Pesan Evelyn kepada Emma belum mendapat jawaban ketika pagi tiba. Andrew masih belum sadar, tetapi dokter menyampaikan bahwa ia tetap berada dalam pemantauan. Evelyn mendengar penjelasan itu bersama Bu Rini, lalu menuliskan hal-hal yang perlu mereka ingat agar tidak keliru saat bertanya lagi.
'Dokter bilang belum ada kepastian kapan beliau akan sadar,' kata Bu Rini setelah mereka kembali ke ruang tunggu.
'Kita ikuti arahan mereka. Kalau ada perubahan, mereka akan memberi tahu.'
Edwin datang membawa pakaian ganti dan beberapa barang dari rumah. Ia juga menyampaikan bahwa kantor telah menerima pemberitahuan Evelyn. Tidak ada yang mendesak Evelyn kembali, dan Kennedi hanya meminta kabar jika ia membutuhkan bantuan.
'Terima kasih sudah mengurus itu,' ujar Evelyn.
'Telepon Pak Andrew masih tersimpan pada Nona sejak saya menyerahkannya kemarin. Saya tidak membukanya.'
Evelyn memastikan telepon Andrew masih di dalam tasnya. Perangkat itu tetap terkunci; ia tidak membukanya. Justru pada ponselnya sendiri muncul pesan baru dari Emma, meneruskan teks panjang yang dikirimkannya kepada Andrew sehari sebelumnya. Di atasnya Emma menulis bahwa ia ingin Evelyn memahami tuntutannya, bukan terus menyebut semuanya persoalan pekerjaan.
Evelyn membaca salinan yang sengaja dikirimkan kepadanya itu perlahan. Emma menyatakan hubungannya dengan Daniel, menyebut kedudukannya sebagai anak Andrew, dan membicarakan rencana agar kendali saham tidak lagi berada pada Evelyn. Kiriman tersebut bukan hasil akses rahasia ke percakapan ayahnya. Untuk memeriksa penerimaan pada perangkat asli Andrew, ia tetap perlu menunggu izin pemiliknya.
Bu Rini memperhatikan wajah Evelyn. 'Apa isi pesannya?'
Evelyn mengunci layar. 'Emma mengaku hubungannya dengan Daniel sudah lama. Dia ingin bagian dan kuasa dalam perusahaan, lalu menyebut rencana agar kendali saham tidak lagi ada padaku.'
Bu Rini terdiam. 'Jadi selama ini…'
'Aku belum tahu semua yang terjadi. Pesannya adalah pengakuan Emma, tapi aku belum akan menambah-nambahkan sendiri.'
Edwin berkata, 'Apakah Nona ingin saya menyimpan salinan pesan untuk catatan?'
'Jangan mengubah atau mengirimkannya ke siapa pun. Biarkan perangkat Ayah tersimpan sebagaimana adanya di tasku. Aku akan mencatat bahwa pesan itu ada, lalu minta arahan legal tentang cara menjaga bukti jika memang diperlukan.'
'Baik.'
Evelyn membuat catatan pribadi berisi tanggal, waktu pesan, dan kalimat inti yang ia baca. Ia tidak meneruskan tangkapan layar atau mengirimkannya kepada dewan. Belum ada kebutuhan untuk menjadikan ruang tunggu sebagai tempat konfrontasi.
Ia juga menambahkan bahwa teks diteruskan sendiri oleh Emma kepadanya pagi ini. Perangkat penerima pertama, milik Andrew, tetap disimpan tanpa dibuka untuk pemeriksaan lebih lanjut. Evelyn berhenti sebelum menulis dugaan bahwa tekanan dari pesan itulah penyebab Andrew kolaps. Ia tidak tahu hubungan sebab akibatnya, dan dokter pun belum menyatakannya.
'Kamu yakin tak mau menelepon Emma?' tanya Bu Rini.
'Dia sudah tahu Ayah dirawat. Kalau dia ingin datang, dia bisa datang. Aku tidak mau percakapan ini berubah jadi pertengkaran sebelum Ayah bisa menyampaikan sikapnya.'
'Tapi bagaimana kalau dia datang dan meminta bicara?'
'Kita dengarkan. Aku tidak akan membahas perusahaan di depan ruang perawatan.'
***
Ponselnya bergetar. Emma akhirnya membalas: 'Aku akan datang setelah menyelesaikan urusanku. Aku ingin tahu keadaan Ayah.'
Evelyn menunjukkan pesan itu kepada Bu Rini, lalu menaruh ponsel di pangkuannya. 'Kalau dia datang, kita dengarkan apa yang ingin dia katakan. Ayah belum bisa diajak bicara.'
