Pesan Emma masih terbuka ketika Andrew berusaha meraih telepon yang jatuh di dekat kakinya. Panggilan yang tadi ia coba lakukan belum tersambung. Ia menekan layar sekali lagi, tetapi pandangannya berkunang dan jari-jarinya tidak menurut. Dengan sisa tenaga, ia mengetuk nama Bu Rini.
Di lantai bawah, Bu Rini sedang membawa nampan teh. Ponselnya bergetar di saku. Ia menjawab sambil berjalan menuju ruang kerja.
'Pak Andrew?'
Tidak ada jawaban yang jelas. Ia hanya mendengar napas berat dan suara benda bergeser.
'Pak, saya ke sana sekarang.'
Bu Rini meletakkan nampan di meja terdekat dan bergegas. Pintu ruang kerja tidak terkunci. Ia menemukan Andrew di lantai, bersandar pada sisi meja. Ponsel tergeletak di dekat tangannya, layarnya menampilkan percakapan dengan Emma.
'Pak Andrew!' Bu Rini berlutut di sampingnya. 'Bapak bisa mendengar saya?'
Andrew membuka mata, tetapi tidak mampu menjawab dengan utuh. Bu Rini segera memanggil Edwin, yang baru tiba di ruang depan untuk mengantarkan berkas sesuai jadwal Andrew. Ia memberitahunya apa yang ditemukan, bukan menganggap sekretaris itu sudah mengetahui keadaan di ruang kerja. Ia tidak mengangkat Andrew sendirian. Ia hanya memastikan ruang di sekelilingnya aman dan meminta Edwin menghubungi layanan darurat.
'Saya sudah menelepon,' kata Edwin setelah beberapa saat. 'Mereka sedang menuju ke sini.'
'Hubungi Nona Evelyn juga.'
Edwin menelepon Evelyn dan menjelaskan keadaan sejelas yang ia bisa. Evelyn langsung berdiri dari meja kerjanya.
'Apakah beliau sadar?' tanyanya.
'Belum bisa bicara, Nona. Bu Rini bersama beliau.'
'Saya berangkat sekarang. Jangan pindahkan Ayah sebelum bantuan tiba.'
Evelyn meninggalkan kantor tanpa mengambil dokumen yang sedang ia bawa. Sepanjang perjalanan, ia berusaha menghubungi Andrew, meski tahu ayahnya mungkin tidak bisa menjawab. Panggilan itu tak tersambung. Ia meminta sopir mempercepat perjalanan dengan tetap berhati-hati, lalu mengirim pesan kepada Bu Rini agar terus memberi kabar.
Saat Evelyn tiba, petugas bantuan sudah berada di rumah. Ia melihat ayahnya masih terbaring di lantai ruang kerja, Bu Rini menemaninya, sementara Edwin menyampaikan informasi yang ia ketahui kepada petugas. Wajah Andrew pucat. Evelyn berlutut di dekatnya.
'Ayah, aku di sini.'
Andrew membuka mata sejenak. Evelyn menggenggam tangannya, tetapi tidak mengajukan pertanyaan. Ia hanya meminta ayahnya bertahan dan mengikuti arahan petugas.
Bu Rini berdiri sedikit menjauh agar petugas punya ruang. 'Saya menemukannya setelah beliau menelepon. Beliau tidak menjawab, jadi saya langsung datang.'
'Terima kasih sudah memanggil bantuan.' Evelyn menatap Edwin. 'Kamu ikut bersama kami. Bawa ponsel Ayah dan barang yang diperlukan.'
'Saya akan ikut,' kata Bu Rini. 'Saya tahu obat dan kebiasaan makan beliau.'
'Tentu. Kita berangkat bersama.' Evelyn menoleh kepada petugas. 'Ada informasi lain yang perlu kami siapkan?'
Petugas meminta mereka membawa daftar obat dan riwayat pemeriksaan yang tersedia, tanpa menunda perjalanan. Bu Rini segera mengambil tas kecil dari meja, sementara Edwin memastikan pintu rumah terkunci dan menghubungi sopir. Evelyn mengikuti arahan petugas, menjaga dirinya tidak menghalangi mereka.
