Ucapan Emma terus terngiang ketika Evelyn duduk di lorong rumah sakit. Ia sudah menerima salinan keputusan dewan dan mengetahui batas kewenangannya. Setiap halaman membuatnya mengingat hari-hari ketika ia berusaha menjaga perusahaan sambil menahan rahasia tentang masa lalu. Kini, satu surat cukup untuk membuat usahanya terasa tidak berarti.
Bu Rini meletakkan teh hangat di sampingnya. 'Nona belum tidur sejak kemarin.'
'Aku tidak mengantuk.'
'Itu bukan berarti tubuh Nona tidak perlu istirahat.'
Evelyn memandang cangkir. 'Bagaimana kalau semua ini memang sia-sia? Aku berusaha menata kembali hidup dan memperbaiki keputusan yang pernah kuambil. Tapi sekarang Ayah terbaring, Emma dan Daniel masih bisa mengatur keadaan, dan aku bahkan tidak boleh mengurus saham.'
Bu Rini duduk di sebelahnya. 'Nona masih di sini. Bapak masih dirawat. Tidak ada yang selesai hanya karena dewan mengeluarkan surat.'
'Aku lelah harus selalu menghitung langkah. Kadang aku ingin berhenti saja.'
'Berhenti dari apa?'
Evelyn tak segera menjawab. 'Dari melawan semuanya. Dari mencoba memastikan tak ada yang menyakiti keluarga ini lagi.'
Bu Rini meraih tangannya. 'Nona tidak harus menyelesaikan semuanya malam ini. Cukup duduk di sini dan menemani Bapak.'
Evelyn menunduk. Ia tidak menangis keras, hanya membiarkan air matanya turun tanpa berusaha menyembunyikannya. Bu Rini tidak memaksanya bicara. Mereka duduk dalam diam sampai perawat datang memberi kabar bahwa Andrew masih belum sadar, tetapi tetap dalam pemantauan.
'Aku mengerti, Nona,' kata Bu Rini. 'Kau sudah kehilangan ibumu, dan sekarang ketakutan itu datang lagi.'
Evelyn memandangnya. Rahasia kehidupan sebelumnya tidak ia ceritakan kepada Bu Rini. Perempuan itu hanya memahami kesedihan keluarga yang benar-benar disaksikannya; kisah yang mustahil itu masih hanya diketahui Marcus. 'Aku pernah berpikir kalau aku cukup waspada, aku bisa mencegah semua hal buruk.'
'Tidak ada orang yang bisa mengendalikan semuanya.'
'Aku tahu. Tapi aku sudah melihat apa yang terjadi kalau aku terlalu percaya.'
'Menjaga diri bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian.' Bu Rini meremas tangannya. 'Bapak tidak ingin Nona menghancurkan diri demi perusahaan.'
Evelyn menelan rasa sesak. 'Kalau aku mundur, Daniel dan Emma akan mengambil apa yang mereka mau.'
'Kalau Nona beristirahat malam ini, mereka belum otomatis menang.'
Kalimat itu sederhana, namun membuat Evelyn berhenti mencari keputusan besar. Ia tak harus memilih antara melawan atau menyerah pada detik itu juga. Ia bisa menunggu, membaca dokumen dengan cermat, dan tetap hadir untuk Andrew.
'Aku akan meminta Edwin mengirimkan risalah lengkap,' katanya. 'Tapi aku tidak akan memikirkan jawaban malam ini.'
'Itu sudah cukup.'
Mereka kembali diam. Evelyn mengamati orang-orang yang melintas di lorong dan mendengar bunyi langkah yang berhenti di depan ruang perawatan. Setiap kali pintu terbuka, ia berharap ada kabar lebih baik, tetapi tak ada perubahan. Ia belajar menerima bahwa menunggu bukan kelemahan, meskipun rasanya seperti tidak melakukan apa-apa.
Ia memikirkan langkah yang masih bisa diambil tanpa wewenang untuk menyetujui perubahan saham. Ia tetap boleh membaca pemberitahuan, meminta risalah, dan memastikan prosedur dipatuhi. Itu bukan kemenangan, tetapi juga bukan kehampaan total. Evelyn mengulang fakta tersebut beberapa kali sampai napasnya lebih teratur.
