Evelyn tiba di kantor dengan pesan Bu Rini tentang istirahat Andrew masih terbuka di layar ponselnya. Ia tidak tahu ayahnya akan benar-benar beristirahat atau kembali menyibukkan diri di ruang kerja begitu ia pergi. Namun, pagi itu ia memilih menepati janjinya untuk tidak mendesak. Ada rapat yang harus dihadiri, dan ada percakapan keluarga yang tidak bisa dipaksakan selesai dalam satu hari.
Di kantor, ia meminta Edwin memastikan laporan inventaris arsip lantai tujuh belas tetap disimpan sesuai prosedur. Edwin mengangguk sambil meletakkan map di meja.
'Salinan akses yang Nona simpan tetap aman?' tanyanya pelan.
'Aman. Jangan menyentuhnya dulu. Kita belum punya dasar untuk menyimpulkan siapa yang menulis atau mengirim permintaan itu.'
'Saya mengerti. Catatan pemindahan berkas juga sudah saya cocokkan. Tidak ada yang dimusnahkan.'
Evelyn memeriksa halaman terakhir. Tidak ada nama yang bisa dipastikan sebagai pelaku, hanya waktu akses dan perpindahan. Ia menutup map. 'Bagus. Kita jaga semuanya tetap rapi. Kalau ada yang bertanya, jawab berdasarkan catatan, bukan dugaan.'
Edwin membungkuk kecil. 'Baik, Nona.'
Sebelum Edwin pergi, Evelyn menahan map yang dibawanya. 'Satu hal lagi. Kalau Emma atau Daniel meminta akses pada berkas yang sedang diperiksa, jangan menolak dengan cara yang membuat mereka curiga. Ikuti prosedur yang sama seperti biasa, lalu catat permintaannya.'
'Termasuk bila permintaannya datang dari Kennedi?'
'Tentu. Kita tidak menyembunyikan dokumen. Kita hanya memastikan setiap orang menerima versi yang benar dan tercatat.'
Edwin mengangguk. 'Saya akan mencatat waktu, pemohon, dan berkas yang diminta.'
'Bagus. Tidak perlu menambahkan penilaian.'
Setelah Edwin pergi, Evelyn membuka agenda rapat yang tertunda. Ada beberapa catatan yang perlu ia selesaikan, tetapi pikirannya kembali pada wajah Andrew saat sarapan. Ia mempertimbangkan untuk menelepon Bu Rini lagi, lalu menghentikan tangannya. Ia sudah meminta kabar, dan Bu Rini tahu apa yang harus dilakukan jika kondisi Andrew berubah.
Evelyn memaksa dirinya membaca halaman demi halaman. Di tengah pekerjaan, ia menerima balasan Bu Rini bahwa Andrew sudah duduk di ruang kerja dan meminta teh. Pesan itu sedikit meredakan kekhawatirannya. Ia membalas singkat agar Bu Rini memastikan ayahnya tidak mengangkat barang atau bekerja terlalu lama.
Percakapan itu berakhir ketika sekretaris memberi tahu rapat Kennedi dimulai. Evelyn membawa dokumen kontrak kerja sama yang masih ditinjau. Perkara saham tetap berada di belakang pikirannya, tetapi ia tidak membiarkannya mengambil alih pekerjaannya. Dewan belum membuat keputusan baru, dan ia tidak akan memberi mereka alasan untuk menganggapnya bertindak berdasarkan emosi.
Rapat berjalan singkat. Kennedi meminta beberapa penjelasan tentang jadwal evaluasi kontrak, lalu menutup pembahasan dengan meminta tim legal menuntaskan catatan mereka. Evelyn menjawab pertanyaan tanpa menyinggung Emma atau Daniel. Ketika rapat selesai, ia kembali ke ruang kerjanya dan melihat satu pesan dari Bu Rini: Andrew sudah beristirahat sebentar, lalu masuk ke ruang kerja.
Evelyn mengetik balasan, meminta Bu Rini mengingatkan ayahnya agar tidak bekerja terlalu lama. Sebelum pesan itu terkirim, panggilan masuk dari nomor Andrew muncul. Ia segera menjawab.
'Ayah?'
'Kamu masih di kantor?' Suara Andrew terdengar tenang, sedikit lelah.
'Iya. Bu Rini bilang Ayah sudah masuk ruang kerja.'
'Aku hanya memeriksa beberapa berkas. Jangan khawatir.'
'Ayah tadi berjanji istirahat.'
Andrew tertawa pendek. 'Aku sudah istirahat. Bu Rini pasti melaporkan semuanya kepadamu.'
'Dia mengabari karena tahu aku akan bertanya.'
'Aku baik-baik saja, Evelyn. Kita bicara nanti setelah pekerjaanku selesai.'
Ada jeda kecil di ujung telepon. Evelyn hampir mengulang peringatannya, tetapi menahan diri. 'Baik. Kalau merasa tidak nyaman, berhenti dan panggil Bu Rini.'
'Akan kulakukan.'
Andrew menutup panggilan. Evelyn meletakkan ponsel dan memandang jendela. Kegelisahan ayahnya belum hilang, tetapi ia tidak bisa menjaga Andrew dengan mengawasi setiap geraknya. Ia harus percaya bahwa ayahnya akan meminta bantuan jika membutuhkannya.
