Daniel berdiri di antara Evelyn dan pintu ketika ia hendak keluar. 'Kamu datang jauh-jauh hanya untuk menolak?'
Evelyn berhenti. 'Aku datang karena kalian mengundangku bicara damai. Aku sudah mendengar usul kalian.'
'Kamu bahkan tidak mencoba memahami apa yang Emma inginkan.'
Emma menyela, 'Jangan berpura-pura peduli sekarang. Kamu selalu punya Ayah, nama keluarga, dan saham. Aku harus berjuang untuk setiap hal.'
'Aku tidak pernah melarang Ayah mengakui kamu.'
'Tapi kamu menikmati tempatmu sebagai putri tunggal.'
Evelyn memandang Emma. 'Aku baru tahu hubungan darahmu beberapa waktu lalu. Aku tetap menganggapmu adik. Itu tidak berarti aku harus menerima rencana mengambil sahamku.'
Daniel tertawa pendek. 'Kamu bicara seolah-olah saham itu milikmu sejak awal.'
'Register perusahaan mencatatnya atas namaku.'
'Register bisa diubah.'
'Dengan dokumen dan persetujuan yang sah.'
Emma menarik kursi dengan kasar. 'Daniel, jangan bicara lebih jauh.'
Evelyn menangkap pertukaran pandang mereka. 'Apa yang kalian takutkan akan terdengar?'
'Kami tidak takut,' kata Daniel.
'Kalau begitu jelaskan kenapa kalian mengirim dokumen pengalihan yang tidak pernah kusetujui.'
Daniel menegang. Emma menunduk sekilas, lalu menatap Evelyn dengan marah. 'Kami hanya berusaha mendapatkan bagian yang seharusnya sejak lama diberikan.'
'Dengan tanda tangan digital atas namaku?'
Emma terdiam. Daniel segera mengambil alih. 'Itu hanya cara mempercepat proses. Semua orang di perusahaan tahu Evelyn akan menandatangani kalau diberi waktu.'
'Aku tidak pernah menyetujuinya.'
'Karena kamu berubah,' kata Daniel. 'Dulu kamu percaya padaku.'
Evelyn menatap ponsel yang masih dipegangnya dengan layar terbuka. Mereka menyetujui perekaman sebelum mulai, dan hingga saat itu belum meminta pembicaraan dihentikan. Ia menyatakan bahwa penjelasan Daniel mengenai pemrosesan berkas belum menjawab dari mana persetujuan atas namanya diperoleh. Daniel tidak menyerahkan jawaban tertulis; ia justru berpaling kepada Emma.
***
Daniel mengusap wajahnya, lalu menatap Emma. 'Kita seharusnya tidak datang.'
'Kamu yang bilang dia akan menerima kesepakatan,' balas Emma. 'Kamu bilang semuanya sudah disiapkan.'
'Jangan lempar semua kepadaku.'
Evelyn tetap berdiri di dekat pintu. 'Apa yang sudah kalian siapkan?'
Emma menggeleng, tetapi Daniel sudah kehilangan kendali atas suaranya. Ia mengatakan Emma mengirim pesan kepada Andrew untuk membuatnya mengubah sikap terhadap Evelyn. Ia juga mengaku menggunakan akun Emma untuk mendorong berkas saham melalui proses internal.
'Kamu memakai perangkatmu untuk mengakses akun Emma,' kata Evelyn. 'Itu yang tercatat dalam log.'
Daniel menatapnya tajam. 'Kamu mengumpulkan catatan itu diam-diam?'
'Edwin menemukannya melalui pemeriksaan akses. Catatan itu menunjukkan akun dan perangkat, bukan identitas orang yang mengetik. Kamu baru saja melengkapinya dengan ucapanmu sendiri.'
'Aku tidak bilang aku membuat tanda tangan.'
'Kamu bilang memproses berkas tanpa persetujuanku.'
Emma menyela, 'Kami pikir kamu akan setuju setelah melihat manfaatnya.'
'Apa manfaatnya bagiku?'
'Kamu akan tetap punya bagian, hanya tidak mengendalikan semuanya,' jawab Emma. 'Aku juga putri Ayah.'
'Kalau Ayah ingin membagi saham, dia bisa membicarakannya saat sadar. Kalian memilih membuat dokumen dan mendorong prosesnya tanpa persetujuanku.'
Emma memalingkan wajah. 'Ayah selalu menunda. Aku tidak bisa menunggu seumur hidup.'
