Baili Yuyan datang pada hari ketiga setelah kepulangan Hong Lian, menjelang tengah hari, tepat ketika matahari paling terik dan para selir lain sedang beristirahat.
Ia datang dengan dua dayang dan sebuah wadah sup bertutup porselen biru yang dibungkus kain sutra. Gaunnya berwarna merah muda pucat, rambutnya disanggul dengan tusuk konde giok sederhana, dan wajahnya yang cantik dipoles tipis sehingga tampak sedikit pucat. Sempurna untuk seorang kakak yang berhari-hari tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan adiknya.
Hong Lian menyambutnya di aula utama. Ia tidak berdiri.
Dari ingatan pemilik tubuh, ia tahu setiap kali Yuyan datang, Hong Lian asli akan berlari menyambutnya di gerbang, memegang tangannya, dan menuangkan teh untuknya dengan tangannya sendiri. Jiějiě adalah satu-satunya orang di harem yang mau mendengarkan keluh kesahnya tentang Kaisar. Jiějiě adalah satu-satunya yang memahaminya.
Jiějiě juga yang membisikkan kepadanya bahwa Mu Yueyue akan merebut hati Kaisar.
“Meimei!” Yuyan bergegas masuk, matanya langsung berkaca-kaca. Ia hendak berlutut memberi hormat, tetapi berhenti di tengah jalan, menunggu Hong Lian mencegahnya seperti biasa.
Hong Lian tidak mencegahnya.
Ada jeda yang canggung. Yuyan akhirnya menyelesaikan gerakannya dan berlutut dengan sempurna.
“Selir ini memberi hormat kepada Niang-niang Permaisuri.”
“Bangunlah, Jiějiě. Duduk.”
Yuyan berdiri dan duduk di kursi tamu. Ia tersenyum, tetapi matanya sempat melirik ke sekeliling aula yang kini bersih dan rapi, ke para pelayan yang berdiri tegak tanpa berbisik, ke Jin Xin yang berdiri di sisi Hong Lian dengan wajah datar.
“Meimei, kau tidak tahu betapa takutnya Jiějiě selama dua bulan ini.” Ia mengeluarkan saputangan dan menyeka sudut matanya. “Ketika Jiějiě mendengar kabar dari Paviliun Xuan bahwa Muhou jatuh sakit, Jiějiě langsung merasa sesuatu yang buruk terjadi padamu. Setiap hari Jiějiě membakar dupa di kuil kecil di belakang paviliun Jiějiě, memohon kepada para Dewa agar mengembalikanmu dengan selamat. Dan sekarang kau benar-benar pulang. Jiějiě sangat bersyukur.”
Ia memberi isyarat kepada dayangnya, yang lalu meletakkan wadah sup di atas meja dan membuka tutupnya. Uap harum mengepul.
“Sup sarang burung dengan kurma merah. Jiějiě memasaknya sendiri sejak subuh. Kau baru pulang dari perjalanan jauh, tubuhmu pasti lemah.”
Hong Lian menatap sup itu. Aromanya harum. Warnanya bening keemasan.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah meracuni seorang pedagang senjata lewat sup yang aromanya jauh lebih harum dari ini.
“Jiějiě sungguh baik,” ucapnya sambil tersenyum. Ia tidak menyentuh sendoknya. “Jin Xin, simpan sup ini. Aku akan memakannya nanti malam.”
Jin Xin menutup wadah itu dan membawanya pergi. Senyum Yuyan bergetar sedikit, sangat sedikit, tetapi Hong Lian melihatnya.
“Meimei, apa yang sebenarnya terjadi? Di seluruh harem orang membicarakannya. Ada yang bilang rombonganmu diserang perampok. Ada yang bilang kau jatuh dari kereta ke jurang. Jiějiě tidak tahu mana yang benar.”
“Jiějiě ingin tahu?” Hong Lian menuang teh ke cangkir Yuyan, gerakan yang dulu dilakukan Hong Lian asli dengan penuh kasih sayang. Kali ini gerakannya pelan dan tenang. “Baiklah. Aku akan menceritakannya hanya kepada Jiějiě.”
Yuyan mencondongkan tubuh sedikit.
