Kapal pesiar keluarga Celeste masih tertambat di dermaga saat Evelyn tiba bersama Edwin dan Marcus. Ia meminta awak kapal memastikan rute belum dimulai dan menanyakan siapa yang sudah berada di atas. Daniel dan Emma menunggu di ruang utama, seperti yang mereka tulis dalam undangan.
'Aku akan masuk sendiri lebih dulu,' kata Evelyn.
Marcus mengangguk. 'Kami menunggu di dekat pintu. Kalau kamu ingin kami masuk, beri tanda.'
'Jangan jauh-jauh.'
Edwin memperlihatkan map berisi salinan laporan legal, lalu menyimpannya kembali pada tasnya sendiri. 'Dokumen ini tetap bersama saya. Nona tidak perlu membawanya kecuali diminta.'
Evelyn melangkah naik. Ia mengenakan gaun sederhana dan membawa ponsel di tangan. Daniel berdiri menyambutnya dengan senyum yang pernah membuatnya merasa aman.
'Eve, terima kasih sudah datang.'
Emma berdiri di sampingnya. 'Kami ingin bicara baik-baik. Tidak ada yang perlu bertengkar.'
'Aku datang untuk mendengar,' kata Evelyn. 'Tapi aku tidak akan menandatangani atau menyetujui apa pun di sini.'
Daniel menunjuk kursi di seberangnya. 'Duduk dulu. Kita tidak perlu mengubah pembicaraan keluarga menjadi rapat dewan.'
'Kalian yang meminta bertemu di kapal milik keluarga dan bilang ingin mengakhiri pertikaian. Aku hanya ingin tahu apa maksudnya.'
Emma menyodorkan segelas air. Evelyn menerimanya, tetapi meletakkannya di meja tanpa minum.
'Kamu selalu berhati-hati sekarang,' ujar Emma.
'Aku belajar untuk tidak menyetujui sesuatu sebelum tahu isinya.'
Daniel menarik kursi. 'Kami tidak akan menyuruhmu melakukan apa pun.'
'Bagus. Jadi kita bisa bicara tanpa tekanan.'
Evelyn duduk, memastikan pintu ruang utama tidak tertutup rapat. Ia mendengar suara awak kapal di bagian lain dan memastikan kapal tetap tertambat. Ketika Daniel bertanya apakah ia ingin menunggu sampai mereka berlayar, Evelyn menjawab tidak.
'Kita bicara di sini. Aku tidak setuju kapal meninggalkan dermaga.'
Daniel menatapnya, lalu mengangguk pendek. 'Baik. Kalau itu membuatmu nyaman.'
Emma tersenyum tipis. 'Kami memang tidak berniat pergi jauh.'
Evelyn belum mengaktifkan perekam. Ia menyampaikan bahwa sebelum pembicaraan dimulai, ia ingin memastikan apakah Daniel dan Emma bersedia percakapan mereka direkam.
Daniel mengerutkan kening. 'Kita bahkan belum mulai bicara.'
'Aku ingin batasnya jelas dari awal.'
Mereka duduk di meja panjang. Evelyn meletakkan ponselnya di atas meja dengan layar menghadap ke atas. 'Aku akan mencatat pembicaraan ini agar tidak ada yang salah mengingat. Kalau kalian tidak setuju, kita bisa meminta pihak ketiga mencatat.'
Emma melirik Daniel. 'Kamu merekam kami?'
'Aku mengatakannya dengan jelas. Kalian boleh menolak dan kita berhenti.'
Daniel menatap ponsel itu, lalu menarik kursinya. 'Aku setuju pembicaraan ini direkam. Kita bicara saja.'
Evelyn mengaktifkan perekam suara di depan mereka. Tidak ada gerakan tersembunyi. Ia menyebutkan tanggal, tempat, dan siapa saja yang berada di ruangan. Setelah Emma juga mengatakan, 'Aku setuju,' ia bertanya apa yang ingin mereka selesaikan.
Daniel memulai dengan mengatakan bahwa hubungan mereka telah berubah dan semua pihak harus menerima kenyataan. Emma berkata ia sudah lama menginginkan pengakuan sebagai anak Andrew dan tempat yang setara di perusahaan.
