Hari ketiga, Edwin melaporkan bahwa ruang arsip lantai 17 masih dalam proses penataan. Beberapa map tidak memiliki nomor inventaris yang lengkap, sehingga ia menahan pemindahan sampai bagian terkait mengonfirmasi asalnya. Daniel menganggap itu berlebihan, tetapi tidak lagi memaksa.
'Apakah daftar yang dibawa kemarin sudah diserahkan?' tanya Evelyn.
'Sudah. Saya menandai map yang belum cocok dan memisahkannya untuk pemeriksaan.'
'Ada yang meminta map itu dipindahkan?'
'Daniel meminta prosesnya dipercepat, tetapi tidak mengajukan daftar baru.'
'Apa kamu menjelaskan bahwa pemeriksaan harus selesai dulu?'
'Ya. Saya tidak menolak penataan, hanya meminta pencatatan lengkap.'
Evelyn memeriksa daftar yang disodorkan Edwin. Beberapa nomor berkas memang sudah lama, tetapi tidak satu pun terkait dengan catatan akses yang diterimanya. 'Jangan biarkan daftar ini bercampur dengan berkas saham. Simpan sesuai kategori.'
'Saya sudah membuat salinan inventaris.'
'Pastikan salinan itu mengikuti versi yang sama. Kalau ada perubahan, catat tanggalnya.'
Edwin mencatat arahan itu. Ia tidak bertanya mengapa Evelyn begitu teliti. Ia sudah paham bahwa dokumen lama kadang menjadi penting justru ketika orang mengira tak ada yang akan mencarinya.
'Apakah ada yang meminta log lama secara khusus?' tanya Evelyn.
'Tidak secara tertulis. Daniel mengatakan ruangan perlu dibersihkan, tetapi belum ada daftar yang menyebut log tertentu.'
'Jangan menyimpulkan bahwa ia mencari catatan itu.'
'Saya tidak menyimpulkan. Saya mencatat permintaan penataan dan pekerjaan yang dilakukan.'
'Bagus. Tetap begitu.'
Edwin menyerahkan daftar berkas yang sudah dipindahkan ke meja pemeriksaan. Evelyn mencocokkan nomor yang berkaitan dengan administrasi saham. Catatan akses yang ia simpan tidak termasuk berkas yang dipindahkan, tetapi salinan resmi perusahaan masih berada dalam penyimpanan sesuai prosedur.
'Kalau ada dokumen yang tidak ditemukan, beri tahu saya dan bagian administrasi,' katanya. 'Jangan mengganti daftar dengan perkiraan.'
'Saya akan meminta verifikasi tertulis.'
Evelyn menutup map. 'Salinan yang saya miliki berada di luar kantor. Jadi tidak perlu terburu-buru. Kita tetap menjaga arsip yang resmi.'
Ia meminta Edwin menuliskan lokasi penyimpanan resmi dalam daftar inventaris, bukan lokasi salinan pribadinya. 'Tidak perlu mencatat tempat salinan saya. Catat hanya berkas perusahaan yang berada di bawah tanggung jawabmu.'
'Baik. Saya akan membedakan keduanya.'
Evelyn merasa tenang karena batas itu jelas. Salinan pribadinya melindungi informasi yang ia terima, sementara arsip kantor tetap dikelola sesuai aturan perusahaan.
Edwin tampak sedikit lega. 'Saya hanya ingin memastikan kalau ada pemeriksaan, tidak ada yang mengira kita sengaja menyembunyikan dokumen.'
'Kita tidak menyembunyikan dokumen. Kita menjaga salinan dan mencatat siapa yang mengaksesnya.'
'Saya paham.'
'Kalau daftar inventaris menemukan kekurangan, laporkan apa adanya. Jangan menulis bahwa berkas dihapus jika kita belum tahu. Bisa jadi hanya tersimpan di tempat yang salah.'
Edwin mengambil kembali daftar tersebut. 'Saya akan memakai istilah berkas belum ditemukan sampai pemeriksaan selesai.'
Evelyn mengangguk. Ia menghargai kehati-hatiannya. Terlalu mudah mengubah kecurigaan menjadi tuduhan, terutama ketika Daniel dan Emma berada di tengah persoalan. Ia ingin semua catatan dapat dibaca siapa pun tanpa perlu menebak maksud penulisnya.
