Salinan keputusan dewan tiba sebelum malam. Evelyn membacanya dari awal hingga akhir: proses pengalihan saham dibatalkan, struktur register tetap berlaku, dan kewenangannya dipulihkan. Edwin menyimpan dokumen itu bersama laporan Nadia serta tanda terima bukti yang diserahkan kepada polisi.
'Dewan sudah mengirim pemberitahuan kepada bagian terkait,' kata Edwin. 'Tidak ada perubahan saham yang akan diproses.'
'Pastikan salinan lama yang diajukan Daniel ditandai sebagai disengketakan. Jangan hapus dari arsip.'
'Saya akan mencatat status dan menyimpan jejaknya.'
Evelyn mengangguk. Ia tidak ingin catatan hilang hanya karena keputusan berpihak kepadanya. Dokumen itu tetap bagian dari pemeriksaan yang berjalan.
Marcus mengantarnya kembali ke rumah sakit untuk menemui Andrew. Ayahnya sudah lebih sadar dan dapat berbicara sebentar, meski dokter masih meminta ia beristirahat.
'Ayah, aku sudah membuka brankas seperti yang Ayah minta,' kata Evelyn. 'Catatan Ayah cocok dengan register. Dewan membatalkan pengalihan.'
Andrew menatapnya lama, seakan perlu memastikan ia memahami setiap kata. 'Kamu menemukan catatanku?'
'Iya. Edwin mencatat semuanya dan Nadia memeriksa struktur saham dengan register.'
'Aku menyimpannya karena takut dokumen itu hilang.'
'Ayah seharusnya memberi tahu aku.'
Andrew mencoba mengangkat tangan. Evelyn menahannya dengan lembut. 'Aku tahu. Aku ingin bicara banyak, tapi dokter bilang Ayah harus beristirahat.'
'Maaf.'
'Kita bicarakan nanti. Sekarang Ayah pulih dulu.'
Bu Rini yang berdiri di dekat pintu mengusap matanya. 'Pak Andrew, Nona Evelyn sudah mengurus semuanya. Bapak tenang saja.'
Andrew mengangguk lemah dan memejamkan mata. Evelyn tidak memaksanya tetap terjaga. Ia tetap berada di sisi ranjang beberapa saat, menunggu apakah Andrew masih ingin mengatakan sesuatu sebelum ia memberi ruang kepada tim medis.
Andrew memejamkan mata lega. 'Daniel?'
'Dia dan Emma diamankan untuk pemeriksaan. Polisi sedang menindaklanjuti rekaman dan dokumen.'
Andrew terlihat sedih, tetapi tidak bertanya lebih jauh. 'Aku seharusnya bicara lebih cepat.'
'Nanti kita bicarakan setelah Ayah pulih. Sekarang Ayah istirahat.'
***
Di luar ruang perawatan, Marcus menunggu Evelyn. Ia tidak bertanya apakah ia merasa menang. Ia hanya melihat wajahnya yang lelah.
'Pernikahanku dengan Daniel sudah kubatalkan,' kata Evelyn.
Ia telah mengirim pernyataan melalui sekretariat dan meminta semua persiapan keluarga dihentikan. Tidak ada upacara yang akan berlangsung, tidak ada janji yang harus ia penuhi demi menjaga nama baik. Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta izin siapa pun untuk mengakhiri hubungan yang melukainya.
'Aku tidak ingin pernikahan itu terus menjadi alasan Daniel masuk ke hidupku,' tambahnya. 'Mulai sekarang, urusan kami hanya melalui pihak berwenang dan dewan.'
'Kamu yakin?'
'Aku sudah yakin sejak lama. Hari ini hanya membuatnya resmi.'
'Apa yang kamu rasakan?'
Evelyn memandang pintu rumah sakit. 'Lega. Marah. Sedih karena Ayah harus melalui semua ini. Tapi aku tidak merasa takut seperti dulu.'
Marcus mengangguk. 'Kamu tidak lagi menghadapi mereka sendirian.'
'Aku tahu. Tapi keputusan tetap milikku.'
'Aku tidak lagi menginginkan hubungan itu kembali. Aku juga tidak ingin menghabiskan hidup dengan membenci mereka.'