Di ambang pintu, ia sempat memandang ruang kerja ayahnya. Gelas tergeletak di karpet dan kursi bergeser dari tempatnya. Ia ingin membereskan semuanya, tetapi tahu itu bukan prioritas. Ia membawa hanya mantel dan ponsel sendiri, lalu kembali ke sisi Andrew.
Edwin mengangguk, lalu mengambil telepon dari lantai setelah petugas mengizinkannya. Layar ponsel masih memperlihatkan pesan Emma. Ia tidak membuka atau menyalin apa pun. Ia hanya mengunci layar dan menyimpannya untuk diserahkan kepada Evelyn nanti.
***
Perjalanan menuju Rumah Sakit Westbridge terasa lebih panjang dari biasanya. Evelyn duduk di dekat Andrew, sementara Bu Rini ikut agar dapat menjelaskan daftar obat dan Edwin mengikuti dengan kendaraan lain. Petugas mendampingi ayahnya dan memantau kondisinya. Evelyn menjawab pertanyaan dasar yang dapat ia pastikan, tetapi tidak berusaha menebak penyebabnya.
'Beliau punya riwayat pemeriksaan jantung,' kata Evelyn kepada petugas. 'Dokter pernah meminta beliau beristirahat dan menghindari tekanan.'
'Apakah ada catatan obat yang biasa diminum?'
Bu Rini menyebutkan obat yang ada di rumah dan kapan Andrew terakhir meminumnya. Evelyn mendengarkan, berusaha mengingat agar informasi itu tersampaikan dengan benar. Ia tidak menyebut pesan Emma. Belum ada kesempatan untuk memeriksa apa yang terjadi, dan yang paling penting sekarang adalah membawa ayahnya ke rumah sakit.
Sesampainya di Westbridge, Andrew segera dibawa masuk untuk diperiksa. Evelyn hendak mengikuti, tetapi seorang petugas meminta keluarga menunggu sebentar sampai tim medis memberi arahan. Ia berhenti di depan pintu, menatap ranjang yang menjauh dari jangkauannya.
'Nona, kita tunggu di sini,' ujar Bu Rini. Suaranya bergetar, tetapi ia berusaha tetap tenang.
Evelyn mengangguk. Edwin berdiri di sisi lain lorong dengan telepon Andrew di tangannya. Tidak seorang pun berbicara selama beberapa saat. Bunyi langkah dan suara dari ruang perawatan terdengar samar, namun Evelyn tidak tahu apa artinya.
Ia akhirnya duduk. Tangannya dingin. Pikirannya kembali pada sarapan tadi, pada wajah pucat Andrew, dan pada janji ayahnya bahwa ia akan beristirahat. Ia ingin menyalahkan dirinya karena pergi ke kantor, tetapi tahu ia tidak mungkin berada di setiap sisi kehidupan ayahnya.
Bu Rini duduk di sampingnya. 'Bapak sempat bilang mau memanggil saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.'
'Kita akan tahu setelah dokter menjelaskan.' Evelyn menahan napas. 'Sekarang kita tunggu kabar.'
Edwin meletakkan telepon Andrew di atas kursi di dekat mereka. 'Saya tidak membuka pesannya, Nona. Ketika ditemukan tadi, layarnya menampilkan percakapan dengan Nona Emma.'
Evelyn menoleh. Untuk pertama kalinya sejak tiba, ia merasakan kecemasan yang berbeda dari rasa takut kehilangan ayahnya. Namun, ia tidak meminta Edwin menunjukkan isi pesan itu di lorong rumah sakit.
'Simpan dulu. Kita bicarakan setelah dokter memberi kabar.'
Edwin mengangguk. 'Baik.'
Pintu ruang perawatan masih tertutup. Evelyn menautkan jemarinya dan menatapnya tanpa berkedip, menunggu seseorang keluar membawa kabar tentang ayahnya.
Ia mengulang dalam hati nama-nama orang yang sudah berada di rumah sakit. Bu Rini tidak sendirian, Edwin tahu keadaan rumah, dan dokter telah menerima riwayat yang mereka miliki. Untuk saat ini, ia sudah melakukan semua yang bisa dilakukan. Ia mencoba bertahan pada pikiran itu ketika detik-detik berikutnya terasa terlalu lambat.