Pagi setelah rapat dewan menahan penilaian kerja sama, Evelyn menerima kabar bahwa Edwin sedang mencari salinan daftar dokumen untuk pemeriksaan internal. Ia tidak menganggapnya aneh. Edwin memang mencatat setiap berkas yang ia serahkan, terutama yang berkaitan dengan administrasi saham. Namun ia tidak tahu bahwa dari ujung lorong, Emma memperhatikan sekretaris itu keluar dari ruang penyimpanan dengan map tertutup.
Emma menunggu sampai Edwin melewati pintu lift. Kemudian ia masuk ke area administrasi dan bertanya kepada seorang staf apakah Edwin baru saja membawa dokumen lama.
Ia tidak bertanya terlalu banyak. Satu pertanyaan tambahan bisa terdengar seperti pemeriksaan dan membuat orang curiga. Emma hanya memastikan Edwin memang menuju bagian penyimpanan, lalu kembali ke mejanya dengan wajah biasa. Ia tidak tahu apa isi map itu, tetapi ia mengenali cara Edwin menjaganya tetap tertutup.
Beberapa hari terakhir, sekretaris Andrew tampak makin sering mencatat siapa yang meminta berkas. Emma pernah menganggap kebiasaan itu sebagai bentuk kehati-hatian. Sekarang ia bertanya-tanya apakah Edwin sedang mengumpulkan sesuatu untuk Evelyn. Ia mengingat penolakan Evelyn menandatangani dokumen saham dan bagaimana Daniel mendadak gelisah setelah permintaan administrasi dikirim.
Ia tidak memiliki bukti bahwa Edwin menyimpan catatan yang merugikan mereka. Namun ketidakpastian itu membuatnya sulit berkonsentrasi. Jika Edwin hanya menjalankan tugas, merapikan arsip tidak akan menimbulkan masalah. Jika ia memang menyimpan salinan, Emma ingin tahu sebelum Evelyn menggunakannya.
'Saya tidak tahu isinya,' jawab staf itu. 'Dia hanya bilang perlu mencocokkan nomor berkas.'
'Ruang arsip mana?'
'Arsip lantai 17. Katanya dokumennya sudah lama tidak dibuka.'
Emma mengucapkan terima kasih lalu kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu dan memanggil Daniel.
'Kamu memperhatikan Edwin belakangan ini?' tanyanya begitu Daniel masuk.
'Tidak secara khusus. Kenapa?'
'Dia sering mengambil map dari arsip lama. Tadi aku melihatnya membawa satu lagi.'
Daniel mengerutkan dahi. 'Mungkin pekerjaan rutin.'
'Mungkin. Tapi sejak Evelyn menolak menandatangani dokumen, Edwin jadi lebih sibuk mencatat semua hal.'
'Kamu pikir dia menyimpan sesuatu?'
'Aku tidak tahu. Tapi dia sekretaris Ayah. Kalau ada catatan yang bisa membuat kita tampak buruk, Evelyn pasti akan mendapatkannya.'
Daniel duduk di hadapannya. 'Kita belum tahu apa yang dia pegang.'
'Itulah sebabnya aku ingin tahu. Jangan membuat keributan. Cari tahu berkas apa saja yang ada di ruang arsip lantai 17.'
'Kalau aku tanya langsung, dia akan curiga.'
'Jangan tanya. Buat saja alasan untuk merapikan ruangan itu. Banyak map lama yang seharusnya sudah dipindahkan.'
Daniel menatap Emma. 'Kamu ingin aku membersihkan arsip?'
'Aku ingin tahu apakah ada dokumen lama yang tertinggal dan siapa yang punya salinannya. Kamu bisa bilang ruang itu perlu dirapikan sebelum pemeriksaan inventaris.'
'Kalau Edwin menolak?'
'Kamu bagian dari perusahaan. Kamu berhak meminta ruangan itu dirapikan.' Emma menjaga suaranya halus, tetapi tatapannya keras. 'Jangan menyentuh dokumen yang sedang dipakai. Aku hanya ingin berkas lama yang tidak diperlukan disingkirkan.'
