Imperial study
Yu Hao meletakkan sebuah kantong sutra kecil di atas meja Kaisar. Kantong itu berwarna hijau tua, ujungnya sudah lusuh, dan di salah satu sisinya tersulam bunga krisan dari benang emas.
“Bìxià, hamba menemukan ini di sebuah rumah singgah di jalan selatan, sekitar setengah hari dari hutan tempat rombongan Niang-niang disergap.”
Zhang Yuan mengambil kantong itu dan membaliknya. Sulamannya halus. Bukan buatan desa.
“Ceritakan.”
“Pemilik rumah singgah itu awalnya tidak mau bicara. Setelah hamba menunjukkan lencana dan sedikit perak, dia mengaku bahwa akhir musim dingin lalu, sekelompok laki-laki dari jalan selatan sering berkumpul di tempatnya. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang bisa disewa untuk pekerjaan kotor. Seorang laki-laki bercaping beberapa kali datang menemui mereka. Jalannya pincang di kaki kiri. Setiap kali datang, dia membawa kantong seperti ini, dan setiap kali pergi, kantongnya kosong.” Yu Hao menunjuk kantong di tangan Kaisar. “Yang ini tertinggal di bawah meja sekitar sebulan yang lalu. Pemilik rumah singgah menyimpannya karena mengira bisa dijual.”
“Dan?”
“Hamba membawa sulaman ini ke enam toko bordir terbesar di Ibu Kota. Hanya satu yang mengenalinya, toko bordir Nyonya Qian di jalan sutra utara. Sulaman krisan emas dengan pola tujuh kelopak seperti ini adalah pesanan tetap satu keluarga sejak lima tahun lalu.” Yu Hao menarik napas. “Kediaman Menteri Wei Cheng.”
Zhang Yuan meletakkan kantong itu perlahan.
Wei Cheng. Menteri senior di Kementerian Personalia, laki-laki tua berjanggut putih yang selalu berdiri di barisan depan pengadilan pagi. Sebulan yang lalu, ketika kabar hilangnya Permaisuri mulai berembus di kalangan pejabat meski Kaisar berusaha menutupnya, Wei Cheng adalah orang pertama yang mengusulkan dengan sopan bahwa harem tidak boleh terlalu lama tanpa Permaisuri. Dan bila Permaisuri tidak ditemukan, ada satu selir yang berasal dari keluarga terhormat, berbudi luhur, dan disayangi Janda Permaisuri.
Selir Pertama Baili Yuyan.
Saat itu Zhang Yuan menganggapnya hanya ambisi seorang menteri tua yang ingin dekat dengan calon Permaisuri baru. Sekarang, dengan kantong hijau di depannya, usulan itu terdengar lain.
“Kau yakin?”
“Hamba yakin kantong itu berasal dari kediaman Wei, Bìxià. Hamba belum bisa membuktikan siapa yang membawanya ke rumah singgah. Pemilik rumah singgah tidak pernah melihat wajah laki-laki bercaping itu.” Yu Hao ragu sejenak. “Dan hamba belum menemukan satu pun anggota kelompok dari jalan selatan itu. Mereka seperti lenyap ditelan bumi.”
Zhang Yuan mengetuk meja dengan jari. Wei Cheng punya murid dan kerabat di setengah kantor pemerintahan. Menuduhnya tanpa bukti yang kuat akan membuat separuh pengadilan pagi berteriak bahwa Kaisar menindas menteri setia. Lebih buruk lagi, tuduhan itu akan memberi tahu Wei Cheng bahwa ia sedang diawasi.
“Jangan sentuh Wei Cheng,” ucapnya akhirnya. “Awasi kediamannya. Cari laki-laki pincang itu. Dan Yu Hao, jangan sebut nama Wei kepada siapa pun. Termasuk kepada Permaisuri.”
Yu Hao mengangkat kepala. “Termasuk Niang-niang?”
“Gadis itu pulang dengan peti yang tidak boleh dibuka siapa pun dan lidah yang tiba-tiba setajam pisau.” Zhang Yuan menyandarkan punggung. “Zhen belum tahu apa yang dia sembunyikan.”
***
Paviliun Fengyi
Malam itu, Hong Lian turun ke ruang di bawah gudang kayu bakar membawa lentera, semangkuk bubur, dan sebotol porselen kecil berisi ramuan yang ia racik dari ruang cahaya: akar ginseng berusia tiga ratus tahun, daun ekor naga, dan sedikit getah pohon darah naga yang ia temukan di rak paling atas.