'Nona tidak mau bertanya tentang Daniel?'
'Tidak di sini, dan bukan saat Ayah belum sadar. Aku tidak ingin membiarkan amarah menentukan tindakanku.'
Mereka menunggu. Beberapa jam kemudian, Evelyn kembali masuk menemui Andrew. Ia mengatakan bahwa Emma sudah menghubungi mereka, tetapi tidak memaksa ayahnya memberi jawaban. Setelah beberapa menit, ia keluar dengan mata lelah dan duduk lagi di kursi yang sama.
'Apa Nona percaya Emma akan datang?' tanya Edwin.
'Aku tidak tahu. Dia bilang akan datang, jadi kita tunggu.'
Bu Rini membuka tas yang dibawanya dari rumah. Di dalamnya ada obat Andrew yang belum sempat diminum, dompet, dan buku kecil tempat ia biasa mencatat jadwal makan. Evelyn meminta Bu Rini menyimpannya, lalu bertanya apakah ia sudah makan.
'Belum,' jawab Bu Rini.
'Kalau begitu, kita bergantian sebentar. Aku akan tetap di sini.'
'Nona juga belum makan dengan benar.'
'Aku makan roti tadi.'
'Roti itu cuma beberapa gigitan.'
Evelyn tidak punya tenaga untuk berdebat. Ia meminta Edwin menemani Bu Rini membeli makanan dari kantin dan berjanji akan memanggil jika ada kabar. Ketika mereka pergi, Evelyn duduk dekat pintu. Ia memeriksa ponsel, membaca pesan dari kantor, lalu mematikan notifikasi yang tidak penting. Tidak ada urusan kerja yang cukup mendesak untuk menariknya dari rumah sakit.
Saat Bu Rini kembali, ia membawa dua kotak makanan. Mereka makan bersama tanpa membicarakan Emma. Sesudah itu, Bu Rini menghubungi rumah untuk memastikan tidak ada keperluan lain yang tertinggal. Percakapan sederhana itu membantu mereka melewati waktu, tetapi tidak membuat kekhawatiran menghilang.
Bu Rini menggenggam tasnya. 'Sejak Bapak mengatakan ingin memperbaiki hubungannya dengan Emma, saya berharap mereka bisa bicara baik-baik.'
'Aku pun berharap mereka bisa bicara baik-baik. Tapi menganggap Emma sebagai keluarga tidak berarti aku harus mengabaikan apa yang ia rencanakan.'
Tidak ada yang membantah. Pintu ruang perawatan terbuka dan seorang perawat memberi kabar bahwa Andrew masih belum sadar. Evelyn mengucapkan terima kasih, lalu kembali bertanya kapan keluarga boleh masuk lagi.
Di sela waktu menunggu, Edwin memberi tahu bahwa Daniel menelepon kantor dan menanyakan keberadaan Evelyn. Edwin tidak menjawab lebih dari keterangan bahwa ia sedang mendampingi ayahnya di rumah sakit. Evelyn tidak membalas panggilan itu. Ia meminta Edwin mencatat waktu telepon, bukan menganggapnya sebagai bukti apa pun.
'Jika Daniel punya urusan kerja, ia bisa menyampaikannya lewat jalur kantor,' katanya.
'Saya sudah menyampaikan begitu.'
Menjelang petang, Emma belum muncul. Evelyn tidak mengirim pesan kedua. Ia menatap telepon Andrew yang disimpan rapi, lalu jendela lorong yang mulai memantulkan cahaya lampu. Pengakuan Emma telah mengubah sesuatu, tetapi belum memberi Evelyn jawaban tentang apa yang akan dilakukan ayahnya jika ia sadar.
Evelyn merapatkan jaketnya. 'Kita tetap di sini. Kalau Emma datang, jangan biarkan pembicaraan mengganggu perawatan Ayah.'
Bu Rini mengangguk. Edwin kembali berdiri di dekat pintu. Di antara bunyi langkah dan pengumuman rumah sakit, mereka menunggu kabar berikutnya tanpa tahu bahwa Daniel sedang menyiapkan langkahnya sendiri.
Menjelang malam, Emma mengirim kabar bahwa ia belum jadi datang hari itu. Evelyn menjawab bahwa kunjungan tetap harus mengikuti petunjuk rumah sakit dan meminta ia mengabari sebelum berangkat pada hari lain. Ia tidak menambahkan ancaman atau mengirimkan salinan pesan Emma kepada orang-orang kantor. Pengakuan yang diterimanya tidak memberinya alasan untuk menyebarkan seluruh kehidupan pribadi ayahnya.