Daniel tidak langsung menjawab. Ia memikirkan Edwin, yang selama ini jarang ikut campur urusan keluarga. 'Aku akan lihat dulu.'
'Lihat dengan teliti.'
***
Siang itu, Evelyn bertemu Edwin untuk memeriksa catatan yang sebelumnya ia terima. Ia tidak membawa lembar itu ke ruang kerja terbuka. Mereka duduk di ruangan kecil yang biasa dipakai untuk meninjau dokumen internal.
'Apakah ada perubahan sejak saya memberikan salinan?' tanya Edwin.
'Tidak. Saya menyimpannya terpisah dan tidak membagikannya.'
'Saya juga menyimpan salinan resmi sesuai prosedur. Belum ada permintaan untuk mengubah catatan.'
Evelyn mengunci mapnya. 'Kalau ada yang meminta berkas lama, catat permintaan dan tujuan penggunaannya. Jangan menghalangi pekerjaan siapa pun, tapi pastikan daftar dokumen tetap lengkap.'
Edwin mengangguk. 'Saya akan mencatatnya.'
'Jangan membuat kesimpulan tentang siapa yang meminta sebelum ada permintaan resmi.'
'Saya mengerti.'
Evelyn memeriksa catatan yang ia simpan sendiri. Salinannya sama dengan yang dibawa Edwin. Ia telah membuat salinan kedua di tempat aman yang tidak berada di kantor dan hanya dirinya yang dapat mengaksesnya. Jika berkas kantor hilang, catatan itu tidak ikut lenyap.
'Saya sudah menyimpan salinan pribadi di tempat lain,' katanya. 'Kalau ada perubahan di arsip, catat saja faktanya.'
'Baik.' Edwin menatapnya. 'Apa ada yang memberi tahu Anda mengenai arsip lantai 17?'
'Belum. Kenapa?'
'Saya mendengar ada rencana merapikan beberapa map lama. Saya belum menerima permintaan tertulis.'
Evelyn tidak menunjukkan keterkejutan. 'Kalau permintaannya masuk, ikuti prosedur. Jangan menyerahkan catatan akses tanpa pencatatan.'
'Saya akan melakukannya.'
Evelyn menutup map dan berdiri. Ia belum tahu apa yang akan dilakukan Emma atau Daniel, tetapi kini ia paham mengapa Edwin melihat-lihat arsip. Ia tidak akan mengubah bukti atau menyembunyikan dokumen perusahaan. Ia hanya memastikan bahwa satu salinan yang penting tidak lagi bergantung pada satu lemari.
Sebelum berpisah, Edwin bertanya, 'Apakah Anda ingin saya memberi tahu kalau Daniel mengajukan permintaan resmi?'
'Ya. Kirimkan salinan permintaannya dan catat tanggalnya. Jangan menghentikan pekerjaan yang memang sudah disetujui.'
'Kalau permintaannya meminta berkas dipindahkan?'
'Minta daftar berkas dan pihak yang menyetujuinya. Kita tidak perlu menduga motif. Kita hanya perlu memastikan dokumen perusahaan tidak hilang tanpa jejak.'
Edwin mencatat instruksi itu di buku kerjanya. 'Saya akan melakukannya.'
Evelyn memeriksa sekali lagi map yang dibawanya. Salinan resmi Edwin berada pada map yang diperiksa bersama; Evelyn tidak membawa dokumen asli keluar dari penyimpanannya. Ia sengaja tidak membawa dokumen pribadi ke ruang yang sering dilewati staf. Salinan terpisah itu tersimpan di luar kantor, sedangkan salinan resmi tetap berada pada Edwin sesuai prosedur.
'Kamu sudah menyimpan salinannya di tempat aman?' tanya Edwin.
'Sudah. Kalau ruangan arsip berubah, bukti yang aku terima tidak ikut hilang.'
'Baik. Saya akan menjaga daftar resminya.'
Mereka kembali ke lorong pada waktu berbeda. Evelyn menuju ruangannya tanpa melewati area arsip. Ia tidak ingin seseorang melihat mereka berdua keluar membawa dokumen lalu menyusun cerita sendiri. Hari itu ia hanya akan menyelesaikan pekerjaan yang tercantum dalam agendanya.