Zhang Yuan tidak pernah berniat datang ke Paviliun Fengyi pada malam hari.
Selama tiga hari ia menunggu gadis itu datang ke ruang belajar untuk menjelaskan, seperti yang dijanjikannya di gerbang istana. Gadis itu tidak datang. Ia mengirim kasim untuk memanggilnya, dan kasim itu kembali dengan jawaban bahwa Niang-niang sedang menata ulang dapur. Ia mengirim kasim lagi keesokan harinya, dan jawabannya Niang-niang sedang menemani Muhou minum obat.
Itu bukan alasan yang bisa ia tolak. Muhou memang minum obat dengan patuh setiap hari sejak gadis itu pulang, dan tabib Gu mengatakan kesehatan beliau membaik lebih cepat dari dugaan.
Pada malam keempat, setelah membaca laporan Yu Hao tentang laki-laki pincang yang belum juga ditemukan, Zhang Yuan meletakkan kuasnya dan berdiri.
“Ke Paviliun Fengyi.”
Kasim yang berjaga di pintu hampir menjatuhkan lenteranya. Selama tiga tahun, kalimat itu tidak pernah diucapkan.
“Bìxià ingin ... bermalam di sana? Hamba akan segera memberi tahu Departemen Rumah Tangga untuk ...”
“Zhen hanya ingin bicara.” Zhang Yuan melirik kasim itu dengan dingin. “Kalau besok pagi ada satu orang di harem yang bercerita zhen bermalam di Paviliun Fengyi, zhen akan tahu siapa yang memulainya.”
Kasim itu menutup mulut rapat-rapat.
***
Paviliun Fengyi gelap ketika ia tiba. Hanya ada dua lentera di gerbang dan satu lagi tergantung di dahan pohon plum di tengah halaman. Dua penjaga tua di gerbang hendak berlutut dan berteriak mengumumkan kedatangan Kaisar, tetapi Zhang Yuan mengangkat tangan menyuruh mereka diam. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin ia ingin melihat apa yang dilakukan gadis itu ketika tidak ada yang melihat.
Ia melangkah melewati gerbang, dan berhenti.
Di tengah halaman, di bawah lentera yang tergantung di dahan plum, seorang perempuan bergaun putih sedang menari dengan pedang.
Bukan, itu bukan tarian. Zhang Yuan sudah melihat ratusan tarian pedang di perjamuan istana, gerakan-gerakan indah yang dibuat untuk dipandang. Ini berbeda. Setiap ayunan pedang itu pendek, cepat, dan tidak membuang tenaga sedikit pun. Kaki perempuan itu hampir tidak menyentuh tanah. Ia berputar, menebas, menusuk, lalu melayang setengah tombak ke udara dan mendarat tanpa suara di atas batu kolam. Kelopak bunga plum yang jatuh di dekatnya terbelah dua sebelum sempat menyentuh air.
Dan pedangnya bening. Bening seperti es, dengan garis merah di tengahnya yang berpendar setiap kali menangkap cahaya lentera.
Zhang Yuan merasakan tenaga dalam perempuan itu dari jarak dua puluh langkah. Pekat dan stabil, mengalir seperti sungai yang dalam.
Tingkat empat.
Gadis yang selama ini disebut sampah oleh seluruh harem, yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang latihan tanpa terhuyung, yang membuat ayahnya, seorang Jenderal Besar, malu di depan para menteri karena tidak bisa memenuhi kewajiban Permaisuri untuk berlatih bela diri. Gadis itu berdiri di atas batu kolam dengan tenaga dalam tingkat empat.
Semua kalimat marah yang sudah ia siapkan lenyap dari kepalanya.
Hong Lian menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar jelas di halaman yang sunyi.
“Bìxià sudah berdiri di sana cukup lama. Kakinya tidak pegal?”
Zhang Yuan tersadar. Ia berdeham, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang ia usahakan tetap tenang.
“Sejak kapan kau tahu zhen di sini?”
“Sejak Bìxià menyuruh penjaga gerbang diam.” Hong Lian melompat turun dari batu kolam. Ia menyarungkan pedangnya, dan pedang itu menghilang begitu saja dari tangannya.
Zhang Yuan menatap tangannya yang kini kosong. Ia yakin tidak melihat gadis itu menyelipkan pedang ke mana pun.
“Ke mana pedangnya?”
“Pedang apa, Bìxià?”
“Pedang yang baru saja kau pegang.”
“Bìxià pasti lelah. Membaca laporan sampai larut malam memang tidak baik untuk mata.” Hong Lian mengambil handuk kecil yang tersampir di dahan plum dan menyeka keringat di dahinya. “Jin Xin, siapkan teh untuk Bìxià.”
