Beberapa hari setelah urusan penawaran studinya selesai, Evelyn menerima undangan Marcus untuk bertemu di kafe dekat Mile Group. Ia memeriksa jadwalnya sebelum menjawab, lalu datang tanpa membawa map perusahaan. Di meja dekat jendela, Marcus sudah menunggu dengan sebuah kotak kecil di samping cangkirnya.
Ia berdiri ketika Evelyn datang dan menanyakan minuman yang diinginkannya. Evelyn memilih teh, kemudian meletakkan tas di kursi sebelah. Tidak ada halaman kontrak yang perlu dipertahankannya di hadapan Marcus. Kerja sama kedua perusahaan sudah diselesaikan melalui peninjauan dan persetujuan pihak yang berwenang.
'Bagaimana kabar Andrew?' tanya Marcus setelah pelayan pergi.
'Masih mengikuti jadwal pemulihan. Ia mengeluh karena tidak menerima semua laporan seperti dulu, tetapi sekarang ia mengatakannya terus terang.'
Marcus tersenyum. 'Itu terdengar lebih baik daripada menyimpannya sendiri.'
'Aku juga sedang belajar melakukan hal yang sama.'
Evelyn menceritakan kunjungannya ke makam Shopia dan jawaban dari kampus. Ia telah memilih tinggal untuk menjalani tanggung jawab barunya. Tidak ada orang yang dimintanya menebak apakah keputusan itu berarti ia sedang menunggu tawaran lebih baik, takut pergi, atau berharap Marcus menahannya.
'Aku tidak ingin kau menjadikanku alasan untuk meninggalkan sesuatu yang penting bagimu,' kata Marcus.
'Aku tidak melakukannya. Aku masih ingin belajar. Tetapi aku ingin rencana itu lahir dari keinginanku, bukan kebutuhan untuk segera menjauh dari rumah.'
Pelayan meletakkan teh di hadapannya. Evelyn berterima kasih, menunggu sebentar sebelum memegang cangkir. Ia menyadari bahwa dirinya tidak sedang menyusun pembelaan. Marcus belum tentu akan menyukai semua pilihannya kelak, tetapi hari itu ia dapat menjelaskan pilihannya tanpa mempersiapkan diri menghadapi hukuman.
'Ada sesuatu yang ingin kuluruskan tentang dulu,' ujarnya.
Marcus tidak segera menjawab. Evelyn menatapnya dan meneruskan sebelum keberaniannya hilang.
'Aku menolak perjodohan kita karena saat itu aku mencintai Daniel. Aku menganggap cinta pilihanku sendiri pasti lebih benar daripada hubungan yang diusulkan keluarga. Aku bahkan belum mencoba mengenalmu.'
'Kau berhak menolak. Aku tidak ingin penolakan itu menjadi sesuatu yang harus kautebus.'
'Aku tahu. Aku tidak menyesal karena pernah membuat pilihan sendiri. Aku menyesali cara aku mengabaikan tindakan orang yang kupilih, lalu menyebut semua keraguanku sebagai kekurangan diriku.'
Marcus meletakkan sendoknya. Ia tidak menggunakan pengakuan tersebut untuk mengatakan bahwa sejak awal ia lebih pantas daripada Daniel. Sikap itu memberi Evelyn ruang untuk melanjutkan tanpa merasa sedang menyerahkan kemenangan kepada orang lain.
'Sekarang aku mengenalmu melalui hal yang benar-benar kaulakukan,' kata Evelyn. 'Kau mendengarkan cerita yang bahkan belum bisa kaujelaskan. Kau menerima batas mengenai dokumen perusahaan. Ketika aku meminta ditemani, kau mengatur waktu yang sanggup kauberikan tanpa mengambil alih seluruh hidupku.'
'Aku juga pernah keliru mengira kau tidak memerlukan bantuan.'
'Dan kau mengakuinya. Itu penting bagiku.'
Evelyn berhenti sebentar. Di luar jendela, seorang pengunjung menuntun anaknya melewati trotoar. Suara kendaraan tetap terdengar biasa. Ia tidak perlu menunggu keadaan menjadi sempurna sebelum mengatakan sesuatu yang selama ini ditahannya.
'Aku mencintaimu, Marcus.'
Pria itu terdiam. Evelyn tidak menarik kembali kalimatnya atau menutupnya dengan candaan. Ia mengucapkannya setelah pertunangannya berakhir dan setelah ia dapat membayangkan masa depan yang tidak semata-mata tersusun dari upaya melawan Daniel.