***
Menjelang sore, Andrew duduk sendiri di ruang kerjanya. Dokumen yang tadi ia buka belum banyak berubah. Ia telah berusaha membaca laporan, tetapi pikirannya kembali kepada percakapan saat sarapan. Pertanyaan Emma tentang haknya sebagai anak terdengar sederhana. Namun, tatapan putrinya yang lain membuat ia merasa ada lebih banyak hal yang belum ia pahami.
Ponselnya bergetar. Nama Emma muncul di layar, disusul pemberitahuan bahwa ia mengirim pesan panjang. Andrew mengusap kening, lalu membuka pesan itu.
'Ayah, aku menulis karena setiap kali kita bicara langsung, aku akhirnya mengalah dan menyimpan hal yang sebenarnya ingin kukatakan. Aku tahu selama ini aku selalu diperkenalkan sebagai anak yang tinggal di rumah, sementara Evelyn adalah putri keluarga Celeste. Aku tidak ingin lagi berpura-pura bahwa keadaan itu tidak menyakitiku.
'Aku anak Ayah juga. Aku tidak meminta Ayah menghapus masa lalu atau menggantikan Ibu Evelyn. Aku hanya ingin mendapat tempat yang seharusnya menjadi milikku. Aku ingin diakui sebagai putri Ayah dan mendapat bagian yang adil dalam perusahaan yang dibangun keluarga ini.
'Daniel mengerti perasaanku. Ia bilang selama Evelyn mengendalikan saham, aku akan selalu dianggap orang luar. Kami sudah lama dekat, lebih dekat daripada yang diketahui orang-orang. Hubungan kami bukan kesalahan yang bisa diselesaikan dengan menyuruhku menjauh. Daniel memilihku, dan aku memilihnya.
'Kami juga sudah membicarakan cara agar perusahaan tidak terus berada di bawah kendali Evelyn. Jika saham dan wewenang dibagi ulang, aku bisa ikut memimpin dan memastikan semuanya berjalan adil. Aku ingin Ayah menyetujui rencana itu sebelum terlambat. Jangan anggap ini ancaman. Aku hanya lelah menunggu orang lain menentukan tempatku.'
Andrew membaca sampai akhir, kemudian kembali ke baris pertama. Kata-kata itu tidak lagi menyisakan ruang untuk menganggap kedekatan Emma dan Daniel sekadar urusan pekerjaan. Jemarinya berhenti di atas layar. Ia membuka bagian percakapan sebelumnya, mencari penjelasan yang mungkin membuat pesan itu terdengar berbeda.
Tidak ada.
Ia membaca kalimat tentang pengakuan sebagai putri sekali lagi. Selama bertahun-tahun, Andrew menahan kebenaran karena takut Evelyn akan merasa dikhianati. Ia berharap, saat waktunya tepat, ia bisa menjelaskan tanpa membuat salah satu anaknya merasa kehilangan tempat. Kini Emma sendiri meminta tempat itu dibuktikan melalui perusahaan.
'Kenapa harus begini?' gumamnya.
Ia menulis balasan: 'Kita harus membicarakan ini langsung. Jangan membuat keputusan tentang saham bersama Daniel tanpa melalui prosedur.' Andrew menatap kalimat itu. Terlalu keras, pikirnya. Ia menghapus bagian terakhir dan menggantinya dengan ajakan untuk bertemu. Sebelum mengirim, ia berhenti lagi. Ia belum tahu apakah Emma sedang meminta pengakuan, menuntut bagian, atau menguji apakah ia akan memilih salah satu putrinya.
Ponsel itu bergetar dengan panggilan masuk dari Evelyn, tetapi Andrew tidak segera melihatnya. Layar yang berubah membuatnya kehilangan fokus. Ia menaruh telepon, berniat menenangkan diri lebih dulu, tetapi rasa berat di dadanya dan pusing yang datang membuatnya membatalkan niat membalas pesan. Ia bersandar di kursi dan menarik napas perlahan.
Ia mencoba menelepon Emma. Panggilan berdering beberapa kali, lalu masuk ke pesan suara. Andrew menaruh ponsel dan menatap foto keluarganya yang berada di sudut meja. Ia telah menyimpan rahasia kelahiran Emma bertahun-tahun karena takut kehilangan Evelyn. Sekarang, putrinya yang lain bicara tentang tempat dan hak seolah-olah seluruh kasih sayangnya harus dibuktikan dengan menyerahkan kendali perusahaan.
Andrew berdiri untuk mengambil air. Ruangan terasa berputar sesaat. Ia berpegangan pada tepi meja dan memejamkan mata, menunggu pusing itu reda. Pesan Emma masih menyala di layar, dengan nama Daniel di dalamnya dan tuntutan tentang saham yang belum pernah Andrew dengar secara langsung.
Ia meraih telepon lagi, berniat memanggil Bu Rini. Namun, tangannya terasa lemah. Gelas yang disentuhnya tergelincir dan jatuh ke karpet. Andrew berusaha duduk, tetapi lututnya menyerah. Tubuhnya merosot di samping meja sementara pesan Emma tetap terbuka di layar.