang cukup melakukan apa yang selalu Niang-niang lakukan dengan baik. Tersenyum. Mengantar sup ke Paviliun Xuan. Menjadi kakak yang penuh kasih.” Wei Cheng membungkuk sedikit. “Dan jangan pernah memanggil hamba ke taman ini lagi. Kalau perlu sesuatu, kirim Qiao An lewat Pengurus Fang seperti biasa.”
Ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah lambat seorang laki-laki tua, menuju gerbang samping. Yuyan berdiri sendirian di paviliun cukup lama, menatap kolam berlumut dengan wajah yang tidak pernah dilihat siapa pun di harem.
Lalu ia mengangkat dagunya, merapikan rambut, menarik napas panjang, dan wajah itu menghilang. Ketika ia berjalan kembali ke dayangnya, ia sudah menjadi Selir Pertama yang lembut dan anggun lagi.
Hong Lian menunggu sampai keduanya benar-benar pergi. Lalu ia turun dari pohon pinus tanpa suara dan kembali ke Paviliun Fengyi lewat atap-atap gudang.
Jin Xin masih berjaga di depan pintu kamar dengan pedang latihan di pangkuan. Begitu melihat nona nya masuk lewat jendela, ia melompat berdiri.
“Xiaojie! Bagaimana?”
Hong Lian duduk di tepi tempat tidur dan melepas sepatunya yang penuh getah pinus.
“Jin Xin, mulai malam ini, pintu gudang kayu bakar dikunci dua lapis. Dan cari tahu untukku siapa Qiao An.”