Evelyn membuka mata ketika suara langkah mendekat di lorong. Ia tidak tahu berapa lama tertidur dalam posisi duduk. Bu Rini berada di kursi seberang dengan selimut tipis di pangkuannya. Di hadapan mereka, Marcus berdiri membawa dua gelas minuman hangat.
'Marcus?' Evelyn menegakkan tubuh. 'Kamu sudah datang?'
'Kau mengirim lokasi tempat menunggu. Edwin hanya memastikan aku tidak salah menuju ruang tunggu.' Marcus meletakkan satu gelas di meja. 'Kalau kamu ingin aku pergi, aku akan pergi.'
Evelyn menatap gelas itu, lalu wajahnya. 'Aku tidak ingin sendirian malam ini.'
Marcus menarik kursi dan duduk tanpa mendekat berlebihan. 'Kalau begitu, aku di sini.'
Bu Rini berdiri. 'Saya akan mengambil selimut tambahan. Nona bisa beristirahat sebentar.'
'Bu Rini juga perlu tidur,' kata Evelyn.
'Saya akan bergantian dengan Edwin nanti. Untuk sekarang, biarkan Marcus menemani.' Bu Rini memberi Marcus tatapan tegas. 'Jangan biarkan dia memaksa diri.'
'Saya akan mengingatkan,' jawab Marcus.
Setelah Bu Rini pergi, Evelyn memegang gelas dengan kedua tangan. 'Dewan menangguhkan wewenangku atas saham.'
'Aku tahu.'
'Emma datang dan mengejekku. Andrew belum sadar. Rasanya semua yang kulakukan tidak berarti.'
Marcus tidak buru-buru menyangkal. 'Keputusan itu memang menyakitkan. Tapi itu belum menghapus pekerjaanmu atau mengubah kepemilikan saham.'
'Aku tahu secara teori. Tapi aku lelah harus selalu membuktikan bahwa aku pantas berada di sana.'
'Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepadaku malam ini.'
Evelyn menatapnya. 'Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih sanggup melanjutkan.'
'Kamu boleh lelah. Kamu boleh beristirahat. Itu tidak sama dengan menyerah.'
'Kamu selalu punya kalimat yang terdengar sederhana.'
'Aku tidak punya jawaban untuk keputusan dewan. Aku hanya bisa duduk di sini dan mendengarkan.'
'Kamu tidak akan mencoba meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja?'
'Aku tidak tahu apakah semua akan berjalan seperti yang kamu inginkan.' Marcus menatapnya dengan tenang. 'Aku bisa bilang keputusan itu belum final, tapi aku tahu itu tidak cukup menghapus rasa sakitmu.'
Evelyn mengangguk. 'Aku takut kalau Ayah tidak sadar, aku harus mengambil keputusan sendirian.'
'Kamu masih punya Edwin, Bu Rini, dan orang-orang yang bisa membantu menilai dokumen. Keputusanmu tetap milikmu, tapi kamu tidak harus bekerja tanpa dukungan.'
'Aku tidak terbiasa meminta bantuan.'
'Aku tahu.'
'Dan kamu tetap datang.'
'Karena kamu bilang tidak ingin sendirian.'
Jawaban itu membuat Evelyn terdiam. Marcus tidak meminta balasan atau menyelipkan janji tentang hubungan mereka. Ia hanya menerima keadaannya malam itu.
Evelyn menghela napas. Kehadiran Marcus tidak menyelesaikan masalah, tetapi ia tidak merasa harus menyembunyikan betapa takut dan letihnya dirinya. Ia menceritakan pesan Emma kepada Andrew dan pengakuan tentang Daniel. Marcus mendengarkan tanpa menyela atau mengubah pengakuan itu menjadi rencana balas dendam.
***
Malam bergerak perlahan. Marcus tetap di kursinya, sesekali bertanya apakah Evelyn ingin air. Ia tidak menyuruhnya pulang dan tidak mengambil keputusan untuknya. Ketika Evelyn mulai menggigil karena pendingin lorong, ia menawarkan jaketnya.
'Kamu juga akan kedinginan,' kata Evelyn.
