Pada hari keempat sejak pembicaraan penataan arsip, Emma datang ke ruang kerja Andrew di rumah menjelang berakhirnya jam kerja. Pagi tadi ia sudah sarapan bersama Andrew dan Evelyn sesuai janji. Mereka hanya membahas kondisi Andrew dan agenda sehari-hari; pertanyaan yang lebih berat masih ditahan Emma sampai ia dapat berbicara berdua dengan ayahnya. Ia tidak membawa dokumen perusahaan. Ia hanya membawa secangkir teh dan duduk di kursi dekat meja, seolah kunjungannya sekadar percakapan keluarga.
'Ayah kelihatan lebih sehat,' katanya.
Andrew meletakkan pena. 'Dokter menyuruhku beristirahat dan menjaga pola makan. Bu Rini memastikan aku tidak mengabaikannya.'
'Bagus. Aku senang Ayah dijaga.' Emma menaruh cangkirnya. 'Evelyn memang selalu pandai membuat Ayah memperhatikannya.'
Andrew menatapnya. 'Evelyn putriku. Wajar kalau aku memperhatikannya.'
'Aku tahu.' Emma tersenyum, tetapi jemarinya mengusap tepi cangkir. 'Aku tidak mengatakan Ayah harus memilih salah satu. Aku hanya kadang bertanya-tanya, apa artinya menjadi anak Ayah kalau semua hal penting selalu dibicarakan dengan Evelyn.'
Andrew terdiam. Ia memandang Emma dengan raut yang sulit dibaca. 'Kamu juga bagian dari keluarga ini.'
'Bagian yang diakui atau bagian yang hanya boleh datang saat suasana hati Ayah baik?'
'Emma, aku tidak ingin kamu merasa seperti itu.'
'Aku tidak sedang menuntut apa pun. Aku cuma ingin tahu apakah aku punya hak untuk meminta tempatku sendiri.'
'Tempatmu tidak ditentukan oleh apa yang kamu minta.'
'Tapi keputusan perusahaan dan keluarga akan selalu mengikuti Evelyn.' Emma menunduk. 'Aku tidak ingin terus dianggap tamu di rumah yang seharusnya juga menjadi rumahku.'
Emma mengusap sudut matanya, meski tidak ada air mata yang jatuh. 'Aku tidak meminta Ayah mengubah apa pun hari ini. Aku hanya tidak ingin keputusan tentang keluarga dibuat seolah aku tidak ada.'
Andrew menarik napas perlahan. 'Keputusan apa yang kamu maksud?'
'Aku tidak tahu. Mungkin soal perusahaan, mungkin soal rumah ini. Aku hanya ingin suatu saat Ayah mengingat bahwa aku juga anak Ayah.'
'Aku tidak pernah lupa.'
'Kalau begitu, beri aku kesempatan untuk didengar sebelum semua orang menentukan masa depanku.'
Andrew memandangnya dengan wajah semakin serius. 'Kamu punya hak untuk bicara. Tapi bukan berarti setiap permintaan harus dipenuhi.'
'Aku tahu. Aku tidak meminta jaminan.' Emma membetulkan posisi tasnya. 'Aku hanya ingin Ayah tidak menganggap pertanyaanku sebagai ancaman.'
'Aku tidak menganggapnya begitu.'
'Ayah tampak tegang.'
'Aku lelah saja.'
Emma menunduk. 'Kalau begitu, aku tidak akan lama-lama. Tapi aku berharap Ayah memikirkan apa yang kukatakan.'
Andrew tidak menjawab. Emma menggeser cangkir yang dibawakannya ke dekat Andrew. Teh itu belum disentuh ayahnya. Ia tidak menyebut saham secara langsung. Ia berbicara tentang hak sebagai anak dan tempatnya dalam keluarga, membiarkan Andrew menghubungkan sendiri antara pengakuan keluarga dan keputusan perusahaan.
***
Sebelum keluar, Emma berhenti di dekat pintu. 'Ayah jangan merasa harus selalu melindungi Evelyn dari semua hal. Aku juga bisa membantu keluarga.'
Andrew mengangkat wajah. 'Aku tidak pernah mengatakan kamu tidak bisa membantu.'
'Tapi ketika keputusan dibuat, aku tidak pernah tahu sampai semuanya selesai.'
'Ada hal-hal yang sedang diurus.'
