Pintu ruang perawatan masih tertutup ketika Evelyn berdiri dari kursinya. Ia sudah beberapa kali mencoba membaca pesan yang masuk, tetapi tak satu pun benar-benar ia pahami. Seluruh perhatiannya tertuju pada lorong dan kemungkinan dokter akan keluar.
Bu Rini menyodorkan air mineral. 'Minum sedikit, Nona.'
'Terima kasih.' Evelyn menerima botol itu, tetapi hanya membasahi bibir.
Edwin duduk tidak jauh dari mereka. Telepon Andrew tetap tersimpan di dalam saku jasnya. Ia tidak mengusulkan untuk melihat isi pesan. Evelyn juga tidak ingin membuka percakapan itu sebelum tahu keadaan ayahnya.
'Apa Bapak sempat mengatakan sesuatu sebelum jatuh?' tanya Evelyn.
'Saya tidak berada di ruang kerja saat beliau ditemukan,' jawab Edwin. 'Bu Rini yang mendengar teleponnya dan menemukannya.'
Bu Rini menunduk. 'Beliau belum sempat menjelaskan. Saya hanya mendengar napasnya dan suara benda bergeser.'
Evelyn mengangguk pelan. Ia tidak mengulang pertanyaan. Mereka hanya memiliki sedikit informasi, dan mengisi kekosongan dengan dugaan tidak akan menolong Andrew.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar. Evelyn segera menghampiri.
'Bagaimana keadaan ayah saya?'
'Kondisinya sudah kami tangani. Saat ini beliau selamat, tetapi belum sadar. Kami akan terus memantau dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan.'
'Apakah kami boleh melihatnya?'
'Sebentar lagi. Kami akan memberi tahu ketika waktunya tepat. Untuk sementara, keluarga bisa menunggu di sini.'
Evelyn mengangguk. 'Apakah ada hal yang perlu kami sampaikan mengenai riwayat kesehatannya?'
Dokter meminta informasi yang diketahui keluarga. Evelyn menyampaikan tentang pemeriksaan jantung sebelumnya dan anjuran untuk beristirahat. Bu Rini menambahkan nama obat yang biasa diminum. Dokter mencatat semuanya tanpa membuat kesimpulan yang belum tersedia.
Setelah dokter pergi, Evelyn kembali duduk. Kalimat 'selamat, tetapi belum sadar' terus berulang di kepalanya. Ia menginginkan kepastian lebih jauh, namun dokter tidak memberikannya. Andrew masih hidup. Untuk saat ini, itulah satu-satunya pegangan yang ia punya.
Ia membuka catatan di ponselnya dan menuliskan waktu mereka tiba, nama rumah sakit, serta keterangan yang baru diterima. Bukan karena ia ingin mengubah keadaan menjadi urusan administrasi, tetapi karena pikirannya terasa penuh dan ia tidak ingin salah mengingat perkataan dokter. Bu Rini memperhatikannya.
'Nona selalu mencatat saat sedang cemas,' katanya.
'Kalau tidak, aku takut akan mengingat sesuatu yang tidak dikatakan.'
'Bapak pasti tahu Nona sedang berusaha.'
Evelyn menutup catatan. 'Aku cuma ingin beliau punya kesempatan untuk bicara sendiri nanti.'
Bu Rini menutup wajah dengan kedua tangan. Evelyn meraih bahunya.
'Bapak masih bersama kita,' katanya pelan. 'Dokter sedang mengawasi.'
'Saya seharusnya tidak membiarkannya bekerja sendiri tadi.'
'Kita tidak tahu beliau akan merasa seperti ini. Bu Rini sudah memanggil bantuan begitu mendengar ada yang tidak beres.'
Bu Rini mengangguk, matanya basah. 'Saya hanya berharap beliau segera membuka mata.'
'Aku juga.'
Evelyn menatap jam dinding, lalu menarik napas panjang. Ia tidak tahu berapa lama mereka harus menunggu atau pertanyaan apa yang masih akan diajukan dokter. Ia meminta Bu Rini mengingat urutan obat Andrew hari itu, sekadar agar informasi yang disampaikan tetap akurat. Bu Rini menyebutkan waktu makan dan obat terakhir, sementara Edwin mencatatnya tanpa menambah kesimpulan.