'Aku masih punya kemeja.'
Evelyn menerima jaket itu. 'Terima kasih sudah datang.'
'Kamu tidak perlu berterima kasih karena aku memilih menemanimu.'
'Aku tetap ingin mengatakannya.'
Bu Rini kembali dan melihat mereka duduk diam. 'Bapak belum berubah. Perawat akan memberi kabar kalau ada sesuatu.'
'Nona perlu tidur sungguhan,' kata Marcus. 'Aku akan membangunkanmu kalau perawat datang.'
Evelyn menggeleng. 'Aku takut melewatkan sesuatu.'
'Aku akan tetap di sini. Bu Rini juga ada. Kamu tidak harus berjaga sendirian.'
Bu Rini membenarkan selimut di bahu Evelyn. 'Istirahat sebentar, Nona. Saya dan Marcus akan mendengar kalau ada kabar.'
Kali ini Evelyn tidak membantah. Ia memejamkan mata di kursi, sementara Marcus duduk di lorong dan Bu Rini menunggu di sisi lain. Sesekali Evelyn terbangun, mendengar bunyi langkah atau suara pintu, lalu melihat Marcus masih ada.
'Kamu belum pulang?' tanya Evelyn saat membuka mata.
'Belum,' jawab Marcus. 'Edwin tahu aku berada di sini. Kalau perawat datang, kami akan membangunkanmu.'
'Sudah hampir pagi.'
'Aku tahu. Aku akan pulang setelah kau masuk sebentar menemui Andrew.'
Evelyn meraih botol air yang ditawarkan Marcus dan minum beberapa teguk. Ia tidak lagi berusaha menghitung berapa lama malam itu berlangsung.
Evelyn kembali menyandarkan kepala. Kecemasan belum hilang, tetapi ia tidak lagi harus menanggungnya seorang diri. Menjelang pagi, perawat datang membawa kabar bahwa Andrew tetap stabil dan keluarga boleh masuk bergantian. Evelyn berdiri dengan tubuh kaku.
'Aku sempat berpikir akan pulang,' katanya kepada Marcus. 'Bukan karena ingin meninggalkan Ayah, tapi karena aku merasa tidak sanggup melihat semuanya.'
'Kamu tetap di sini.'
'Karena Bu Rini mengingatkanku bahwa beristirahat bukan berarti kalah.'
'Itu benar.'
'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dewan bisa memperpanjang penangguhan. Daniel bisa menggunakan waktu ini. Emma bisa terus menekanku.'
'Kita tidak perlu menyelesaikan semua kemungkinan malam ini.'
Evelyn memandangnya. 'Kamu juga harus pulang dan tidur.'
'Aku akan pulang setelah kamu masuk menemui Andrew. Aku ingin memastikan kamu tidak berjalan sendirian kalau masih pusing.'
'Aku bisa berjalan sendiri.'
'Aku tahu. Aku tetap boleh menawarkan diri.'
Evelyn tersenyum tipis. 'Baik. Temani aku sampai pintu.'
Marcus berdiri di sisinya, menjaga jarak yang ia pilih. Tidak ada pengakuan baru di antara mereka, hanya kehadiran yang membuat pagi terasa sedikit lebih mungkin dilewati.
Sebelum mendekati ruang perawatan, Marcus mengirim pesan kerja kepada asistennya. Ia memindahkan agenda pagi yang dapat ditangani tim, tanpa menceritakan keadaan keluarga Evelyn. Evelyn melihatnya menutup ponsel, lalu mengatakan bahwa ia tidak perlu membatalkan seluruh hari untuk menunggu. Marcus menjawab bahwa ia sudah mengatur waktu yang sanggup diberikannya. Dukungan itu tetap memiliki batas nyata; justru karena itulah Evelyn dapat menerimanya tanpa merasa harus membayar dengan sebuah janji.
'Aku akan masuk,' katanya.
Marcus berhenti di luar pintu. 'Aku tunggu di sini.'
Evelyn masuk menemui ayahnya, membawa sedikit keberanian dari malam yang dilewati bersama orang-orang yang tidak memaksanya menjadi kuat.