Andrew masih terbaring ketika Evelyn masuk pagi itu. Ia duduk di sisi ranjang dan menyentuh punggung tangan ayahnya. Di luar, Marcus dan Bu Rini menunggu. Evelyn tidak tahu apakah Andrew dapat mendengar, tetapi ia tetap menceritakan bahwa mereka semua berada di sana.
'Marcus datang semalam,' bisiknya. 'Bu Rini juga menemani. Kami menunggu Ayah.'
Jemari Andrew bergerak sedikit.
Evelyn membeku. Ia mencondongkan badan. 'Ayah?'
Kelopak mata Andrew bergetar. Ia berusaha membuka mata, lalu menutupnya lagi seolah cahaya terlalu terang. Evelyn segera memanggil perawat.
'Ayah mulai merespons.'
Perawat masuk dan memeriksa keadaan Andrew. 'Pak Andrew, apakah Bapak bisa mendengar saya?'
Andrew membuka mata perlahan. Pandangannya belum fokus, tetapi ia sadar. Evelyn menggenggam tangannya dengan hati-hati.
'Ayah, aku di sini.'
Andrew menggerakkan bibir. Suaranya sangat lemah. 'Evelyn…'
Evelyn menunduk agar ayahnya tidak perlu mengeraskan suara. 'Jangan bicara dulu. Dokter akan memeriksa Ayah.'
Andrew mengedip pelan. Tangannya bergerak seakan hendak menggenggam jemari Evelyn, tetapi tenaganya belum cukup. Ia tampak berusaha memastikan siapa yang berada di sisi ranjang.
'Bu Rini ada di luar,' kata Evelyn. 'Aku akan memberi tahu Edwin bahwa Ayah sudah sadar. Marcus menunggu di lorong.'
Perawat memeriksa tanda-tanda yang diperlukan dan meminta Andrew menggerakkan jari jika ia bisa mendengar. Andrew melakukannya pelan. Evelyn mengusap matanya, lega sekaligus takut membuat ayahnya kelelahan.
'Kami tidak akan menanyakan apa pun sekarang,' katanya. 'Ayah cukup istirahat.'
Perawat memberi isyarat agar Evelyn memberi ruang. Ia mundur ke sisi pintu, tetapi tetap menatap ayahnya. Andrew telah sadar, namun setiap gerakannya masih lemah. Evelyn mengikuti arahan petugas dan menahan semua pertanyaan yang ingin ia ajukan.
Perawat menghubungi dokter, sementara Evelyn menunggu di luar. Marcus berdiri begitu melihatnya keluar.
'Dia sadar?'
'Iya. Dia membuka mata dan menyebut namaku.'
Bu Rini menutup mulut, matanya basah. 'Syukurlah.'
Dokter datang dan melakukan pemeriksaan. Evelyn menunggu sampai diizinkan masuk kembali. Andrew masih lemah, tetapi dapat membuka mata dan merespons. Dokter meminta keluarga menjaga suasana tenang serta tidak membanjirinya dengan pertanyaan.
'Bicaralah singkat. Biarkan beliau beristirahat,' pesan dokter.
Evelyn mengangguk. 'Baik.'
***
Ketika Evelyn kembali ke sisi ranjang, Andrew menatapnya dengan mata sayu. Ia mencoba mengangkat tangan, tetapi Evelyn menahannya dengan lembut.
'Jangan bergerak dulu, Ayah.'
'Kamu… di sini.'
'Aku tidak pergi.'
Andrew menelan ludah. 'Ada… sesuatu yang harus kamu lakukan.'
'Nanti saja. Ayah harus beristirahat.'
'Brankas…' Andrew berhenti untuk mengambil napas. 'Di ruang kerjaku.'
Evelyn mendekat agar dapat mendengar. 'Brankas yang mana?'
'Buka… brankas di ruang kerja.'
Evelyn teringat ruang kerja ayahnya dan dokumen yang selama ini disimpan di sana. 'Apa yang harus kucari?'
Andrew menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi. 'Buka saja. Edwin… tahu.'
'Ayah ingin aku menghubungi Edwin?'
Andrew memberi anggukan kecil. 'Jangan… biarkan Daniel…' Kalimatnya terputus. Ia tampak kehabisan tenaga.
Evelyn menahan pertanyaan yang sudah memenuhi pikirannya. 'Baik. Aku akan bicara dengan Edwin dan membuka brankas itu. Tapi sekarang Ayah istirahat.'
Andrew menatapnya seolah memastikan ia mengerti. 'Jangan sendiri.'
'Aku tidak akan sendiri.'