Jin Xin muncul dari balik pintu aula seperti hantu, membungkuk, lalu menghilang lagi ke dapur. Zhang Yuan curiga gadis pelayan itu juga sudah berdiri di sana sejak tadi.
Mereka duduk di bangku batu di bawah pohon plum. Jin Xin membawa teh krisan dan dua cangkir, menuangkannya, lalu mundur ke serambi. Ia cukup jauh untuk tidak mendengar, tetapi cukup dekat untuk berlari bila nona nya memanggil.
Zhang Yuan tidak menyentuh tehnya.
“Zhen datang untuk mendengar penjelasan yang kau janjikan di gerbang istana. Dan sekarang zhen punya satu pertanyaan tambahan.” Ia menatap Hong Lian. “Sejak kapan kau bisa bertarung seperti itu?”
“Sejak lama.”
“Selama tiga tahun, zhen tidak pernah melihatmu memegang pedang.”
“Selama tiga tahun, Bìxià tidak pernah melihat hamba sama sekali.” Hong Lian meniup tehnya. “Hamba berlatih diam-diam. Sejak kecil, ayah dan Gēgē selalu takut hamba terluka, jadi mereka tidak pernah mengizinkan hamba berlatih sungguh-sungguh. Di istana, setiap kali hamba mencoba berlatih di halaman, ada saja dayang yang menertawakan dan menyebarkan ceritanya. Jadi hamba berhenti berlatih di depan orang. Hamba berlatih ketika semua orang tidur.”
Itu tidak sepenuhnya bohong. Ingatan pemilik tubuh memang dipenuhi tawa para dayang setiap kali ia mencoba mengangkat pedang. Yang tidak ia katakan adalah bahwa pemilik tubuh itu menyerah, dan yang berlatih ketika semua orang tidur selama dua bulan terakhir adalah jiwa lain.
Zhang Yuan menatapnya lama. Ia tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia juga tidak punya penjelasan lain.
“Lalu penyergapan itu.”
Hong Lian meletakkan cangkirnya.
“Bìxià pasti sudah menghitung. Seratus tulang ditemukan di hutan. Seharusnya seratus dua.”
Mata Zhang Yuan menyipit. “Bagaimana kau tahu jumlahnya?”
“Muhou bercerita kemarin bahwa Yu Zhao menemukan seratus tulang. Muhou memberi hamba seratus penjaga. Hamba hanya perlu menambahkan diri hamba sendiri dan Jin Xin.” Hong Lian tersenyum tipis. “Dua orang yang tidak ditemukan itu hamba dan Jin Xin.”
Ia bercerita dengan tenang, seolah sedang menceritakan perjalanan orang lain. Sebelum rombongan memasuki hutan, ia menyuruh Jin Xin kembali ke Ibu Kota untuk membeli kue kacang hijau jade dari toko langganannya, karena di perjalanan ia tiba-tiba ingin makan kue itu. Itu keinginan manja seorang Permaisuri yang tidak berguna, dan keinginan manja itulah yang menyelamatkan nyawa Jin Xin. Ketika Jin Xin kembali sore harinya, ia menemukan rombongan sudah dibantai. Tubuh Permaisuri sudah tidak ada. Gadis itu menyusuri jalan sambil menangis, sampai ia tiba di desa Xu dan menemukan nona nya terbaring di rumah keluarga Li.
“Nyonya Li dan putranya menemukan hamba di pinggir hutan tidak lama setelah penyergapan. Mereka tidak tahu siapa hamba. Mereka hanya melihat seorang perempuan dengan panah di dada yang masih bernapas.” Hong Lian menyentuh dada kirinya. “Hamba koma tiga minggu. Setelah bangun, hamba butuh waktu untuk pulih.”
“Lalu kenapa tidak mengirim kabar?”
“Karena yang pertama kali datang mencari hamba di hutan itu bukan Bìxià.” Hong Lian menatapnya. “Keesokan harinya para pembunuh itu kembali untuk membakar tubuh hamba. Tubuh hamba sudah hilang. Mereka menunggu di hutan selatan selama dua bulan, mengawasi jalan, menunggu hamba muncul. Kalau hamba mengirim surat ke istana, Bìxià pikir siapa yang akan membaca surat itu lebih dulu? Bìxià, atau orang yang tahu jadwal rombongan Permaisuri?”
Zhang Yuan terdiam.
Angin malam bertiup, menjatuhkan beberapa kelopak plum ke dalam cangkirnya yang tidak tersentuh.
“Bagaimana kau tahu mereka menunggu di hutan selama dua bulan?”
Hong Lian tersenyum. Kali ini senyumnya sedikit lebih lebar.
“Karena hamba bertemu mereka empat hari yang lalu, Bìxià. Dalam perjalanan pulang.”