Hari kelima, Evelyn tiba di ruang makan lebih awal. Andrew sudah duduk di kursinya, tetapi sarapannya hampir tidak tersentuh. Bu Rini meletakkan semangkuk bubur hangat di hadapannya dan mengingatkan agar ia makan perlahan. Andrew tersenyum tipis, namun wajahnya tampak pucat.
'Ayah tidur nyenyak?' tanya Evelyn sambil duduk.
'Lumayan.' Andrew mengaduk bubur tanpa mengambil suapan. 'Kamu bagaimana?'
'Aku baik. Tapi Ayah kelihatan gelisah.'
'Mungkin hanya kurang tidur.'
Evelyn menatapnya lebih teliti. Ia tidak ingin menakut-nakuti ayahnya, tetapi tidak akan mengabaikan perubahan yang terlihat. 'Apa ada yang membuat Ayah kepikiran?'
Andrew menarik napas dan mengangkat sendok. Ia memaksa dirinya makan sedikit. 'Aku hanya memikirkan beberapa urusan keluarga.'
'Urusan apa?'
'Tidak ada yang perlu kamu cemaskan.'
'Ayah tahu dokter meminta Ayah menghindari tekanan. Kalau ada sesuatu yang mengganggu, lebih baik kita bicarakan.'
Andrew meletakkan sendok. 'Emma datang menemuiku kemarin.'
Evelyn menahan gerak tangannya. 'Apa yang dia bicarakan?'
'Dia bertanya apakah dia punya tempat di keluarga ini. Dia merasa selalu dibicarakan belakangan.'
'Apa Ayah menjawabnya?'
'Aku bilang dia bagian dari keluarga. Tapi dia bertanya soal haknya untuk didengar dan mengetahui keputusan yang menyangkut masa depan.'
Evelyn tidak langsung memberi penilaian. Ia teringat pengakuan ayahnya tentang hubungan darah Emma, tetapi juga ingat bahwa Emma belum mengetahui bahwa Evelyn sudah tahu. Ia tidak akan membuka rahasia itu di meja sarapan.
'Apa Ayah merasa Emma menuntut sesuatu?' tanyanya.
'Dia bilang tidak menuntut.' Andrew mengusap sisi cangkir. 'Tapi ia ingin aku memikirkan haknya sebagai anak dan tempatnya dalam keluarga.'
'Bagaimana Ayah menjawab?'
'Aku bilang dia berhak didengar.'
'Itu benar. Tapi Ayah tidak perlu menjanjikan sesuatu hanya karena merasa bersalah.'
Andrew menatapnya. 'Kamu pikir aku merasa bersalah?'
Evelyn berhenti sejenak. 'Aku tidak tahu. Aku hanya melihat Ayah pucat dan tidak tenang.'
Andrew menunduk ke mangkuk. 'Aku tidak mau kalian saling menyakiti.'
'Aku juga tidak. Tapi kita tidak bisa menjaga perasaan semua orang dengan menghindari pembicaraan.'
Bu Rini menaruh teko air hangat, lalu berhenti ketika melihat Andrew belum menghabiskan sarapannya. 'Pak Andrew, sedikit lagi saja. Nanti obatnya diminum setelah makan.'
Andrew mengangguk dan mencoba tersenyum. 'Baik, Bu Rini.'
Evelyn tidak bertanya lebih jauh saat itu. Ia menunggu ayahnya menghabiskan beberapa suap, lalu mengambil piringnya sendiri. Kekhawatirannya belum hilang, tetapi ia tahu tekanan tambahan tidak akan membantu.
***
Andrew mengangkat sendok lagi, tetapi tangannya tampak kaku.
Evelyn meletakkan tangannya di meja, tidak menyentuh ayahnya. 'Ayah tidak harus menyelesaikan semua pertanyaan Emma pagi ini. Tapi jangan menanggungnya sendirian sampai kesehatan Ayah terganggu.'
'Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya tanpa menyakiti salah satu dari kalian.'
'Ayah bisa mendengarkannya tanpa menjanjikan sesuatu yang belum Ayah putuskan.'
Andrew memandang Evelyn. 'Kamu tidak marah karena dia mengatakan itu?'
'Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Tapi aku juga ingin Ayah jujur pada dirinya sendiri. Hak untuk didengar tidak sama dengan hak untuk mengambil keputusan orang lain.'
Andrew memejamkan mata sebentar. 'Aku tahu.'
'Kita bisa bicara lagi setelah Ayah beristirahat. Sekarang makan dulu, lalu ikuti saran dokter.'
Andrew mengangguk kecil dan mengambil beberapa suap. Warna wajahnya belum sepenuhnya pulih. Evelyn tidak mendesaknya tentang rahasia keluarga atau perusahaan. Ia hanya meminta Bu Rini memastikan ayahnya beristirahat setelah sarapan.
'Apa kamu akan bertemu Emma hari ini?' tanya Andrew.
'Kalau dia ingin bicara denganku, aku akan mendengarkan. Tapi aku tidak akan berpura-pura tahu lebih banyak daripada yang sudah dia ceritakan.'
Andrew memandang mangkuknya. 'Aku harap kalian bisa tetap bicara sebagai saudara.'
'Aku juga berharap begitu. Tapi hubungan saudara tidak membuat kami harus sepakat dalam segala hal.'
'Aku tahu.'
'Kalau Emma ingin membicarakan sesuatu, biarkan dia mengatakannya langsung. Ayah tidak perlu menebak-nebak atau membuat janji sebelum tahu apa yang ia inginkan.'
Andrew mengusap keningnya. 'Aku akan mencoba.'
'Setelah sarapan, Ayah istirahat. Jangan paksakan diri ke kantor.'
'Jangan membuat semua orang berhenti bekerja karena aku.'
'Aku tidak meminta semua orang berhenti. Aku hanya memastikan Ayah tidak memaksakan diri.'
Andrew tersenyum tipis. 'Kamu semakin mirip ibumu kalau sedang khawatir.'
'Ayah juga makin sering memakai kalimat itu supaya aku tidak bertanya lagi.'
Andrew tertawa kecil, lalu batuk pelan. Bu Rini segera menyodorkan air. Evelyn menunggu sampai napasnya kembali teratur. Evelyn tidak mencoba menentukan sendiri arti gejalanya. Setelah memastikan petunjuk layanan kesehatan malam sebelumnya tetap diikuti, ia meminta ayahnya duduk lebih lama sebelum kembali ke ruang kerja.
Evelyn menunggu sampai Andrew menghabiskan sarapan dan meminum obatnya. Saat ia berdiri untuk kembali bekerja, ia melihat wajah ayahnya masih pucat. Ia belum tahu apakah Emma hanya meminta pengakuan sebagai anak atau sedang menyiapkan tuntutan lain. Namun untuk saat ini, Andrew tetap di rumah dan masih bisa diajak bicara.
'Ayah istirahat dulu,' kata Evelyn. 'Jangan paksakan diri ke kantor.'
'Aku akan beristirahat.'
Evelyn berjalan keluar ruang makan. Di belakangnya, Andrew memanggil namanya, tetapi ketika ia menoleh, ayahnya tampak ragu untuk meneruskan kalimat.
'Nanti kita bicara,' ujar Andrew.
'Baik, Ayah.'
Ia melangkah pergi tanpa mendesak. Wajah pucat dan kegelisahan ayahnya tetap terbawa bersamanya menuju kantor.
Di sepanjang perjalanan, ia mengingat jeda Andrew sebelum mengucapkan bahwa mereka akan bicara nanti. Ia tidak tahu apakah ayahnya menahan rahasia atau hanya belum menemukan kata-kata. Ia mengirim pesan singkat kepada Bu Rini agar memastikan Andrew beristirahat setelah ia pulang dari ruang makan.
Bu Rini membalas bahwa ia akan mengawasinya. Evelyn juga memberi tahu Edwin bahwa Andrew beristirahat di rumah. Berkas yang membutuhkan perhatian hari itu diminta disampaikan melalui sekretariat, agar ayahnya tidak terus menerima panggilan kerja. Evelyn menyimpan ponsel dan tidak menghubungi Emma. Ia tidak ingin membalas tekanan dengan mengorek percakapan mereka. Jika Emma benar-benar ingin didengar, ia harus berbicara langsung tanpa membuat ayah mereka menanggung semua ketegangan sendirian.