Perawat masuk kembali dan meminta Evelyn memberi waktu bagi Andrew untuk beristirahat. Ia mengusap tangan ayahnya sekali sebelum mundur.
Di lorong, Marcus membaca ekspresinya. 'Apa yang dia katakan?'
'Dia meminta aku membuka brankas di ruang kerjanya. Katanya Edwin tahu.' Evelyn memandang Bu Rini. 'Dia juga menyebut Daniel, tapi belum sempat menjelaskan.'
'Kita tunggu sampai dokter mengizinkan,' kata Bu Rini. 'Jangan terburu-buru meninggalkan rumah sakit.'
'Aku tidak akan pergi sekarang. Aku hanya akan menelepon Edwin dan meminta dia menunggu di rumah. Kita buka setelah keadaan Ayah memungkinkan.'
Marcus mengangguk. 'Aku bisa ikut mendampingi kalian ketika waktunya tiba.'
Evelyn menghubungi Edwin. Ia menyampaikan permintaan Andrew tanpa menebak isi brankas. Edwin terdiam sejenak di ujung telepon.
'Saya senang beliau sudah sadar,' kata Edwin. 'Saya akan menjaga ruang kerjanya sampai Nona datang.'
'Terima kasih. Tunggu kabar dariku.'
'Saya tahu brankas yang dimaksud,' katanya. 'Saya akan menunggu instruksi Nona.'
'Jangan buka atau memindahkan apa pun sebelum aku tiba. Simpan semuanya seperti adanya.'
'Baik.'
'Dan jangan beri tahu Daniel bahwa Ayah sudah sadar atau menyebut brankas itu. Aku ingin memastikan Ayah mendapat waktu untuk pulih sebelum kabar ini sampai ke kantor.'
'Saya mengerti. Saya tidak akan membagikan informasi tersebut.'
Evelyn menutup telepon dan menoleh kepada Marcus. 'Aku tidak tahu apakah brankas itu berisi sesuatu yang bisa membantu. Aku juga tidak ingin berharap terlalu banyak.'
'Kamu tidak perlu memutuskan sekarang apa artinya. Cukup ikuti permintaan ayahmu ketika waktunya aman.'
'Aku akan melakukannya.'
Bu Rini berdiri untuk kembali ke ruang perawatan. 'Saya akan memastikan Bapak tetap tenang. Nona bisa menyusul sebentar lagi.'
Evelyn mengangguk. Ia memandang surat penangguhan yang masih tersimpan di map dan kemudian ke arah pintu tempat Andrew beristirahat. Untuk pertama kali sejak dewan mengirimkan keputusan, ada langkah yang bisa ia ambil tanpa menebak isi pikiran orang lain: menunggu keadaan ayahnya membaik, lalu membuka brankas bersama Edwin.
Andrew telah sadar dan menyebut brankas, tetapi isi di dalamnya masih belum diketahui. Ia kembali duduk di lorong, kali ini dengan satu arah baru yang datang langsung dari ayahnya.
Marcus duduk di kursi seberangnya. 'Kita tunggu sampai dokter memberi izin untuk meninggalkan rumah sakit.'
'Ya. Aku tidak akan membuka brankas tanpa memastikan keadaan Ayah.'
Bu Rini membenarkan selimutnya. 'Bapak akhirnya bisa menyampaikan keinginannya sendiri. Itu yang paling penting sekarang.'
Evelyn memandang pintu ruang perawatan. Permintaan Andrew belum menjelaskan isi brankas atau apa yang ia maksud ketika menyebut Daniel. Namun, kali ini ia tidak perlu menebak dari dokumen yang terserak atau pesan yang ditinggalkan. Ayahnya sendiri telah memberinya petunjuk, dan ia akan menunggu sampai bisa menindaklanjutinya dengan hati-hati.
Pada kesempatan bicara berikutnya yang diizinkan perawat, Andrew meminta teleponnya. Evelyn menyerahkannya dan menjelaskan bahwa Emma telah meneruskan teks pesannya langsung kepadanya. Ia tidak membuka perangkat ayahnya saat Andrew belum sadar. Andrew mengangguk, menunjukkan pesan yang diterimanya sendiri, lalu mengizinkan Edwin membantu menyimpan salinannya untuk pemeriksaan bila diperlukan. Mereka hanya memeriksa percakapan yang berkaitan itu. Sesudahnya telepon dikembalikan kepada Andrew, dan Evelyn membiarkannya beristirahat. Izin membuka brankas tetap dijalankan bersama Edwin ketika keadaan memungkinkan.