'Aku akan bertahan sampai Ayah bisa bicara,' katanya.
Bu Rini mengangguk. 'Satu hari dulu, Nona.'
'Satu hari dulu.'
'Apa aku boleh masuk sebentar?' tanya Evelyn.
Perawat mengizinkan kunjungan singkat. Evelyn berdiri, menyeka pipinya, lalu masuk sendiri.
***
Andrew tampak sama seperti sebelumnya. Evelyn berdiri dekat ranjang dan menatap wajah ayahnya. Ia ingin meminta maaf karena tidak berada di rumah ketika ia kolaps. Ia juga ingin bertanya tentang pesan Emma, tentang saham, dan tentang rahasia yang belum sempat mereka bicarakan.
Namun, ia hanya berkata, 'Aku capek, Ayah.'
Ia duduk di kursi. 'Dewan menangguhkan kewenanganku. Emma datang dan mengatakan semuanya mungkin lebih adil sekarang. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa memperbaiki keadaan.'
Tidak ada jawaban. Evelyn mengusap punggung tangannya dengan hati-hati.
'Aku tahu Ayah selalu ingin kami tetap menjadi keluarga. Aku juga ingin itu. Tapi aku tidak bisa terus menganggap semua yang Emma lakukan sebagai kesalahpahaman.'
Ia terdiam cukup lama. Untuk sesaat, ia membayangkan pergi meninggalkan semuanya: rumah, saham, nama Celeste, dan permainan yang tidak pernah ia minta. Jika ia berhenti, mungkin ia bisa menjauh dari rasa takut akan kehilangan lagi.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Marcus muncul: 'Aku dengar Andrew masih dirawat. Kamu tidak harus membalas. Aku siap datang jika kamu ingin ditemani.' Evelyn membaca pesan itu beberapa kali. Ia mengetik 'Aku baik-baik saja', kemudian menghapusnya. Ia tidak baik-baik saja, dan kali ini ia memilih mengatakannya. Ia membalas bahwa ia ingin ditemani di Westbridge, menyebut tempat menunggu, dan mengabarkan penangguhan administratif dari dewan. Marcus menjawab bahwa ia akan datang; Evelyn memberi tahu Bu Rini dan Edwin tentang undangan itu.
'Aku hampir menyerah,' bisiknya kepada ayahnya. 'Aku tidak tahu harus melakukan apa.'
Perawat memberi tanda bahwa waktunya selesai. Evelyn berdiri, membungkuk, lalu keluar. Di lorong, Bu Rini menunggu dengan wajah sabar.
'Nona mau saya panggilkan sopir agar pulang dan tidur beberapa jam?'
Evelyn menggeleng. 'Belum. Aku tidak ingin jauh dari Ayah.'
'Kalau begitu, setidaknya duduk dan tutup mata sebentar.'
Evelyn menuruti. Ia menyandarkan kepala ke dinding. Keputusan dewan belum berubah, Emma belum menjelaskan apa pun, dan Andrew masih belum sadar. Ia tidak menemukan jawaban. Yang tersisa hanya kebutuhan untuk bertahan satu jam lagi, lalu satu jam berikutnya.
Bu Rini duduk tetap di sampingnya. 'Kalau Nona terbangun dan merasa semuanya masih berat, panggil saya.'
'Kamu juga perlu tidur.'
'Nanti saya bergantian dengan Edwin. Untuk saat ini, saya ingin memastikan Nona tidak sendirian.'
Evelyn mengangguk. Ia memejamkan mata, membiarkan suara lorong mereda tanpa menganggap dirinya harus segera menemukan jalan keluar.
Ia belum menyerah pada hidupnya yang baru, meski malam itu ia belum sanggup menyebutnya harapan.
Ia membiarkan Bu Rini berjaga di sampingnya sampai matanya terasa berat.
Malam itu ia memilih menunda jawaban, bukan menyerah pada rasa takut.
Ia akan memutuskan langkah berikutnya setelah beristirahat.
Besok.