Surat keputusan dewan tiba dalam bentuk dokumen resmi selepas rapat siang itu. Isinya menangguhkan sementara persetujuan administratif dalam jabatan Evelyn, tanpa mengalihkan hak milik atau hak menolak pengalihan saham pribadinya. Tanggal evaluasi paling lambat tujuh hari dari rapat tercantum jelas, sambil mempertahankan urusan operasional lain melalui prosedur normal. Evelyn membaca setiap halaman, lalu meminta Edwin mengarsipkannya tanpa memberi komentar.
'Mereka menulis seolah-olah ini tindakan pencegahan,' kata Edwin.
'Itu memang alasan yang mereka berikan. Kita simpan bunyinya persis.'
'Apakah Nona akan mengajukan keberatan?'
'Setelah risalah lengkap diterima. Tanggal evaluasinya sudah tercantum dalam surat keputusan ini. Jangan menebak langkah berikutnya.'
Bu Rini keluar sebentar untuk mengambil minuman. Evelyn kembali duduk dekat Andrew. Ia menceritakan keputusan itu dengan suara rendah, meski ayahnya belum bisa menjawab.
'Untuk sementara, aku tidak boleh menyetujui perubahan saham,' katanya. 'Mereka belum mengubah kepemilikan. Aku akan menunggu Ayah bangun dan menjelaskan semuanya.'
Andrew tetap diam. Evelyn menggenggam jemarinya sebentar, lalu melepasnya agar tidak mengganggu selang dan alat yang terpasang.
Bu Rini kembali dan melihat wajah Evelyn. 'Keputusan itu buruk?'
'Mereka menangguhkan kewenanganku. Tidak permanen, tapi Daniel sudah berhasil membuat dewan bergerak.'
'Nona sudah berusaha menjelaskan.'
'Aku tahu. Tapi rasanya seperti semua yang kulakukan selama ini bisa dihapus hanya karena Ayah sedang sakit.'
Bu Rini tidak memberi nasihat. Ia hanya menarik kursi lebih dekat. Beberapa menit kemudian, seorang perawat memberi tahu bahwa jam kunjungan hampir selesai. Evelyn meminta izin tinggal sedikit lebih lama dan mengikuti aturan ketika diminta menunggu di luar.
***
Menjelang sore, Emma tiba di rumah sakit. Ia berjalan melewati ruang tunggu dengan pakaian rapi dan ekspresi prihatin yang tampak sempurna. Evelyn berdiri ketika melihatnya.
'Bagaimana keadaan Ayah?' tanya Emma.
'Masih belum sadar. Dokter terus memantau.'
Emma melihat ke arah pintu ruang perawatan, kemudian kembali menatap Evelyn. 'Aku dengar dewan sudah mengambil keputusan.'
Evelyn tidak menjawab pertanyaan yang tidak benar-benar diajukan. 'Mereka menangguhkan sementara kewenanganku untuk menyetujui perubahan saham.'
'Sayang sekali. Kamu sudah bekerja keras mengendalikan semuanya.' Nada Emma lembut, tetapi senyumnya tipis. 'Mungkin sekarang perusahaan punya kesempatan berjalan lebih adil.'
Bu Rini berdiri dari kursi. 'Nona Evelyn tetap menjaga perusahaan dan ayahnya. Tidak pantas membicarakan rapat di sini.'
Emma menoleh kepadanya. 'Saya hanya menyampaikan keputusan dewan.'
'Kamu bilang perusahaan bisa lebih adil setelah Evelyn kehilangan wewenang,' kata Evelyn. 'Itu bukan sekadar menyampaikan keputusan.'
Emma mengangkat bahu kecil. 'Kalau kamu merasa tersinggung, mungkin karena kamu tahu ada yang tidak beres.'
'Ayah sedang dirawat. Aku tidak akan bertengkar di depan kamarnya.'
'Kamu selalu bisa mengakhiri pembicaraan saat tidak punya jawaban.'
'Aku sudah menjawab. Kalau kamu ingin bicara tentang Ayah, silakan. Kalau tentang perusahaan, kirimkan lewat jalur resmi.'
Emma melipat tangan. 'Kamu bicara seolah-olah semua orang harus membuat janji sebelum boleh mengunjunginya.'
'Aku tidak melarangmu. Aku hanya meminta kita tidak memakai kondisi Ayah untuk membahas kepentingan perusahaan.'
'Kamu sendiri membawa perusahaan ke sini.'