'Kamu juga putri Ayah,' kata Evelyn. 'Soal perusahaan harus mengikuti aturan dan dokumen.'
'Aturan itu selalu dibuat untuk melindungimu,' jawab Emma.
'Laporan legal menunjukkan sahamku tidak pernah dialihkan.'
Daniel menyilangkan tangan. 'Laporan itu tidak menjawab semua hal.'
'Kalau begitu, jelaskan hal yang belum terjawab.'
Emma menoleh kepada Daniel. Ada jeda yang tidak nyaman di antara mereka. 'Kami datang untuk membuat kesepakatan. Kamu bisa berhenti menentang kami dan menerima pembagian yang adil.'
***
Evelyn menjaga suaranya tetap datar. 'Pembagian apa? Siapa yang mengusulkan? Apakah ada dokumen yang ingin kalian berikan?'
Daniel mengeluarkan map tipis dari tasnya, tetapi tidak mendorongnya ke arah Evelyn. 'Ini rancangan kesepakatan. Kalau kamu menandatangani, konflik bisa selesai.'
'Aku tidak akan membaca atau menandatangani dokumen tanpa pemeriksaan legal.'
'Nadia sudah memeriksa saham,' kata Emma. 'Kamu masih ingin mengulur waktu.'
'Nadia memeriksa register. Dia tidak menyetujui kesepakatan baru.'
Daniel mengetuk meja. 'Kamu selalu mencari celah.'
'Aku mencari kejelasan. Kalian mengundangku untuk berdamai. Mengapa ada dokumen yang mengubah kendali saham?'
Emma menarik napas dan menatap Daniel. 'Karena kalau kita tidak membuat perubahan sekarang, aku akan tetap menjadi orang luar.'
'Hubungan darahmu dengan Ayah bukan sesuatu yang kutolak,' kata Evelyn. 'Tapi itu tidak otomatis memindahkan sahamku.'
Wajah Emma mengeras. 'Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya berdiri di sampingmu dan tetap dianggap tidak punya tempat.'
'Aku pernah menerima kamu sebagai saudara. Aku tidak pernah menyetujui kamu mengambil sesuatu dariku.'
Daniel bangkit dari kursi. 'Kita tidak akan menyelesaikan apa pun kalau kamu terus bicara seolah-olah kami penjahat.'
Evelyn menatapnya tanpa berdiri. 'Kalau kalian ingin membahas hubungan keluarga, aku mendengarkan. Kalau kalian ingin aku menyetujui pengalihan, jawabannya tidak.'
Daniel menarik map kembali ke hadapannya. Emma berdiri pula. Mereka belum mengakui apa yang dilakukan terhadap dokumen digital, tetapi sikap mereka sudah jauh dari ajakan damai yang dikirim. Evelyn belum mengakhiri rekaman; percakapan mereka masih berlangsung. Ia mengambil ponselnya dan bersiap meninggalkan ruang utama.
'Kalian belum menjawab pertanyaanku,' katanya. 'Siapa yang menyiapkan rancangan itu dan mengapa ada bagian tentang saham?'
'Kami akan membicarakannya setelah kamu membaca,' jawab Daniel.
'Aku tidak akan membawa dokumen itu tanpa salinan dan waktu untuk memeriksanya.'
Emma menarik map dari tangan Daniel. 'Kalau kamu menolak bahkan sebelum melihat, jangan bilang kami tidak mencoba.'
'Aku sudah membaca undangan kalian dan laporan legal. Itu tidak sama dengan menyetujui isi map yang belum kalian berikan untuk ditinjau.'
Evelyn tidak membuka map. Ia membiarkan Emma menyimpannya kembali. Jika mereka sungguh datang untuk berdamai, mereka bisa menerima bahwa keputusan saham harus melalui proses resmi.
Daniel menghela napas. 'Kamu membuat semuanya sulit.'
'Aku meminta kalian menjelaskan maksud kalian. Itu tidak sulit.'
Ia menyebutkan bahwa mereka belum mencapai kesepakatan dan meminta pembicaraan dihentikan dengan tenang. 'Kalau kalian ingin bicara lagi, kirim usul tertulis melalui jalur yang benar.'
Emma tidak menjawab. Daniel hanya menatapnya saat Evelyn menuju pintu.