Daniel meletakkan surat permintaan rapat di hadapan Kennedi pada pagi berikutnya. Dokumen itu disampaikan melalui jalur resmi dan mencantumkan agenda peninjauan kewenangan Evelyn atas urusan saham selama Andrew tidak dapat menjalankan tugasnya.
Kennedi membaca halaman pertama, lalu memandang Daniel. 'Apa dasar pengajuan ini?'
'Kondisi Pak Andrew membuat keputusan perusahaan tidak bisa menunggu. Evelyn sedang menangani masalah keluarga dan tidak selalu berada di kantor. Kita perlu memastikan urusan saham tetap berjalan.'
'Kamu meminta rapat untuk membahas kewenangan Evelyn, bukan sekadar memastikan kegiatan harian.'
Daniel merapatkan kedua tangannya di atas meja. 'Kepentingan perusahaan harus didahulukan. Ada pertanyaan tentang pembagian hak dan kendali yang perlu diselesaikan.'
'Pertanyaan dari siapa?'
Daniel tidak menjawab langsung. 'Aku mengusulkan agar dewan meninjau ulang posisi Evelyn sampai Andrew pulih.'
Kennedi menutup surat itu. 'Permintaan rapat tidak otomatis mengubah kewenangan siapa pun. Dewan akan menerima dokumen dan mendengar pihak terkait sebelum mengambil keputusan.'
'Aku hanya meminta agar rapat dijadwalkan.'
'Kalau begitu, sekretariat akan memproses permintaanmu sesuai tata cara. Jangan menyebutnya keputusan.'
Daniel mengangguk seolah menerima batas itu. Namun, sebelum meninggalkan ruang, ia memastikan bahwa agenda rapat akan menyebut kewenangan Evelyn atas saham. Kennedi mencatat penekanan tersebut tanpa memberi persetujuan atas isinya.
***
Di Rumah Sakit Westbridge, Evelyn sedang duduk bersama Bu Rini ketika pesan dari Edwin masuk. Ia menjelaskan bahwa Daniel mengajukan rapat dewan untuk meninjau dan mencabut sementara wewenang Evelyn dalam urusan saham. Permintaan itu masih menunggu jadwal dan belum diputuskan.
Evelyn membaca pesan tersebut dua kali. Ia lalu meminta Edwin mengirimkan salinan resmi pengajuan, bukan ringkasan lisan.
'Daniel mengajukan rapat?' tanya Bu Rini.
'Iya. Katanya ia khawatir urusan saham tidak berjalan sementara Ayah dirawat.'
'Padahal Nona sedang di sini karena Ayah.'
'Aku tahu. Tapi aku tidak akan menganggap alasan itu sebagai bukti. Kita baca dokumennya dan jawab lewat prosedur.'
Edwin mengirimkan foto surat yang telah diterima sekretariat. Evelyn mencermati agenda yang diminta Daniel. Frasa 'peninjauan kewenangan' terdengar resmi, tetapi maksudnya jelas: ia ingin Evelyn kehilangan kendali atas urusan saham ketika Andrew belum dapat membela dirinya.
Ia memperbesar foto itu untuk membaca bagian pengusul dan tanggal. Surat tersebut tidak melampirkan bukti bahwa Evelyn lalai menjalankan tugas. Yang ada hanya alasan bahwa Andrew sedang dirawat dan Evelyn berada di rumah sakit. Evelyn meminta Edwin mengirimkan berkas lengkap ketika ia kembali ke kantor, termasuk bukti penerimaan sekretariat.
'Apakah mereka bisa langsung mencabut kewenangan saya?' tanyanya kepada Kennedi saat panggilan tersambung.
'Tidak berdasarkan surat ini saja. Dewan harus mengikuti aturan internal dan memberi pihak terkait kesempatan menjelaskan.'
'Saya ingin semua proses tercatat. Saya tidak akan meminta perlakuan khusus, tetapi saya juga tidak ingin keadaan Ayah dipakai untuk membuat keputusan tanpa saya.'
'Saya memahami itu. Permintaan rapat akan ditangani oleh sekretariat. Kamu akan menerima pemberitahuan resmi jika jadwalnya ditetapkan.'