'Aku menjawab pertanyaanmu tentang keputusan dewan. Setelah itu aku minta pembicaraan berhenti.'
'Kamu memang selalu pandai memilih kata.' Emma mencondongkan kepala. 'Tapi kata-kata tidak akan mengembalikan wewenangmu.'
Evelyn mengangkat dagu. 'Aku tidak berharap wewenangku kembali lewat percakapan ini. Kalau dewan membuat keputusan, aku akan menanggapinya lewat dewan.'
'Mungkin itu sebabnya kamu selalu terlihat begitu yakin. Kamu mengira aturan akan melindungimu.'
'Aturan berlaku untuk semua orang.'
'Kita lihat saja.'
Bu Rini melangkah mendekat. 'Nona Emma, kalau ingin menjenguk Pak Andrew, perawat sudah memberi izin. Jangan membuat suasana di lorong semakin berat.'
Emma tersenyum kecil kepadanya. 'Saya hanya bicara dengan saudara saya.'
'Kalau begitu, bicaralah sebagai saudara. Bukan tentang siapa yang menguasai perusahaan.'
Emma tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke ruang perawatan, seakan percakapan itu sudah selesai menurut kehendaknya sendiri.
Emma menatap pintu ruang perawatan lagi. 'Aku ingin melihatnya.'
Evelyn meminta perawat memastikan kunjungan bisa dilakukan. Setelah mendapat izin, Emma masuk sebentar. Ia berdiri di sisi lain ranjang dan memanggil Andrew dengan suara yang dibuat lembut. Andrew tidak merespons. Emma keluar beberapa menit kemudian.
'Dia belum mendengar apa pun,' ucap Emma saat melewati Evelyn. 'Jangan mengira keputusan ini akan berubah hanya karena kamu terus menunggu.'
Evelyn mengepalkan tangan, lalu melepaskannya. 'Aku akan tetap menunggu Ayah. Kamu boleh pulang kalau sudah selesai.'
Emma pergi tanpa menjawab. Bu Rini menghela napas panjang.
Evelyn mengikuti Emma dengan pandangan sampai sosoknya hilang di ujung lorong. Ia ingin mengejar dan menuntut jawaban tentang pesan kepada ayahnya, tetapi kembali teringat bahwa Andrew tidak bisa menjadi saksi percakapan itu. Ia tidak ingin mengubah kunjungan rumah sakit menjadi panggung saling menuduh.
'Nona tidak perlu menahan semuanya,' kata Bu Rini.
'Aku menahan diri supaya tidak mengatakan sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali.'
'Emma tahu bagian mana yang menyakitkan.'
'Mungkin. Tapi aku tidak akan memberinya alasan untuk mengalihkan pembicaraan dari apa yang ia tulis.'
Edwin datang membawa salinan risalah sementara dari sekretariat. Evelyn membaca ringkasan keputusan, memeriksa bahwa penangguhan hanya mencakup persetujuan perubahan saham, lalu meminta salinan penuh begitu tersedia.
'Apakah ada bagian yang keliru?' tanya Edwin.
'Belum. Ini hanya ringkasan, jadi kita tidak menyimpulkan lebih jauh.'
Edwin menyimpan dokumen itu kembali ke map. 'Saya akan menunggu risalah lengkap.'
Evelyn duduk di dekat pintu. 'Terima kasih. Tolong tetap di rumah sakit saat aku masuk menemui Ayah; Bu Rini akan beristirahat bergantian sesudah itu. Aku ingin masuk lagi kalau perawat mengizinkan.'
Ia kembali menatap Andrew melalui kaca. Keputusan dewan memang terasa seperti kemunduran, tetapi ia belum kehilangan hak untuk mengetahui apa yang terjadi. Untuk saat ini, ia akan mempertahankan hal-hal yang masih bisa ia jaga: kebenaran catatan, keadaan ayahnya, dan kendali atas tindakannya sendiri.
'Aku tahu Nona ingin bertanya lebih jauh kepada Emma,' kata Bu Rini.
'Aku ingin mendengar penjelasan Ayah tentang pesan yang diterimanya.' Evelyn memandang pintu. 'Tapi dia belum bisa menjawab. Aku tidak akan memakai keadaan ini untuk memaksanya.'
Ia duduk kembali. Keputusan dewan dan ucapan Emma menumpuk di pikirannya, sementara Andrew tetap belum membuka mata.