'Kamu berhak memilih apa yang kamu lakukan setelah ini.'
'Untuk sekarang, aku ingin fokus pada pemulihan Ayah dan memastikan perkara ini berjalan sesuai hukum.'
Marcus menerima jawaban itu tanpa meminta Evelyn menjanjikan masa depan bersama. Mereka berjalan menuju ruang tunggu, tempat Edwin menunggu laporan dari polisi.
'Daniel dan Emma masih dimintai keterangan,' kata Edwin. 'Petugas menyimpan rekaman utuh, salinan register, dan laporan legal. Mereka meminta kita tidak menghubungi keduanya langsung.'
'Apakah mereka akan dibawa ke kantor polisi?'
'Ya, untuk pemeriksaan lanjutan. Petugas belum menyebut keputusan penahanan setelah pemeriksaan awal.'
Evelyn mengangguk. 'Kita jangan menyebarkan kabar itu ke kantor atau media. Biarkan pihak berwenang menyampaikan jika memang perlu.'
Marcus berkata, 'Kennedi sudah mengirim keputusan tertulis. Kamu tidak perlu menjelaskan lebih dari itu kepada siapa pun.'
'Aku akan menyampaikan bahwa proses pengalihan dibatalkan dan kewenanganku dipulihkan. Perkara polisi tetap terpisah.'
Edwin menambahkan keputusan dewan ke map dan mencatat waktu penerimaannya. Evelyn meminta salinan digital disimpan dengan dokumen brankas agar riwayatnya tetap utuh.
'Kita ikuti arahan itu,' kata Evelyn. 'Tidak ada pesan pribadi atau pertemuan tambahan.'
Ia mematikan notifikasi dari nomor Daniel dan Emma, tetapi tidak menghapus pesan atau riwayat panggilan. Bukti tetap disimpan, dan semua komunikasi berikutnya akan melalui pihak berwenang.
Edwin datang membawa map terakhir. 'Nona, polisi sudah mengonfirmasi mereka menerima rekaman dan dokumen. Mereka akan menghubungi kita jika memerlukan keterangan tambahan.'
'Baik. Kita berikan apa pun yang diminta melalui prosedur.'
Evelyn menatap pantulan dirinya di kaca lorong. Ia kembali mengingat laut, malam ketika Daniel mendorongnya, dan janji yang dibuatnya saat terbangun pada masa lalu. Ia tidak membalas dengan menjadi seperti mereka. Ia memilih menjaga bukti, menghentikan pengalihan, dan menentukan sendiri akhir hubungannya.
Ia tidak merasa seluruh lukanya hilang. Pengkhianatan itu tetap nyata, begitu juga kesedihannya karena Emma dan Daniel memilih jalan tersebut. Namun, ia tidak lagi menganggap dirinya wajib memaafkan mereka agar bisa melanjutkan hidup.
'Aku ingin pulang setelah memastikan Ayah tenang,' katanya.
Marcus mengangguk. 'Aku akan mengantarmu.'
Evelyn menerima tawaran itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkah berikutnya bukan pelarian ke London atau rencana balas dendam. Ia hanya ingin pulang, beristirahat, dan berada di sisi ayahnya.
Ia berjalan keluar dari rumah sakit dengan map keputusan dewan di tangan dan keyakinan bahwa masa depannya kembali menjadi miliknya.
Malam itu ia akan beristirahat, lalu menghadapi hari berikutnya tanpa rasa takut pada Daniel.
Ia menatap jalan di depan, tidak lagi menoleh ke kapal.
Edwin berjalan di sampingnya, sementara Marcus membuka pintu mobil. Evelyn duduk dan mengirim kabar kepada Bu Rini bahwa ia akan kembali ke rumah sakit setelah beristirahat, sesuai waktu kunjungan berikutnya. Ia tidak merasa semuanya selesai, tetapi malam itu ia bisa pulang tanpa mengkhawatirkan sahamnya berpindah diam-diam.
Andrew masih harus pulih. Pemeriksaan terhadap Daniel dan Emma belum selesai. Namun, Evelyn tidak lagi menjadi perempuan yang berdiri tanpa pilihan. Ia akan menjalani hari berikutnya tanpa menyerahkan hidupnya kepada rasa takut.