Andrew duduk di ruang keluarga ketika Evelyn tiba malam itu. Bu Rini meletakkan teh di meja, lalu memberi mereka ruang. Kondisi Andrew belum pulih sepenuhnya, tetapi ia sudah bisa berjalan sebentar dengan bantuan dan berbicara tanpa cepat kehabisan napas.
'Aku dengar dewan memilihmu,' katanya.
'Iya. Aku menerima jabatan itu dengan masa evaluasi.'
'Kamu akan memimpin perusahaan dengan baik.'
Evelyn duduk di hadapannya. 'Aku ingin melakukannya tanpa mengulang kesalahan Ayah—menyimpan hal penting sendirian sampai semuanya terlambat.'
Andrew menunduk. 'Aku pantas menerima teguran itu.'
'Aku tidak datang untuk menghakimi. Tapi ada satu hal yang masih harus Ayah katakan langsung kepada Emma.'
Andrew memandang jendela. Sejak keluar dari rumah sakit, ia beberapa kali meminta Evelyn menghubungi Emma, tetapi selalu menunda percakapan ketika waktunya tiba. Hari itu Edwin telah memastikan kembali jadwal kunjungan keluarga melalui penghubung resmi. Evelyn masih harus mengonfirmasi kesiapan ayahnya sebelum mengirim pesan kepada Emma.
'Aku ingin mengatakannya sendiri,' ujarnya. 'Aku tidak mau dia mendengarnya dari orang lain lagi.'
'Ayah bisa mengatakan yang sebenarnya tanpa menjanjikan sesuatu soal saham,' kata Evelyn. 'Dia harus tahu bahwa pengakuan itu tidak membuat semua persoalan hilang.'
Andrew mengusap telapak tangannya. 'Aku takut dia akan mengira aku hanya memilihnya sekarang karena aku membutuhkan pengampunan.'
'Kalau Ayah jujur tentang alasan dulu menyembunyikannya, setidaknya dia bisa menilai sendiri. Jangan minta dia langsung memaafkan.'
'Dan kamu? Apa kamu siap mendengar percakapan itu?'
Evelyn menghela napas. 'Aku sudah tahu. Tapi aku ingin Emma mendengarnya dari Ayah. Aku tidak akan menjelaskan untuk Ayah.'
Andrew memandang foto Shopia yang ada di rak. 'Ayah seharusnya melindungi kalian berdua dengan bertanggung jawab. Ayah justru memakai kata perlindungan untuk mempertahankan kebohongan sendiri.'
'Diam membuat kami tidak punya pilihan.'
Andrew mengangguk. Ia meminta Evelyn mengundang Emma, lalu duduk menunggu tanpa mencoba menyiapkan alasan lain. Evelyn memastikan Bu Rini tahu bahwa percakapan itu perlu berlangsung tenang, tetapi tidak mengatur siapa yang harus berkata apa.
Evelyn mengirim pesan kepada Emma bahwa Andrew ingin bertemu. Ia tidak menambahkan penjelasan. Emma membalas setelah beberapa menit, menyatakan akan datang.
Ketika Emma tiba, ia berdiri di ambang ruang keluarga. Tatapannya beralih dari Andrew ke Evelyn. 'Ayah ingin bertemu denganku?'
'Duduklah,' kata Andrew.
Emma memilih kursi yang berjarak dari Evelyn. 'Aku hanya punya waktu sebentar.'
'Aku tidak akan menahanmu,' jawab Andrew. 'Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya kusampaikan sejak lama.'
Evelyn tetap diam. Ini percakapan mereka, dan Andrew harus menyelesaikannya tanpa ia mengambil alih.
***
Andrew menarik napas perlahan. 'Emma, kamu anak kandungku. Ibumu bekerja di rumah kita. Ia meninggal setelah melahirkanmu, dan aku menitipkanmu pada pengasuh terpisah sebelum membawamu ke rumah ini ketika kamu sudah remaja. Aku memberi tahu hubungan darah kita kepadamu, tetapi mempertahankan cerita anak yayasan di hadapan Evelyn dan orang lain.'
Emma tidak terkejut mendengar siapa ayah kandungnya. Hal itu telah ia ketahui sejak dibawa tinggal bersama keluarga Celeste. Yang membuatnya berhenti bergerak ialah Andrew akhirnya mengatakannya di hadapan Evelyn, tanpa berlindung di balik cerita anak yayasan.
'Kamu sudah tahu?' tanyanya.
Evelyn mengangguk. 'Ayah sudah menceritakannya kepadaku beberapa waktu lalu.'
Emma berdiri. 'Kalian membicarakan hidupku tanpa aku?'