'Kalau begitu, beri tahu aku saat ada sesuatu yang menyangkut masa depan keluarga.'
Andrew tidak menjawab. Emma menunggu satu detik lagi, lalu keluar dengan ekspresi kecewa yang terkendali. Ia tidak mengancam, tidak menuntut saham, dan tidak mengucapkan nama Daniel. Ia hanya menanamkan pertanyaan tentang hak dan tempatnya di keluarga.
Andrew tetap duduk setelah pintu tertutup. Ia memegang dada sebentar, bukan karena nyeri tajam, melainkan karena napasnya terasa pendek dan pikirannya berlari. Ia teringat janji kepada Evelyn untuk menjaga kesehatannya. Ia berdiri perlahan, membuka jendela, lalu duduk kembali sampai rasa gelisahnya mereda.
Ia memanggil Bu Rini dan menyampaikan keluhan yang dirasakannya. Bu Rini membantunya menghubungi bantuan kesehatan sesuai arahan tertulis yang diterima Andrew. Sesudah keluhan dinilai dan petunjuk untuk malam itu diberikan, Andrew memberi kabar singkat kepada Evelyn. Ia tidak menceritakan percakapan keluarga secara panjang, tetapi tidak lagi menyembunyikan bahwa tubuhnya memerlukan perhatian. Namun sepanjang malam, kata-kata Emma terus kembali: apakah ia punya hak untuk meminta tempatnya sendiri?
Setelah memberi kabar tentang kondisi tubuhnya, Andrew membuka lagi percakapan dengan Evelyn, ragu apakah akan sekaligus membahas kata-kata Emma, lalu mengunci layar kembali. Ia ingin meminta pendapat putrinya, tetapi khawatir percakapan itu akan berubah menjadi pilihan antara dua anak. Ia tidak ingin Evelyn merasa harus memihak atau mengungkap bahwa ia telah mengetahui rahasia keluarga.
Ia juga tidak ingin terus membiarkan Emma memahami diamnya sebagai penolakan. Emma berhak mendengar jawaban yang jujur, tetapi Andrew belum tahu bagaimana menjelaskan masa lalu tanpa membuatnya merasa bahwa hidupnya dibangun dari rahasia orang lain.
Ia menaruh ponsel di meja dan mengambil gelas air. Tangan kanannya sedikit gemetar, lalu kembali tenang setelah ia duduk dan menarik napas pelan. Ia teringat saran dokter untuk tidak membiarkan tekanan menumpuk. Besok ia akan berbicara dengan Evelyn, tetapi ia tidak akan memaksa dirinya mengambil keputusan malam ini. Sebelum mematikan lampu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan rasa takut menentukan kata-kata yang harus ia ucapkan.
Bu Rini datang untuk mengambil cangkir teh yang belum disentuh. 'Bapak belum makan sejak siang.'
Andrew menoleh ke meja. 'Aku tidak terlalu lapar.'
'Bapak harus mengikuti saran dokter. Sedikit sup saja.'
'Aku akan makan nanti.'
Bu Rini tidak mendesak. Ia meletakkan nampan kecil dan duduk sebentar di kursi seberang. 'Apa percakapan dengan Nona Emma membuat Bapak kepikiran?'
Andrew menatapnya. 'Apa kamu tahu apa yang ia rasakan?'
'Saya tidak berani menebak. Saya hanya tahu ia sering ingin didengar.'
'Aku takut kejujuran akan membuatnya membenci dirinya sendiri.'
'Kadang orang lebih terluka kalau semua orang bicara di sekelilingnya tetapi tidak pernah bicara langsung kepadanya.'
Andrew menunduk. Ia tahu Bu Rini benar, tetapi ia tidak bisa begitu saja membuka rahasia yang sudah lama ia simpan. Ia harus memilih kata-kata dan waktu yang tepat, terutama karena Evelyn pun masih berusaha menerima kenyataan itu.
'Aku akan mencari cara untuk bicara,' katanya.
'Kalau begitu, malam ini istirahat dulu. Bapak tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang.'
Andrew meminum air hangat dan akhirnya mengambil sedikit sup. Bu Rini menunggu sampai ia makan beberapa suap sebelum membawa nampannya kembali. Setelah sendirian, Andrew mematikan lampu ruang kerja dan berjalan pelan menuju kamarnya. Pertanyaan Emma belum terjawab, tetapi ia tahu ia tidak bisa terus menundanya.