Setelah Edwin pergi, Evelyn mengirim pesan kepada tim administrasi bahwa pemindahan arsip harus disertai daftar yang disetujui. Ia tidak menyebut nama Daniel atau Emma. Pesannya singkat dan berlaku untuk semua orang. Dengan begitu, prosedur tidak terlihat dibuat khusus untuk menghalangi satu pihak.
Ia membuka salinan kerja kantor yang tetap disimpan pada laci terkunci. Salinan cadangan di luar kantor tidak dibawanya ke pertemuan ini. Nomor dan tanggalnya cocok dengan catatan pada map pribadinya. Ia memasukkannya kembali dan mengunci laci. Tidak ada perubahan yang bisa ia lihat; ia tidak akan mengarang ancaman yang belum terbukti.
***
Sore hari, Evelyn menyelesaikan pekerjaan di kantor dan bersiap pulang. Ia tidak memasukkan salinan kerja log ke dalam tasnya. Catatan resmi tetap berada dalam pengelolaan pemeriksa dan Edwin, sedangkan salinan cadangan pribadi yang diperbolehkan untuknya masih tersimpan aman di rumah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Emma menanyakan apakah ia akan sarapan bersama Andrew esok hari. Evelyn menjawab bahwa ia akan berada di rumah pada pagi hari. Emma membalas dengan tanda persetujuan singkat.
Evelyn membaca pesan itu sekali lagi. Ia tidak tahu apakah Emma sungguh ingin berbicara dengan ayah mereka atau hanya ingin memastikan ia ada di sana. Ia tidak akan membangun kesimpulan dari satu pesan. Ia meletakkan ponsel di meja dan menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum pulang.
Ponselnya bergetar lagi. Andrew menelepon sebelum ia sempat melanjutkan pekerjaan.
'Kamu pulang tepat waktu hari ini?'
'Ya, Ayah. Edwin sedang menata arsip, jadi aku menyelesaikan pekerjaan lebih awal.'
'Arsip apa?'
'Berkas lama di lantai 17. Ada permintaan untuk merapikannya, tapi semua tetap dicatat.'
Andrew terdiam sebentar. 'Jangan biarkan pekerjaan itu membuatmu terlalu lelah.'
'Aku tidak lelah. Aku hanya ingin memastikan catatannya tetap utuh.'
'Baik. Besok kita sarapan bersama.'
'Emma juga ikut?'
'Dia menanyakan apakah kita bisa berkumpul.'
Evelyn menahan rasa ingin tahu. Ia tidak ingin mengorek percakapan yang belum terjadi. 'Baik. Aku akan datang.'
'Kalau Emma membicarakan sesuatu yang berat, jangan langsung merasa harus menjawab saat itu juga,' kata Andrew. 'Aku ingin sarapan bersama kalian, bukan membuat kalian berdebat.'
'Aku tidak akan memancing pertengkaran. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak mendengar kalau dia bicara tentang haknya.'
Andrew terdiam sejenak. 'Aku tahu. Aku hanya berharap kita semua bisa tenang.'
'Aku akan berusaha, Ayah.' Evelyn menatap ponsel yang menampilkan nama ayahnya. 'Ayah juga harus mengikuti arahan dokter dan jadwal obat yang tercantum pada daftar pribadi Ayah.'
'Baik, Bu Manajer.' Ia mencoba bercanda, namun suaranya belum sepenuhnya ringan.
Andrew meminta Evelyn tidak pulang terlalu malam, lalu mengakhiri panggilan. Ia tidak menjelaskan mengapa ia terdengar cemas. Evelyn menyimpan ponsel dan menuliskan jadwal sarapan di kalender. Ia akan memberi Emma kesempatan untuk bicara, tetapi tetap mengingatkan ayahnya agar tidak mengabaikan kesehatannya.
Sesudah panggilan selesai, Evelyn pulang. Di ruang kerja rumah, ia memeriksa tempat penyimpanan salinan cadangannya dan memastikan nomor permohonan cocok dengan catatan penerimaan. Ia tidak membawanya kembali ke kantor. Bu Rini mengingatkan bahwa sarapan bersama Andrew dan Emma telah disepakati untuk esok pagi. Evelyn mengonfirmasi, lalu menyimpan ponsel agar malam itu tidak habis untuk membaca ulang pesan yang sama.