Beberapa hari setelah pengakuan Andrew di hadapan kedua putrinya, Evelyn pergi ke makam Shopia Wilson. Ia membawa bunga putih dan salinan surat pengangkatannya. Sopir berhenti di dekat jalan setapak, lalu membiarkannya berjalan sendiri melewati deretan pohon yang daunnya masih basah.
Di depan nisan ibunya, Evelyn berjongkok untuk menyingkirkan daun kering. Ia meletakkan bunga sebelum duduk di bangku kecil di samping makam. Nama Shopia tetap sama. Yang berbeda ialah keadaan Evelyn saat datang menemuinya.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah berdiri di pemakaman ini di hadapan dua nisan. Andrew telah menyusul ibunya, dan Evelyn datang dengan amarah setelah kehilangan kendali atas warisan keluarga. Ia berjanji akan melawan Daniel dan Emma. Sesudah itu ia pulang, masih percaya bahwa ia mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya.
Kali ini hanya ibunya yang berbaring di tempat itu. Andrew berada di rumah, menjalani pemulihan dan belajar menyampaikan keluhan tanpa menunggu didesak. Evelyn tidak perlu berpura-pura bahwa seluruh luka mereka sudah pulih untuk mengakui betapa berharganya perbedaan tersebut.
'Ayah masih bersama kami, Ibu,' katanya pelan. 'Ia sudah mengakui kesalahannya kepada Emma. Tidak semuanya dimaafkan, dan aku tidak tahu apakah hubungan kami akan kembali dekat. Tetapi kali ini ia tidak meminta kami menyebut kebohongan sebagai perlindungan.'
Ia mengeluarkan surat pengangkatan dari map dan membacanya sebentar. Dewan mempercayainya memimpin Celeste dengan masa evaluasi yang jelas. Jabatan itu bukan hak yang otomatis datang bersama nama keluarga, juga bukan hadiah karena ia berhasil bertahan dari pengkhianatan.
'Aku akhirnya diberi tanggung jawab memimpin,' lanjutnya. 'Aku masih harus mendengar orang-orang yang lebih mengetahui pekerjaannya. Ada keputusan yang mungkin salah. Aku tidak ingin menutupinya hanya karena aku putri Celeste.'
Angin menggerakkan ujung kertas. Evelyn menahannya dengan telapak tangan, kemudian memasukkannya kembali ke map. Ia tidak meninggalkan dokumen perusahaan di makam atau menjadikan kunjungan itu kesempatan berfoto. Surat tersebut hanya sesuatu yang ingin diperlihatkannya kepada ibunya, meskipun ia tahu tidak akan ada jawaban.
Ia menceritakan pembatalan pernikahannya dengan Daniel. Tidak ada upacara yang perlu diteruskan untuk menyelamatkan penampilan mereka di hadapan para tamu. Pemberitahuan pembatalan telah diterima melalui penghubung resmi, dan penyelenggara sudah menutup persiapan yang masih berjalan. Evelyn tidak menunggu Daniel menyukai keputusan itu.
Ia juga tidak mengatakan bahwa dirinya sudah berhenti marah. Perkara yang ditangani pihak berwenang belum berakhir. Ia akan memberi keterangan ketika diminta, menjaga dokumen yang diperlukan, dan membiarkan hasil pemeriksaan ditentukan melalui prosesnya. Sesudah itu masih ada hari-hari yang harus ia jalani tanpa menjadikan Daniel pusat seluruh perhatiannya.
'Aku tidak ingin hidup hanya untuk membalas,' katanya. 'Aku ingin tahu apa yang masih kusukai ketika aku tidak sedang takut.'
Ponselnya bergetar di dalam tas. Evelyn tidak langsung mengambilnya. Ia menghabiskan beberapa menit lagi di makam, teringat suara ibunya ketika menanyakan alasan di balik sebuah pilihan. Dulu Evelyn sering memberi jawaban yang ia kira ingin didengar orang lain. Kini ia ingin dapat menjawab tanpa menyembunyikan keinginannya sendiri.