“Hari ke-dua puluh tujuh bulan kedua,” ucap Hong Lian, “pada jam ular, ketika matahari baru setinggi pucuk pohon. Di hutan selatan Ibu Kota, kira-kira seratus langkah setelah jalan menikung di dekat batu besar yang berbentuk kepala kerbau. Rombonganku berhenti karena ada pohon tumbang melintang di jalan. Pohon itu tidak tumbang sendiri, Jiějiě. Batangnya dipotong rapi dengan gergaji.”
Ia menyesap tehnya.
“Panah pertama datang dari sisi kanan jalan, dari balik semak berduri. Panah itu mengenai kusir. Lalu dari depan dan belakang datang laki-laki berbaju hitam, sebelas orang. Mereka membunuh penjaga yang di belakang lebih dulu, supaya tidak ada yang bisa berlari pulang dan melapor. Lalu yang di depan. Lalu para dayang.” Hong Lian meletakkan cangkir. “Dan yang terakhir, seseorang melepaskan satu panah dari jarak dua puluh langkah. Tepat di sini.”
Ia menyentuh dada kirinya dengan dua jari.
Wajah Yuyan pucat seperti kertas. Kali ini bukan karena bedak.
Hong Lian tahu ia hanya mengira-ngira beberapa bagian. Jam ular ia dapat dari ingatan pemilik tubuh, batu kepala kerbau dan pohon tumbang ia lihat sendiri tiga hari yang lalu, jumlah sebelas orang ia dapat dari Lu Ba. Tetapi ia menyusunnya seperti orang yang menyaksikan semuanya dengan mata terbuka. Dan di depan orang yang tahu persis bagaimana penyergapan itu direncanakan, rincian seperti itu lebih menakutkan daripada tuduhan apa pun.
Karena orang yang bersalah akan bertanya-tanya: bagaimana dia tahu sebanyak itu? Siapa yang memberitahunya?
“Itu ... mengerikan sekali,” bisik Yuyan. Tangannya yang memegang cangkir gemetar sampai tehnya beriak. “Lalu bagaimana kau bisa selamat?”
“Panahnya meleset sedikit.” Hong Lian tersenyum. “Dewa rupanya belum mau menerimaku. Mungkin karena aku masih punya urusan yang belum selesai.”
“Urusan apa?”
“Urusan keluarga.” Hong Lian menatap kakak tirinya lurus-lurus. “Jiějiě tahu, ayah selalu bilang keluarga Baili tidak pernah melupakan utang. Utang budi dibayar dengan budi. Utang darah ...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum lagi dan menuangkan teh baru ke cangkir Yuyan yang sudah tumpah separuh.
Yuyan berdiri terlalu cepat. Kursinya bergeser dengan bunyi berderit.
“Meimei pasti lelah. Jiějiě tidak akan mengganggu lebih lama. Istirahatlah.”
“Jiějiě tidak menghabiskan tehnya?”
“Lain kali. Jiějiě baru ingat harus mengantar sup ke Paviliun Xuan.”
Yuyan membungkuk singkat dan keluar dengan langkah cepat, diikuti dua dayangnya yang kebingungan. Ia bahkan lupa membawa kembali kain sutra pembungkus wadah sup.
Hong Lian memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik gerbang.
Jin Xin kembali dari dapur dengan wajah tegang. “Xiaojie, aku sudah memeriksa supnya dengan jarum perak seperti yang kamu ajarkan. Jarumnya tidak berubah warna.”
“Tentu saja tidak.” Hong Lian meregangkan punggung. “Dia tidak sebodoh itu. Meracuni Permaisuri di hari ketiga kepulangannya, dengan sup yang dia antar sendiri di depan semua pelayan? Itu sama saja dengan menulis namanya di dahi.”
“Lalu kenapa kamu tidak memakannya?”
“Karena aku tidak suka manis.”
Jin Xin melongo, lalu tertawa. Hong Lian ikut tersenyum, tetapi matanya tetap menatap gerbang.
Sup itu bersih, batinnya. Hari ini dia hanya datang untuk melihat seberapa banyak yang aku tahu.
Sekarang dia tahu. Atau setidaknya, dia mengira tahu.
Dan orang yang ketakutan akan berlari ke tempat yang paling dia percaya.