'Kita tetap mengikuti apa yang dokter minta,' ujar Evelyn. 'Jangan beri beliau obat dari rumah kecuali tim medis menyetujuinya.'
Bu Rini mengangguk. Mereka sepakat menunggu instruksi berikutnya.
***
Ketika perawat mengizinkan mereka masuk secara bergantian, Evelyn melangkah lebih dulu. Andrew terbaring diam dengan wajah yang masih pucat. Ia tidak melihat sesuatu yang ingin ia tafsirkan sebagai pertanda. Ia hanya berdiri di sisi ranjang dan menggenggam tangan ayahnya.
'Ayah, aku datang,' bisiknya. 'Bu Rini dan Edwin juga di sini. Dokter bilang Ayah selamat. Kami menunggu Ayah sadar.'
Tidak ada jawaban. Evelyn menahan tangis dan mengusap punggung tangan Andrew.
Bu Rini masuk sesudahnya. Ia berdiri dekat kaki ranjang dan berbicara dengan suara rendah, mengingatkan Andrew bahwa rumah sedang menunggunya. Edwin tidak masuk lama-lama. Ia berdiri di ambang pintu, memberi Evelyn ruang.
Setelah mereka kembali ke lorong, Edwin menyerahkan telepon ayahnya. 'Saya akan menunggu di luar jika Nona ingin memeriksa isi pesan itu.'
Evelyn menerima perangkat tersebut, tetapi layar sudah terkunci. 'Nanti. Aku ingin memastikan Ayah tetap stabil dulu.'
'Baik.'
Evelyn menyimpan telepon itu di tasnya. Ada hal-hal yang mungkin mengubah cara ia memandang Emma dan Daniel, tetapi ia tidak akan membiarkan rasa takut membuatnya bertindak tanpa memahami isi dan konteks. Ayahnya belum sadar; ia tidak akan membebani keadaan dengan kesimpulan tergesa-gesa.
Mereka menetap di ruang tunggu. Bu Rini menghubungi rumah untuk mengatur kebutuhan yang tertinggal, sementara Edwin memberi tahu kantor bahwa Evelyn tidak akan kembali hari itu. Evelyn sendiri mengirim pesan singkat kepada Kennedi bahwa ayahnya dirawat dan ia harus mendampingi keluarga. Ia tidak mengungkap detail kesehatan yang belum diketahui.
Ketika malam mulai turun, petugas medis kembali memastikan Andrew masih dalam pengawasan. Ia tetap belum sadar. Evelyn menerima kabar itu tanpa bertanya berulang-ulang. Ia tahu menunggu bukan berarti menyerah; saat ini, itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan.
'Nona sebaiknya makan sedikit,' kata Bu Rini.
'Nanti.'
'Kalau Nona jatuh sakit, Bapak juga tidak akan senang.'
Evelyn menarik napas. 'Baik. Aku makan sedikit, lalu kembali ke sini.'
Edwin menawarkan diri menjaga ruang tunggu saat Evelyn dan Bu Rini mengambil makanan. Evelyn menolak meninggalkan tempat terlalu lama, tetapi menerima roti dan teh dari kantin. Mereka makan beberapa suap dalam diam.
Kembali di kursi, Evelyn melihat nama Emma pada layar ponselnya. Ada pesan singkat: 'Bagaimana keadaan Ayah?' Evelyn menatapnya lama, kemudian membalas satu kalimat: 'Ayah sedang dirawat di Westbridge dan belum sadar. Kami masih menunggu informasi dokter.'
Ia tidak menyebut pesan panjang yang ditemukan Edwin, tidak menuduh Emma, dan tidak menanyakan Daniel. Pesan itu terkirim. Jawaban belum datang ketika ia kembali menatap pintu ruang perawatan.
Ia menutup botol air dan menyimpannya dekat tas ayahnya, supaya tidak terjatuh ketika mereka dipanggil kembali oleh perawat.