Barulah setelah berdiri, ia membaca pengingat tentang urusan studi London. Surat penerimaan lama yang ditemukannya pada November masih tersimpan. Namun surat itu bukan jaminan bahwa ia dapat berangkat kapan saja tanpa memeriksa kembali penawaran dan persyaratannya.
Evelyn belum menutup keinginannya belajar. Ia hanya tidak akan memakai London untuk menghilang dari hidup yang mulai dapat ditatanya. Ia ingin memimpin perusahaan selama masa transisi, menemani pemulihan Andrew, dan mengenal Marcus tanpa menjadikan keputusan tinggal sebagai utang kepadanya.
Dalam perjalanan pulang, Kennedi menelepon untuk memastikan jadwal pertemuan kepala divisi. Evelyn mengonfirmasi waktu yang sudah diperiksa Edwin, lalu memberi tahu bahwa ia akan menyelesaikan urusan penawaran studinya secara tertulis.
'Pastikan kau tidak tinggal hanya karena merasa tidak boleh pergi,' ujar Kennedi.
'Aku memilih tinggal sekarang. Kalau nanti aku ingin belajar lagi, aku akan menyiapkan rencananya dengan benar. Aku tidak menganggap tempat lama akan menungguku selamanya.'
Kennedi menerima jawabannya. Mereka mengakhiri panggilan setelah memastikan tidak ada agenda mendesak, dan Evelyn melanjutkan perjalanan ke rumah.
Andrew duduk di teras ketika ia tiba. Bu Rini meletakkan air minum di meja dan memberi mereka waktu berbicara. Evelyn duduk di sisi ayahnya, menunjukkan salinan surat pengangkatan yang baru dibawanya ke makam.
'Ibu pasti ingin mendengar alasanmu menerima jabatan ini,' kata Andrew.
'Aku ingin menjaga pekerjaan yang sudah dibangun, bukan hanya mempertahankan namaku pada sebuah dokumen.'
Andrew mengangguk. 'Kalau suatu hari kau memilih jalan lain, jabatan itu tidak boleh menjadi alasan untuk menahanmu.'
'Aku akan mengingatnya. Ayah juga harus membiarkan orang lain menjalankan pekerjaan yang sudah Ayah serahkan.'
Andrew tersenyum kecil, lalu mengaku masih sering ingin meminta laporan tambahan. Kali ini ia tidak menyembunyikan kebiasaan itu sebagai kebutuhan mendesak. Evelyn tertawa pelan. Percakapan mereka terasa ringan tanpa harus menghapus persoalan yang belum selesai.
Sesudah makan, Evelyn masuk ke ruang kerja dan menulis kepada bagian penerimaan universitas. Ia menyebut penawaran yang pernah diterimanya, menjelaskan bahwa ia memilih tidak menggunakan keberangkatan yang semula direncanakan, serta menanyakan langkah administratif yang harus diselesaikan. Ia tidak menulis bahwa ia menghendaki tempat baru tanpa pengajuan lagi.
Balasan yang menerangkan status penawaran datang beberapa hari kerja kemudian. Untuk periode baru ia harus mengikuti proses yang dijelaskan pihak kampus; tidak ada tempat yang otomatis dijanjikan. Evelyn mengonfirmasi pilihannya dan menyimpan korespondensi tersebut. Keputusannya menunda rencana studi kini selesai diurus, bukan hanya kalimat yang diucapkan di depan makam.
Ia menutup laptop dan kembali menemui Andrew di teras. Ketika ayahnya bertanya apakah semuanya sudah jelas, Evelyn mengangguk. Ia masih dapat belajar pada masa mendatang, tetapi tidak perlu berpura-pura bahwa dirinya sedang menunggu satu surat untuk memperoleh kebebasan.
Sore itu ia memilih tinggal. Pilihan tersebut cukup untuk dijalani tanpa harus menjadi janji bahwa ia tak akan pernah pergi.