'Aku juga mencintaimu,' jawab Marcus akhirnya. 'Tetapi aku ingin kita tetap dapat berbicara ketika salah satu dari kita takut atau tidak setuju. Bukan hanya saat kita merasa lega.'
'Itu yang kuinginkan. Aku tidak bisa berjanji tak akan pernah menutup diri lagi. Aku bisa berjanji akan berusaha mengatakan ketika aku membutuhkan waktu, bukan membuatmu menebak.'
Marcus mengangguk. Mereka membiarkan kesepakatan sederhana itu tinggal sejenak di antara cangkir-cangkir, tanpa mengubahnya menjadi janji pernikahan yang belum dibicarakan.
Barulah Marcus mengambil kotak kecil di sampingnya. Ketika tutupnya dibuka, Evelyn melihat sebuah kunci dengan gantungan sederhana.
'Apartemen di Notting Hill,' ujar Marcus. 'Aku pernah menawarkannya saat kau membicarakan London. Kau belum pernah memakai tawaran itu. Kalau nanti kita ingin berkunjung, aku ingin memberimu akses dengan jelas, bukan meminta kau mencari kunci di pot bunga.'
Evelyn teringat pertemuan di lantai dua puluh satu, ketika ia masih menyimpan hampir seluruh ketakutannya sendiri. Tawaran waktu itu terasa seperti pintu menuju kehidupan yang belum dapat dibayangkannya. Kini ia tidak membutuhkan pintu darurat untuk meninggalkan semua hal di belakangnya.
'Aku tidak akan pindah ke London sekarang,' katanya.
'Aku tahu. Kunci ini tidak meminta kau meninggalkan perusahaan atau ayahmu. Apartemennya tetap milikku; kalau kau bersedia, kita bisa membicarakan waktu berkunjung dan cara menggunakannya bersama. Kau juga boleh menolak hadiah akses ini.'
Evelyn mengambil kunci itu dari kotaknya. Ia memutarnya di atas telapak, memperhatikan gantungannya sebelum menatap Marcus kembali.
'Aku menerimanya. Karena aku ingin ada tempat yang dapat kita kunjungi bersama, bukan karena aku harus segera pergi.'
'Kita tidak perlu menentukan tanggal hari ini.'
'Bagus. Minggu depan aku mulai pertemuan dengan kepala divisi. Aku juga sudah berjanji menemani Ayah pada jadwal tindak lanjutnya.'
Marcus menyebut dua hari yang mungkin dapat mereka gunakan untuk makan bersama setelah pekerjaan selesai. Evelyn memeriksa agendanya, memilih salah satunya, lalu memasukkan kunci ke saku tas. Sebuah rencana kecil yang dapat ditepati terasa lebih dekat daripada janji besar untuk mengubah seluruh hidup dalam satu malam.
Mereka menyelesaikan minuman dan meminta tagihan. Ketika berdiri, Evelyn memastikan barangnya tidak tertinggal. Marcus berjalan di sampingnya menuju pintu, lalu berhenti agar seorang pelayan dapat melintas membawa nampan. Tidak ada ucapan yang perlu diulang dari awal; Evelyn sudah mengatakan perasaannya dan menerima jawabannya.
Di luar, jalanan tetap ramai. Andrew masih memerlukan waktu untuk pulih. Hubungan keluarga dengan Emma belum kembali utuh, dan pemeriksaan terhadap perbuatan Daniel serta dokumen yang diajukan tetap berjalan. Evelyn tidak menyamakan hal-hal yang belum selesai itu dengan kehilangan seluruh kendali atas hidupnya.
Ia telah mempertahankan haknya, mengakhiri hubungan yang tidak diinginkannya, dan menerima tanggung jawab yang dipilihnya. Ia tidak perlu menjadi orang yang tak pernah takut untuk melanjutkan langkah.
Marcus menawarkan tangan. Evelyn menerimanya, kemudian mereka berjalan berdampingan melewati trotoar. Kunci Notting Hill tersimpan di dalam tasnya. Untuk hari itu, ia tidak menuju pelarian atau mengulang jalan yang ditentukan orang lain. Ia sedang pulang sebagai dirinya sendiri, dengan masa depan yang dapat dipilih dan dijalaninya.
TAMAT