'Aku sudah meminta Ayah bicara langsung kepadamu,' kata Evelyn. 'Aku tidak ingin mengambil hak itu darimu.'
Andrew mengangkat tangan, meminta Emma duduk kembali. 'Kesalahan itu milikku. Aku takut kehilangan Evelyn dan takut menghadapi pertanyaan tentang masa lalu. Aku menyebutmu seperti anak angkat dan membiarkanmu mengetahui siapa ayahmu sambil harus menerima pengakuan yang berbeda di hadapan orang lain.'
'Lalu sekarang Ayah mengaku karena perusahaan sudah aman?'
'Aku mengaku karena kamu berhak mendengar pengakuan yang tidak lagi kusembunyikan dari keluargaku. Tapi itu tidak menghapus apa yang terjadi di kapal atau dokumen yang kalian ajukan.'
Emma menatap meja. 'Aku ingin Ayah mengakuiku sejak dulu.'
'Aku mengakuimu sekarang sebagai putriku,' kata Andrew. 'Namun, aku tidak bisa mengubah kasih sayang menjadi izin mengambil saham Evelyn. Aku seharusnya menjelaskan batas itu tanpa menyembunyikan siapa dirimu.'
Evelyn berkata pelan, 'Aku tetap menganggapmu saudara. Tapi kepercayaan tidak kembali hanya karena kita tahu hubungan darah.'
Emma menahan air mata. 'Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan kalian.'
'Kamu tidak harus menjawab hari ini,' ujar Andrew.
Emma duduk kembali. Untuk pertama kalinya, Andrew mengakui kedudukannya di hadapan Evelyn, bukan hanya secara pribadi seperti dulu. Tidak ada pelukan yang menghapus luka, tetapi Andrew tidak menghindar ketika Emma menatapnya dengan marah dan sedih.
'Apa Ayah akan memberitahu orang lain?' tanya Emma.
'Kalau kamu menginginkannya, kita bisa menentukan cara yang tepat. Aku tidak akan menyembunyikanmu lagi, tetapi aku juga tidak akan mengumumkan kehidupan pribadimu tanpa persetujuanmu.'
Emma menatap Evelyn. 'Kamu sudah tahu, tapi tetap membiarkanku datang tanpa tahu apa yang akan dikatakan.'
'Aku ingin Ayah yang mengatakannya. Kalau aku memberitahumu, kamu mungkin mengira aku memanfaatkan rahasia itu.'
'Aku masih tidak percaya padamu.'
'Aku mengerti.'
Andrew menyela dengan suara pelan. 'Kamu boleh marah kepadaku. Aku yang menahan kebenaran. Tapi aku tidak akan meminta Evelyn menyerahkan sahamnya untuk membuktikan bahwa aku mengakuimu.'
Emma menyeka pipi, lalu berdiri. 'Aku perlu waktu.'
'Ambillah,' kata Andrew. 'Kamu bisa datang lagi kalau siap.'
Emma tidak langsung menjawab. Ia berdiri dekat pintu, belum meninggalkan ruang keluarga. Evelyn tidak memintanya kembali duduk. Ia membiarkan pengakuan itu berdiri sendiri, tanpa menuntut rekonsiliasi yang belum siap diberikan Emma.
Sebelum pergi, Emma sempat menoleh kepada Andrew. 'Aku belum tahu apa yang akan kulakukan dengan pengakuan ini.'
'Kamu tidak perlu memutuskan sekarang,' jawab Andrew.
'Aku juga belum memaafkan Ayah.'
'Aku mengerti.'
Evelyn tetap duduk. Ia tidak meminta Emma berhenti atau kembali. Kejujuran itu belum memperbaiki hubungan mereka, tetapi setidaknya kali ini tidak ada yang memaksa Emma menyembunyikan kemarahannya.
Andrew meminta Bu Rini menyiapkan teh, lalu bertanya apakah Emma ingin tinggal lebih lama. Emma menolak dengan halus. Ia berkata akan menghubungi ayahnya setelah pikirannya lebih tenang. Andrew menerima batas itu tanpa menahannya.
Evelyn memperhatikan mereka berpisah tanpa janji besar. Hubungan keluarga itu belum pulih, namun Andrew telah berhenti mengatur apa yang harus dirasakan putrinya.
Andrew menunduk. 'Aku tidak tahu apakah Emma akan kembali.'
'Itu pilihannya, Ayah.'
'Aku ingin memperbaiki hubungan kami.'
'Mulailah dengan tidak memintanya memaafkan Ayah.'
Andrew mengangguk. Evelyn duduk lagi di sampingnya sampai ia siap beristirahat.