Lu Ba berbaring meringkuk di atas selimut. Wajahnya merah dan napasnya berat. Sejak pagi ia demam.
Hong Lian berlutut dan membuka kerah bajunya. Di bahu kirinya ada luka lama sepanjang telapak tangan, bekas sabetan pedang yang tidak pernah dijahit dengan benar. Lukanya bengkak dan bernanah.
“Ini dari penjaga di hutan dulu?”
Lu Ba mengangguk lemah. “Salah satu dari seratus orang itu. Dia tidak mau mati sebelum menyabetku.”
“Penjaga yang baik.” Hong Lian membersihkan lukanya dengan kain yang dibasahi arak, mengabaikan erangan Lu Ba, lalu mengoleskan ramuan itu. Bau pahit bercampur manis memenuhi ruang sempit itu. “Kau beruntung bertemu denganku. Tabib biasa mungkin akan memotong lenganmu.”
“Kenapa kau mengobatiku?”
“Karena saksi yang mati karena demam sama tidak bergunanya dengan saksi yang mati karena racun.” Ia membalut luka itu dengan rapi. “Dan karena penjaga yang menyabetmu itu tidak akan senang kalau kau mati dengan cara yang terlalu mudah.”
Lu Ba menatapnya lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang lebih mirip batuk.
“Kau sungguh bukan Permaisuri yang diceritakan orang.”
“Orang suka bercerita.” Hong Lian menyuapkan bubur ke mulutnya. “Sekarang ceritakan sesuatu padaku. Perantara bercaping itu. Ceritakan semua yang kau ingat tentangnya. Cara dia berjalan, cara dia bicara, apa yang dia pakai.”
Lu Ba menelan bubur, memejamkan mata, dan berpikir.
“Dia pincang. Kaki kiri. Bicaranya halus seperti orang yang biasa bekerja di rumah besar. Di dadanya, di balik jubah, dia selalu memakai kerongsang perak berbentuk burung bangau. Aku melihatnya sekali waktu jubahnya tersingkap tertiup angin.” Ia membuka mata. “Dan aku pernah mengikutinya.”
Tangan Hong Lian yang memegang sendok berhenti.
“Di gubuk kau bilang tidak tahu Tuan Menteri yang mana.”
“Di gubuk aku belum tahu apakah kau akan membiarkanku hidup sampai Ibu Kota.” Lu Ba tersenyum miring. “Orang yang masih menyimpan satu rahasia biasanya hidup lebih lama.”
“Pemimpin lama kami tidak percaya pada perantara. Dia menyuruhku membuntuti orang itu setelah pembayaran pertama, supaya kami tahu ke mana harus menagih kalau dia mengingkari janji. Aku mengikutinya sampai ke Ibu Kota, ke daerah utara dekat jalan sutra. Dia masuk lewat pintu samping sebuah rumah besar. Penjaga pintunya menyapanya ‘Pengurus Fang’. Di atas gerbang depan rumah itu ada papan dengan satu huruf besar.” Lu Ba menatap Hong Lian. “Wei.”
Hong Lian meletakkan sendok.
“Kediaman Menteri Wei Cheng,” lanjut Lu Ba. “Waktu itu aku tidak tahu siapa Wei Cheng. Sekarang aku tahu dia salah satu menteri paling berkuasa di kekaisaran ini. Pemimpin lama kami bilang, kalau menteri sebesar itu dan selir pertama Kaisar bekerja sama, berarti bayarannya pasti aman.” Ia tertawa getir. “Dia benar soal bayarannya. Dia salah soal nyawanya.”
Hong Lian diam lama. Lentera berkedip-kedip, membuat bayangannya bergerak di dinding batu.
Jadi itu tangan yang membawa uang, batinnya. Baili Yuyan yang ingin aku mati, dan Wei Cheng yang membayar.
Seorang selir tidak bisa menyewa sebelas pembunuh dan membayar mereka berbulan-bulan dengan uang bedak. Tapi seorang menteri yang ingin perempuan yang ia dukung duduk di kursi Permaisuri, ia bisa.
“Terima kasih, Lu Ba,” ucapnya sambil berdiri. “Habiskan buburmu. Besok demammu akan turun.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan nama itu?”
Hong Lian berhenti di anak tangga.
“Menunggu,” jawabnya. “Ular yang dipukul ekornya akan lari. Ular yang dibiarkan merasa aman akan keluar dari lubangnya sendiri.”