'Baik. Saya akan mengirim tanggapan setelah membaca dokumen lengkap.'
'Fokuslah mendampingi Andrew. Urusan rapat bisa kita jalankan dengan tertib.'
Evelyn mengakhiri panggilan dan mengirim pesan kepada Edwin agar tidak membagikan catatan akses kepada siapa pun sebelum ia memeriksa konteks dan kewenangan penerima. Edwin membalas bahwa ia akan menunggu instruksi. Ia tidak ingin catatan yang masih terbatas itu dipakai sebagai senjata yang dapat melemahkan kredibilitas mereka.
Bu Rini mendengarkan tanpa menyela. Setelah Evelyn meletakkan ponsel, ia berkata, 'Nona masih memikirkan semua langkah dengan jelas, padahal belum tidur.'
'Aku tidak boleh membiarkan marah membuatku ceroboh.'
'Nona juga perlu beristirahat.'
'Aku akan bergantian dengan Edwin nanti. Sekarang aku ingin tetap dekat dengan Ayah.'
Evelyn meminta Edwin memantau pemberitahuan sekretariat dan menyimpan daftar penerima resmi. Ia tidak memintanya mencari dukungan pribadi dari anggota dewan. Jika rapat dijadwalkan, tanggapannya harus diberikan berdasarkan naskah pengajuan yang sama, bukan versi yang berubah menurut siapa yang membacanya.
Setelah panggilan berakhir, Evelyn memandang Andrew melalui kaca ruang perawatan. Ayahnya masih belum sadar. Ia tidak bisa meninggalkan rumah sakit untuk menghadapi Daniel, tetapi ia juga tidak akan membiarkan permintaan itu berjalan tanpa tanggapan.
'Aku akan minta Edwin menyiapkan salinan catatan yang relevan,' katanya kepada Bu Rini. 'Bukan untuk menyerang Emma atau Daniel. Aku ingin dewan melihat apa yang benar-benar tercatat dan apa yang belum bisa dipastikan.'
Bu Rini mengangguk. 'Lalu Nona akan kembali ke sini?'
'Ya. Apa pun yang dibahas di kantor, Ayah tetap yang utama.'
Evelyn menyimpan surat itu di folder terpisah. Ia mencatat tanggal penerimaan dan statusnya sebagai permintaan, bukan keputusan. Daniel telah memilih saat Andrew tidak berdaya untuk memulai langkahnya. Namun, rapat belum berlangsung, Evelyn belum dilucuti dari urusan saham, dan ia masih punya waktu untuk menyusun jawaban berdasarkan dokumen.
Di ruang perawatan, Andrew tetap belum membuka mata. Evelyn duduk kembali di samping Bu Rini, menunggu kabar dokter sambil memikirkan agenda rapat yang kini akan menentukan seberapa jauh Daniel berani melangkah.
Ia memastikan ponselnya tetap berbunyi untuk panggilan dari rumah sakit, lalu meletakkan surat rapat di dalam tas. Urusan itu belum selesai, tetapi belum berubah menjadi keputusan. Ia akan menanganinya setahap demi setahap, sambil tetap menunggu ayahnya.
Evelyn juga menghubungi kepala bagian keuangan. Ia meminta daftar pekerjaan rutin yang sudah memiliki persetujuan dipisahkan dari keputusan baru yang masih harus ditinjau. Pembayaran yang telah diperiksa tidak perlu berhenti hanya karena ia berada di rumah sakit. Kepala bagian mengirimkan daftar tindak lanjut dan nama penanggung jawab yang memang berwenang. Evelyn membacanya, meminta satu pertanyaan dikembalikan ke tim pemeriksa, lalu mengonfirmasi penerimaan.
Ia menyimpan percakapan itu untuk menunjukkan bagaimana pekerjaan tetap berlangsung, bukan untuk membanggakan dirinya kepada dewan. Setelah ponsel diletakkan, ia kembali memperhatikan pintu ruang perawatan. Dua tanggung jawab itu belum menjadi mudah, tetapi ia tidak lagi menganggap keduanya harus ditanggung dengan tangan sendiri pada setiap saat.