'Itu alasanmu, bukan pembenaran.'
Daniel mengetuk meja. 'Tidak ada yang mengambil apa pun. Berkasnya belum diproses.'
'Karena aku dan Edwin menghentikannya.'
Daniel terdiam. Evelyn menyadari bahwa setiap bantahan mereka kini bertabrakan dengan catatan yang sudah ia amankan.
'Aku hanya membantu. Emma yang meminta.'
'Kamu bilang hubungan kalian sudah lama,' ujar Evelyn kepada Emma. 'Kapan kalian mulai berbohong kepadaku?'
Emma mengangkat dagu. 'Sejak kamu menganggap semua yang kamu punya akan selalu menjadi milikmu.'
'Itu bukan jawaban.'
'Kami saling mencintai,' kata Daniel. 'Aku tidak bisa terus hidup dengan pertunangan yang hanya dipertahankan demi keluarga.'
'Kapan?' tanya Evelyn.
Daniel mengerutkan kening. 'Apa?'
'Kapan hubungan kalian dimulai? Aku ingin mendengar jawaban yang jelas.'
Emma menjawab lebih dulu. 'Sebelum kamu mulai curiga. Kami tidak merencanakan semuanya dalam satu malam.'
'Jadi selama aku mempercayai kalian, kalian sudah menyembunyikannya.'
'Kamu sibuk dengan hidupmu sendiri,' kata Emma. 'Kamu selalu mendapat perhatian Ayah dan semua orang mengira kamu akan menikah dengan Daniel.'
'Kalian bisa mengatakan hubungan itu selesai sebelum mengambil langkah lain.'
Daniel tertawa pahit. 'Kamu membuat semuanya tampak sederhana karena kamu tidak pernah kehilangan apa pun.'
Evelyn menatapnya. 'Aku kehilangan hidupku sekali. Tapi aku tidak memakai rasa sakit itu sebagai alasan untuk mengambil milik orang lain.'
Emma memucat sedikit. 'Apa maksudmu?'
Evelyn tidak menjelaskan. Ia tidak akan membuka rahasia kelahirannya kembali kepada orang-orang yang menggunakan rahasia untuk menekan ayahnya.
Evelyn merasakan nyeri lama di dada, tetapi kali ini ia tidak membiarkan tubuhnya mengecil. 'Kalian bisa mengakhiri hubungan denganku tanpa memalsukan dokumen atau merencanakan pengalihan.'
Daniel mendekat ke meja. 'Kamu tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mempertahankan posisiku.'
'Posisimu sebagai apa?' Evelyn bertanya. 'Tunangan yang tidak pernah berniat menikahiku, atau orang yang ingin mengambil saham keluargaku?'
Daniel tidak menjawab. Emma memandang ke luar jendela kapal, menghindari tatapan mereka.
'Kalian mengundangku untuk berdamai,' lanjut Evelyn. 'Tapi sejak awal yang kalian bawa adalah rancangan pengalihan. Kalian tidak pernah berniat meminta maaf.'
'Aku tidak perlu meminta maaf karena mencintai Emma,' kata Daniel.
'Aku tidak meminta maaf untuk itu. Aku meminta kalian bertanggung jawab atas kebohongan dan berkas yang kalian dorong tanpa persetujuanku.'
Emma memotong, 'Jangan bicara seolah-olah kamu tidak pernah menggunakan siapa pun untuk mendapatkan yang kamu mau.'
Evelyn menatapnya. 'Kalau ada yang ingin kamu tuduhkan, katakan dengan jelas dan beri bukti.'
Emma terdiam. Daniel mengambil mapnya lagi, tetapi Evelyn menolak menerimanya.
'Itu pilihanmu.'
Emma berusaha meraih ponsel Evelyn. Evelyn menarik tangannya dan mundur selangkah. 'Jangan sentuh ponselku.'
Daniel mendorong kursi hingga jatuh ke belakang. 'Matikan rekaman itu.'
'Baik. Aku menghentikannya,' jawab Evelyn. Ia menyebut waktu selesai dan mengakhiri perekaman di depan mereka. 'Tetapi file yang sudah dibuat tidak boleh kalian ambil dari ponselku.'
Wajah Daniel berubah. Ia bergerak cepat ke arah Evelyn, dan ruang di antara mereka menyempit. Evelyn mundur menuju pintu dek, menjaga ponsel tetap di tangannya. Pengakuan mereka sudah terdengar jelas; ia tidak akan membiarkan mereka mengambil perangkat itu.